Breaking News:

Kementerian ESDM Perketat Syarat Ekspor Hasil Tambang, Ini Penjelasannya

Nantinya pengusaha tambang yang memiliki predikat Kontrak Karya (KK) dan Izin Usaha Pertambangan (IUP) harus mengubah

Editor: Kamri
Kompas.com/Iwan Supriyatna
Menteri ESDM Ignasius Jonan 

POSBELITUNG.COM, JAKARTA -  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berusaha memperketat syarat ekspor untuk pengusaha tambang yang memiliki Izin Usaha Pertambangan dan Kontrak Karya.

Ketentuan itu dituangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2017

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menjelaskan, di PP tersebut tercantum perubahan ketentuan tentang cara ekspor untuk mineral logam.

Baca: Ditembak dan Dibacok Begal, Pria Ini Tak Luka Sedikitpun

Baca: Memiliki wajah Cantik Tapi Hidup Wanita Ini Menyedihkan

Baca: Ini Ternyata Hubungan Bupati Katingan dan Selingkuhannya Selama Sebulan

Baca: Merinding Bacanya, Postingan Mengharukan Pria Ini Untuk Istri Yang Telah Tiada

Baca: Mengharukan! Bocah Enam Tahun Berjuang Hidupi Ibu Yang Buta dan Saudaranya

Nantinya pengusaha tambang yang memiliki predikat Kontrak Karya (KK) dan Izin Usaha Pertambangan (IUP) harus mengubah menjadi IUP Khusus (IUPK terlebih dahulu untuk mendapatkan rekomendasi ekspor.

"Kalau tidak meminta izin ekspor konsentrat ya tidak usaha IUPK," ujar Jonan di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (12/1/2017).

Selain itu, dalam PP Nomor1 Tahun 2017 ada batasan waktu IUPK yang dapat izin rekomendasi ekspor selama lima tahun. Syarat berikutnya selama jangka waktu tersebut IUPK harus membangun pabrik pengolahan dan pemurnian bahan mineral (smelter).

Jonan menegaskan jika tidak ada progres pembangunan smelter, maka izin rekomendasi ekspor akan dicabut.

Setiap enam bulan akan ada tim pengawas independen yang memantau kinerja pembangunan smelter setiap IUPK.

"Kalau selama enam bulan tidak terbukti ada progres pembangunan smelter, ya dicoret izinnya," ungkap Jonan.

Dalam aturan PP Nomor1 Tahun 2017, hanya Nikel kadar rendah dibawah 1,7 (rendah) dan bauksit hasil pencucian yang boleh diekspor.

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved