Breaking News:

Parlemen Belanda Berdebat soal Larangan Pemakaian Penutup Kepala

Hanya beberapa ratus wanita Muslim Belanda menggunakan penutup kepala seperti nigab atau burqa.

Editor: Edy Yusmanto
Daily Mirror/Getty
Wanita berkerudung 

DEN HAAG - Parlemen Belanda, Rabu (23/11/2016), memperdebatkan rancangan undang-undang tentang larangan pemakaian penutup kepala di area publik khusus seperti sekolah, rumah sakit, dan angkutan umum.

Harian New York Times, melaporkan, salah satu politisi sayap tengah dari Partai D66, Fatma Koser Kaya menentang usul pembatasan terbatas itu.

Fatma mengatakan, legislasi seperti itu tidak perlu sebab sudah banyak institusi yang melarang orang mengenakan burqa, niqab, dan penutup kepala lainnya.

Perempuan anggota parlemen tersebut menyebut RUU sebagai "pembuatan UU simbolis".  

Hanya beberapa ratus wanita Muslim Belanda menggunakan penutup kepala seperti nigab atau burqa.

Namun, pemerintah terus ngotot mengeluarkan aturan untuk melarang penutup kepala, meski sudah banyak aturannya, mencontohi negara-negara Eropa lainnya seperti Perancis dan Belgia.

Menteri Dalam Negeri Ronald Plasterk mengatakan, usulan itu tidak berlaku luas dan tidak melarang total di seluruh negeri, kecuali di tempat terbatas seperti sekolah, rumah sakit, dan angkutan umum

Plasterk menyebutnya sebagai legislasi “religion-neutral", namun ia mengakui, debat tentang para pengguna burqa di jalan-jalan di Belanda merupakan isu paling dominan di dalam proposal itu.

Jika sebagaimana diduga RUU yang diusulkan itu disetujui Majelis Rendah Parlemen, RUU yang sama masih harus disetujui Majelis Tinggi sebelum menjadi UU.

Plasterk mengatakan, di negara bebas seperti di Belanda, orang-orang dibolehkan untuk tampil dengan wajah tertutup di depan umum, jika mereka mau.

Namun, kata Plasterk, jika mereka mau masuk gedung-gedung pemerintah, fasilitas kesehatan, dan pendidikan, seperti rumah sakit dan sekolah, orang harus tampil dengan wajah terbuka.

Anggota parlemen lainnya, Jacques Monasch, menyebut  burqa "simbol penindasan perempuan".

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved