Kulek Terakhir Part 3 - Suku Sawang Gantong Sempat Dicap Sebagai Kelompok Bajak Laut

Ini adalah buku yang mengulas tentang sejarah Suku Sawang atau Suku Laut di Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur.

Kulek Terakhir Part 3 - Suku Sawang Gantong Sempat Dicap Sebagai Kelompok Bajak Laut
Gedenkboek Billiton, 1927/Repro Wahyu Kurniawan
Kulek Terakhir 

Pada era kolonial, pemerintahan Belanda sangat mungkin mengangap semua pergerakan yang mengganggu aktivitas mereka sebagai sebuah aksi kriminal. Namun bagaimana bila aksi tersebut dilihat dari sudut pandang bangsa-bangsa di Nusantara, termasuk pula oleh para punggawa Orang Laut.

Apa yang menjadi buah pikiran Sutedjo Sujitno dalam catatan akhir di bukunya Sejarah Timah Indonesia bisa menjadi bahan rujukan. Palembang, Bangka, dan Belitung sejak berabad-abad dikenal sebagai sarang Bajak Laut yang menguasai perairan Sumatera hingga Laut Cina Selatan. Tumbuhnya kelompok-kelompok Bajak Laut disebabkan karena faktor alam yang memang memungkinkan. Ribuan pulau kecil dan perairan dangkal membuat kawasan-kawasan pantai menjadi rentan terhadap kejahatan. Namun pada perkembangan selanjutnya pada awal abad ke-17, terdapat perubahan motif dari aksi para kelompok bajak laut tersebut. Ketika itu para pedagang Eropa datang ke Nusantara dengan semangat kolonialisme dan sistem monopoli dalam perdagangannya.

Kedatangan pedagang Eropa menjadi pemicu munculnya semangat anti-kolonialisme di seputaran pantai Sumatera hingga Laut Cina Selatan. Orang Laut yang berada dalam pengaruh kerajaan-kerajaan Nusantara ikut ambil bagian dalam semangat pergerakan anti-kolonialisme tersebut. Jadi bisa dikatakan, pembajakan yang dilakukan tidak sepenuhnya bermotif kriminal, tapi lebih kepada sebuah pergerakan perjuangan untuk mengusir pedagang Eropa dari bumi Nusantara. Dalam buku Sejarah Timah Indonesia, Sutedjo menyodorkan gagasan bawah pergerakan itu sangat mungkin menjadi bentuk perlawanan pertama bangsa Nusantara melawan penjajahan asing.

Gagasan ini setidaknya memberikan kita peluang untuk menduga bahwa aksi Orang Laut dalam peristiwa pembajakan itu mungkin saja sebagai bentuk perjuangan. Asumsi sederhana mengenai dugaan itu yakni belum adanya catatan yang menyebutkan Orang Laut dipaksa untuk mengikuti aksi pembajakan kapal-kapal pedagang Eropa.

Orang Laut disebut hanya terpengaruh oleh masyarakat yang lebih maju, yang merujuk pada komunitas kerajaan-kerjaan di Nusantara. Tidak ada kalimat yang menyatakan masyarakat yang lebih maju memaksa Orang Laut untuk melakukan pembajakan. Terpengaruhnya Orang Laut masih bisa kita artikan secara luas. Bisa saja mereka terpengaruh karena kurangnya wawasan. Namun bukan tidak mungkin pula mereka terpengaruh karena dorongan secara mandiri dari dalam hati. Dorongan itu mungkin juga muncul karena Orang Laut merasa ikut terancam oleh dominasi pedagang Eropa dan bisa pula karena solidaritas antar masyarakat Nusantara. Solidaritas Orang Laut juga bukannya tanpa alasan. Sebab dari cerita turun temurun Orang Laut menyakini bahwa mereka adalah bagian dari komunitas besar di semenanjung Malaysia dan Kepulauan Riau.

”Ada cerita yang mengatakan, bahwa sebelum menyebar di perairan Kepulauan Riau, Bangka, dan Belitung, orang laut itu adalah penduduk pantai sepanjang Semenanjung Tanah Melayu, terutama menurut cerita nenek mereka datang dari Johor Malaysia4,” Asin Bahari

4Lihat juga headline Pos Belitung, Aku Cakap Laut Dia Cakap Melayu. Minggu 12 Januari 2014. Orang Juru yang hidup berdampingan dengan Orang Laut di Desa Juru Seberang juga mengaku nenek moyang mereka dari Johor. Bahasa mereka berbeda dari Orang Laut tapi sepintas terdengar mirip. Karena kemiripan bahasa itu Orang Juru seringkali dianggap sama seperti Orang Laut.

Sekilas Tentang Lanun

John F. Loudon mengatakan, sebelum tahun 1822 Orang Laut di Belitung memiliki hubungan erat dengan bangsa Lanun. Dalam sejarah, bangsa Lanun dicitrakan sebagai kelompok bajak laut yang ganas dan menguasai perairan timur Sumatera hingga barat Pulau Kalimantan.

Seperti halnya Orang Laut, kita juga harus memberi ruang pada sudut pandang lain berkenaan dengan aksi bangsa Lanun. Sebab terdapat sejumlah catatan lain yang menunjukkan bahwa aksi bangsa Lanun merupakan sebuah aksi heroik melawan kolonialisme pedagang-pedagang Eropa.

Halaman
1234
Penulis: Wahyu Kurniawan
Editor: Wahyu Kurniawan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved