Kulek Terakhir Part 2 - Penguasa Lautan dan Beragam Testimoni Tentang Ketangguhan Suku Sawang

Testimoni tentang ketangguhan Orang Laut di Pulau Belitung tidak usah disangsikan lagi. Sejumlah catatan dalam buku-buku kuno buatan Belanda menunjukk

Kulek Terakhir Part 2 - Penguasa Lautan dan Beragam Testimoni Tentang Ketangguhan Suku Sawang
LPMP Air Mata Air
Kulek Terakhir cover 

Dalam buku Sejarah Timah Indonesia, Orang-orang Perahu itu ditulis dengan istilah nama Orang Laut. Penyebutan Orang Laut ini merujuk pada penamaan yang berlaku di dalam masyarakat lokal. Terdapat pandangan umum tentang asal muasal kedatangan Orang Laut. Pandangan itu menyebutkan bangsa-bangsa Austronesia turun melalui sungai-sungai besar ke pantai.  Pandangan ini kemudian mengarahkan dugaan bahwa Orang Laut pada awalnya adalah orang-orang sungai. Hal ini merujuk pada catatan sejarah yang menyatakan bangsa-bangsa yang hidup di sekitar Laut Cina Selatan menamakan dirinya ’Putra-putra Sungai’. Maka dapat dilihat bahwa Orang Laut adalah sebuah komunitas yang mampu hidup dalam tiga lingkungan yang berbeda, yakni laut, sungai, dan daratan. Fisik yang kuat juga membuat Orang Laut begitu andal ketika masuk ke dalam dunia bawah air.

Kemampuan hidup di tiga lingkungan sekaligus membuat Orang Laut tampak secara alamai memiliki kemampuan bak atlet. Sebab pada umumnya mereka adalah para perenang yang mahir dan juga unggul sebagai penyelam. Mereka membuat perahunya dengan tangan sendiri, kemudian melengkapi diri dengan peralatan tangkap ikan dan senjata untuk berburu binatang.

Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, Orang Laut tak diragukan lagi adalah ’penguasa lautan’ yang sesungguhnya. Namun kekuatan yang dimilikinya itu tak lantas membuat Orang Laut jadi kaum yang agresif dan menjadi kelompok penakluk bagi suku lain di sekitarnya. Sebab sudah menjadi pendapat umum para peneliti dan penulis di seluruh dunia bahwa Orang Laut pada hakikatnya adalah komunitas yang cinta damai.

Secara umum Orang Laut di Indonesia tersebar di berbagai daerah seperti di perairan sekitar pulau Sumatera bagian timur, Kalimantan, Sulawesi, Flores. Catatan tentang sebaran Orang Laut ini dimuat dalam buku Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia Jilid L-Z karya M. Junus Melalatoa yang diterbitkan oleh  Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1995. Di berbagai kawasan perairan tersebut terdapat pula sub-kelompok Orang Laut yang disebut Orang Bajau atau Bajo, orang Muara, dan Orang Ameng Sewang.

Nama terakhir yakni Orang Ameng Sewang dalam buku itu disebut sebagai nama lain dari Orang Laut di Pulau Belitung. Menurut Junus, kelompok Orang Ameng Sewang bisa dijadikan salah satu contoh untuk mengenali pola kehidupan sosial budaya Orang Laut secara keseluruhan. Sebab Orang Laut Pulau Belitung dianggap sudah menghuni laut dan pulau-pulau kecil di sekitar pulau Bangka dan Belitung sejak berabad-abad lamanya. Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa Orang Laut di pulau Belitung adalah representasi dari komunitas Orang Laut di Indonesia. Orang Laut juga disebut-sebut oleh para ahli sebagai sisa turunan nenek moyang bangsa Indonesia. Karena itu mereka dinilai masuk dalam kategori Melayu Tua (Proto Melayu) dan bahasanya juga masih berdialek Melayu.

”Dilihat dari latar belakang asal usul mereka, para ahli mengkategorikan Orang Laut sebagai sisa turunan nenek moyang Bangsa Indonesia yang datang bermigrasi dari daratan Benua Asia sekitar 2500-1500 Sebelum Masehi,” M. Junus, (1995) hlm 459.

Penggunaan istilah ‘Orang Ameng Sewang’ sepertinya perlu dikaji lagi. Sebab, sejauh ini penulis tidak menemukan keterangan mengenai penggunaan nama tersebut dalam komunitas Orang Laut di pulau Belitung.

Satu refrensi yang bisa digunakan yakni lewat diktat terbitan Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung tahun 1987 yang berjudul ’Mengenal Kehidupan Adat Istiadat Suku Laut (Sawang) di Pulau Belitung’. Diktat tersebut ditulis oleh Asin Bahari, sesepuh Suku Laut di Pulau Belitung yang ternama karena berhasil menduduki posisi staf di Kantor Pusat perusahaan timah di Tanjungpandan.

Tampak jelas Asin Bahari di dalam paparannya tak sekalipun menggunakan kata Ameng Sewang. Nama yang digunakannya yakni, kalau tidak Suku Laut, Orang Laut, atau Sawang.

Sesepuh Suku Sawang Gatong Udin (76) mengatakan, kata Ameng dalam Bahasa Laut memiliki arti ’orang’ dan Sawang artinya laut1. Jadi Orang Laut bisa pula disebut Ameng Sawang. Sedangkan kata ’Sewang’ dalam Bahasa Laut memiliki arti ’uang 10 sen’. 

Halaman
123
Penulis: Wahyu Kurniawan
Editor: Wahyu Kurniawan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved