Breaking News:

OJK Sebut Investasi Bodong Marak, Patut Anda Waspadai

Investasi tersebut menawarkan metode yang beragam, namun tetap saja tujuannya adalah memperoleh keuntungan dalam waktu sekejap.

THINKSTOCKPHOTOS
Ilustrasi. 

POSBELITUNG.COM, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat setidaknya ada 400 perusahaan investasi illegal alias investasi bodong di Indonesia.

Investasi tersebut menawarkan metode yang beragam, namun tetap saja tujuannya adalah memperoleh keuntungan dalam waktu sekejap.

Baca: Koleksi Foto Agnesya Kalangi, Si Cantik Istri Muda Korban Pembunuhan di Pulomas

Baca: Sosok Istri Kedua Dodi Triono dan Foto Keceriaan Bersama Zanette dan Dua Saudaranya

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Kusumaningtuti S Soetiono menjelaskan, investasi bodong paling marak dan sudah sampai tahap serius di Cirebon, Makassar, Bengkulu, dan Malang.

Adapun produk investasi bodong yang paling banyak adalah skema Ponzi.

“Ponzi scheme, bentuknya MLM (multilevel marketing, arisan. Artinya tidak ada usahanya tapi menghimpun dana dari masyarakat."

"Masih banyak yang beroperasi dan masyarakat masih banyak mengikuti program seperti itu,” jelas Kusumaningtuti pada acara konferensi pers akhir tahun 2016 di Jakarta, Jumat (30/12/2016).

Untuk menindak investasi bodong yang kian marak, OJK bekerja sama dengan Satgas Waspada Investasi.

Dalam portal investigasi, OJK dan Satgas Waspada Investasi sudah memasukkan setidaknya 60 investasi bodong yang jelas-jelas tidak memiliki izin dari OJK.

Kusumaningtuti mengungkapkan, dalam waktu dekat jumlah tersebut akan bertambah menjadi 80 investasi ilegal.

Baca: Pria Ini Ditolak Cintanya Karena Miskin, 10 Tahun Berlalu Wanita Itu Terdiam dan Malu

Baca: Sepak Terjang Ramlan Butar Butar, Otak Perampokan Sadis di Pulomas

Ia menjelaskan, setiap ada pengaduan masyarakat mengenai investasi bodong, maka OJK akan menginformasikannya kepada Satgas Waspada Investasi dan kemudian diklarifikasi dan diunggah ke portal.

Kusumaningtuti mengakui, kian maraknya investasi bodong di tengah-tengah masyarakat terjadi lantaran tingkat literasi keuangan yang belum memadai dan kemudahan akses keuangan yang masih minim.

Oleh sebab itu, OJK memberikan edukasi agar masyarakat tetap waspada namun juga mempermudah operasional investasi yang legal dan berizin.

“Enforcement (penegakan hukum) sekarang harus ditingkatkan. Penindakan supaya menimbulkan efek jera dan masyarakat jadi tahu dan hati-hati,” ungkap Kusumaningtuti.(Kompas.com/Sakina Rakhma Diah Setiawan)

Editor: Kamri
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved