Kulek Terakhir Part 2 - Penguasa Lautan dan Beragam Testimoni Tentang Ketangguhan Suku Sawang

Testimoni tentang ketangguhan Orang Laut di Pulau Belitung tidak usah disangsikan lagi. Sejumlah catatan dalam buku-buku kuno buatan Belanda menunjukk

Kulek Terakhir Part 2 - Penguasa Lautan dan Beragam Testimoni Tentang Ketangguhan Suku Sawang
LPMP Air Mata Air
Kulek Terakhir cover 

1Wawancara, Selasa 16 Agustus 2016 sore di Kampong Laut, Desa Selingsing. Pada waktu yang sama, wawancara juga dihadiri oleh tiga sesepuh Suku Sawang Gantong yakni Kati, Tis, Maisina.

Dalam sejumlah literatur berbahasa Belanda juga tak pernah muncul kata ’Sewang’ sebagai nama dari komunitas Orang Laut di pulau Belitung. Setidaknya hal itu berlaku pada literatur terbitan abad ke-19 maupun awal abad ke-20 masehi.

Secara umum, asal usul Orang Laut di pulau Belitung belum diketahui secara pasti. Generasi tua seperti Asin Bahari bahkan hanya bisa membuat dugaan berdasarkan tradisi yang tampak pada Orang Laut di pulau Belitung.

”Sepanjang sejarah yang telah berjalan selama ini, belum ada yang dapat memastikan, dari mana sebenarnya asal usul orang-orang Suku Laut ini namun berdasarkan kenyataan yang melekat pada mereka mungkin sekali dahulunya berasal dari Kepulauan Sulu di Mindanau Filipina Selatan. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan dan adat istiadat serta tata cara hidup bentuk rupa yang mirip dengan suku bangsa yang mendiami pulau-pulau di lautan teduh tersebut,” Asin Bahari, 1987.

Dugaan Asin, Orang Laut keluar dari Kepulauan Sulu karena mengikuti instingnya sebagai suku pengembara di lautan. Jalur perpindahan mereka menelusuri teluk dan tanjung dari Brunei ke Kalimantan Utara kemudian terus menyebrang ke Semenanjung Malaysia.

Dari semenanjung Malaysia kemudian menyebar lagi ke pulau-pulau di Kepulauan Riau terus ke selatan sampai menuju Bangka dan Belitung. Dugaan Asin ini juga merujuk pada cerita yang mengatakan bahwa nenek moyang Orang Laut Belitung datang dari Johor Malaysia. Cerita itu dibalut dengan kisah perjuangan heroik melawan bangsa Eropa.

”Pada waktu Bangsa Portugis menyerang tanah Melayu, orang-orang laut turut berperang sebagai angkatan laut kerajaan Melayu pada saat itu. Mereka dipimpin oleh seorang Panglima kerajaan, melawan angkatan laut Portugis di perairan Malaya,” Asin Bahari, 1987.

Namun mereka menderita kekalahan sehingga terpisah dari para pimpinannya. Akibatnya orang-orang laut tercerai berai di lautan luas dan akhirnya menetap di pulau-pulau sekitar Malaysia dan Riau. Oleh Orang Laut di Belitung, mereka disebut dengan istilah Orang Lingga.

Pada sisi lain, terdapat pula cerita dengan versi yang berbeda. Namun kisahnya sama-sama berlatar kerajaan Melayu. Dikisahkan pada suatu ketika seorang Panglima Tanah Melayu telah membunuh  rajanya. Panglima tersebut dendam lantaran istrinya dipenggal oleh sang raja. Setelah membunuh raja, sang Panglima kemudian membawa Orang Laut menyingkir dari daratan. Panglima tersebut menjadikan Orang Laut sebagai laskarnya dan menyebrang ke arah selatan.

Dalam pelariannya itu, sang Panglima dan Orang Laut terpisah karena dihantam angin ribut. Sebagian mereka terdampar di sekitar Kepulauan Riau, Pulau Bangka, dan Belitung. Sejak itu Pulau Belitung dihuni oleh dua komunitas sosial yakni Orang Laut dan Orang Darat. Orang Laut bertahan hidup sebagai nelayan. Sedang Orang Darat yang oleh Belanda disebut dengan istilah Billitonezen memenuhi kebutuhan hidup secara berladang.

Kulek Terakhir
Gambar 1.2. Keterangan foto ini hanya ditulis ’Mendayung dengan  kaki’. Namun ada kemungkinan 2 nelayan dalam foto ini adalah Orang Laut karena perahu yang digunakan mereka mirip Kulek, perahu khas Suku Sawang yang biasa juga disebut Prauwok. Sumber: Gedenkboek Billiton, 1927.

Baca: Kulek Terakhir Part 1 - Sebuah Amanah Merawat Eksistensi Kehidupan Suku Sawang Gantong

Baca: Kulek Terakhir Part 2 - Penguasa Lautan dan Beragam Testimoni Tentang Ketangguhan Suku Sawang

Baca: Kulek Terakhir Part 3 - Suku Sawang Gantong Sempat Dicap Sebagai Kelompok Bajak Laut

Penulis: Wahyu Kurniawan
Editor: Wahyu Kurniawan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved