Breaking News:

Kulek Terakhir Part 3 - Suku Sawang Gantong Sempat Dicap Sebagai Kelompok Bajak Laut

Ini adalah buku yang mengulas tentang sejarah Suku Sawang atau Suku Laut di Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur.

Gedenkboek Billiton, 1927/Repro Wahyu Kurniawan
Kulek Terakhir 

2John Francis Loudon. Tahun-Tahun Pertama dari Perusahaan Belitung, terj. Yayasan Budaya Mukti (Tanjungpandan, 2015), hlm. 54.

Reputasi buruk Orang Laut sebagai bajak laut sudah dikenal oleh Belanda sejak lama, jauh sebelum Loudon tiba di Pulau Belitung, 28 Juni 1851. Hal ini  tergambar  dalam  buku karya seorang dosen sejarah kolonial dari Universitas Amsterdam, Belanda DR. F.W. Stapel yang diterbitkan tahun 1938.

Dalam buku Stapel disebutkan seiring munculnya pemberontakan di Palembang dan Bangka kurun tahun 1818-1820, perhatian Belanda terhadap Belitung bisa dikatakan hilang. Yang Belanda ketahui pada masa itu Belitung adalah  ’sarang Lanun’   karena  kelompok  perompak Lanun berkerjasama dengan Orang Laut untuk melakukan aksi teror. Aksi tersebut bahkan sudah dianggap sudah begitu nekat karena berani mendarat hingga ke Pulau Bangka pada tahun 1820 untuk merampas timah-timah simpanan Pemerintah Belanda di Batu Rusa.

Melihat kejadian tersebut, Pemerintah Hindia- Belanda mau tidak mau harus kembali memberikan perhatiannya pada Pulau Belitung. Tugas pendudukan Pulau Belitung itu kemudian diserahkan kepada Mayor De Kock dan dilaksanakan pada tahun 1821 berdasarkan Resolusi Gubernur Jenderal Hindia Belanda 24 Juli 1820 No 1

”Maka sebaiknya dilakukan dengan cara yang lain ialah mendekati mereka (penduduk Belitung) dengan cara yang halus dan supaya juga diminta bantuan kerjasama dengan orang-orang Siekapas (orang2 Sekah) yang tinggal di pantai2, supaya mereka meninggalkan pekerjaan2 dengan cara merampas dan merompak,” Stapel3

3Frederik Willem Stapel (1938) hlm. 46-49,  terjemahan Abu Hasan (1983) hlm. 12-14. Buku ini merupakan salah satu refrensi penting dalam mengenali jejak Orang Laut sebelum masa Loudon tiba di Pulau Belitung.

Dalam Resolusi Gubernur Jenderal Hindia Belanda 24 Juli 1820 No 1 Pemerintah memandang penting untuk tidak lagi menggunakan cara kekerasan dalam menduduki Pulau Belitung karena cara itu dipandang tidak memberikan hasil. Namun cara  halus yang dimaksud  tidak  diterapkan  secara baik sehingga Belanda gagal mengambil hati Orang Laut. Kondisi ini membuat Belanda akhirnya melakukan pendekatan militer yakni mengirim prajurit sebanyak satu batalion pada tahun 1822.

Menurut J. F Loudon, pada tahun 1822  ini, hubungan Orang Laut dan Lanun terputus, yang semula berteman kemudian jadi bermusuhan. Meski begitu, Pemerintah Hindia-Belanda tetap menyakini bahwa Orang Laut masih terlibat dalam sejumlah aksi perompakan hingga ke laut Jawa, baik secara mandiri maupun di bawah pengaruh penguasa pribumi.

Pada tahap ini perlu kembali kita melihat modus perompakan yang dilakukan dari masa ke masa di perairan Sumatera hingga Belitung. Karena secara umum, aksi tersebut ikut menyeret nama Orang Laut sebagai garda terdepan.

Bagi penulis, hal ini juga menyangkut soal sudut pandang. Berbagai sumber yang tersedia hingga saat ini sebagian besar adalah warisan era kolonial dan ditulis oleh para penulis-penulis Belanda.

Halaman
1234
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved