Breaking News:

Kulek Terakhir Part 3 - Suku Sawang Gantong Sempat Dicap Sebagai Kelompok Bajak Laut

Ini adalah buku yang mengulas tentang sejarah Suku Sawang atau Suku Laut di Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur.

Gedenkboek Billiton, 1927/Repro Wahyu Kurniawan
Kulek Terakhir 

Dampier berkesempatan tinggal bersama bajak laut Lanun pada kurun tahun 1686-16875. Menurutnya, dalam kehidupan sehari-hari, bangsa Lanun tidak menunjukkan kecendrungan watak bajak laut. Bangsa Lanun malah dinilai sebagai komunitas yang cinta damai dan hidup tentram.

5Sutedjo Sujitno, Sejarah Timah Indonesia (Jakarta,1996), hlm. 116.

Lalu apa yang menyebabkan mereka berubah menjadi kelompok bajak laut yang ganas? Jawabannya ternyata adalah rasa anti pati mereka terhadap sikap ketamakan orang Eropa yang datang berdagang di Asia Tenggara. Sebelum pedagang Eropa datang,  bangsa  di  kawasan  Asia  Tenggara berdagang dengan Cina dalam suasana tentram dan saling menghargai serta saling menguntungkan. Demikian juga yang terjadi ketika perdagangan berlangsung dengan orang-orang dari India.

Kemudian datang kelompok pedagang asal Portugis dan disusul Belanda dengan pola mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Pola itu dilaksanakan lewat cara memaksakan hak monopoli dan menekan para penguasa di semenanjung Malaysia untuk menerima harga yang mereka tentukan sendiri. Melihat keadaan itu, bangsa Lanun mencari jalan keluar dari tekanan dan kesewenang-wenangan pedagang Eropa. Sebab, bangsa Lanun pada dasarnya adalah bangsa yang memiliki harga diri yang tinggi. Mereka mengenal benar apa arti kemerdekaan dan kedaulatan.

Bangsa Lanun yang dicap sebagai bajak laut itu berasal dari Filipina, tepatnya dari teluk Lano di Pulau Mindanau. Sampai tahun 2015, masyarakat Belitung setidaknya hanya mengenal istilah Lanun. Demikian juga halnya dalam buku Sejarah Timah Indonesia. Literatur barat menyebut mereka Illanun. Padahal, semua istilah itu sejatinya adalah Iranun.

Datu Jamaluddin Datu Moksan, MA dari Bidang Sejarah Maritim Universitas Malaysia, Sabah membuat tulisan singkat mengenai asal muasal penamaan Lanun dan cap bajak laut terhadap bangsa Lanun. Menurutnya, nama Lanun muncul seiring isu bajak laut dan perdagangan budak yang tulis oleh para sarjana dan pegawai Eropa. Isu itu ditulis berdasarkan sudut pandang dek kapal perang Barat, bukan dari sudut pandang orang Timur. Latar tulisannya tentu juga diambil dari perseteruan bangsa Spanyol dengan Iranun di Fillipina maupun hasil ekspedisi bangsa Belanda dan Inggris.

Isu berat sebelah dan cendrung memihak bangsa Eropa itu kemudian dimanfaatkan oleh Sir Stamford  Raffles dan James Brooke untuk mempengaruhi bangsa Melayu. Keduanya melancarkan propaganda yang menyebutkan bahwa aksi perlawanan Lanun sebagai tindakan keji dan pemenuhan tenaga buruh oleh bangsa Lanun sebagai perdagangan budak. Anne Reber (1966) mendapati tulisan Sir Stamford Raffles sebagian besar harus bertanggungjawab karena telah menghasilkan ’decay theory’ yang menyebabkan gambaran sangat buruk tehadap citra orang Iranun.

”Tindakan ini  telah menyebabkan  Iranun  dipanggil Lanun atau Pirate dalam sejarah Asia Tenggara pada abad ke 18. Propaganda Raffles dan Brooke telah berjaya menggambarkan dunia alam Melayu bahawa Iranun  sebagai musuh nombor satu di laut Nusantara,” Datu Jamaluddin

Pada tahun 2015, tiga orang keturunan Lanun berkunjung ke Belitung dan menjelaskan nama mereka yang sebenarnya. Tiga orang asal Sabah Malaysia itu yakni Hakim Adat OKK Haji Masrin HJ. Hassin beserta anaknya Iskandar, dan seorang wartawan senior Abd. Naddin HJ. Shaiddin. Mereka mengatakan, Lanun yang dimaksud dalam sejumlah literatur dan cerita turun-temurun di Belitung sebenarnya adalah Iranun. Sedangkan bangsa barat mengenal mereka dengan nama Illanun.

Pada tahun 2016, tiga orang keturunan Lanun itu kembali ke Belitung dalam jumlahnya yang lebih banyak yakni sekitar 33 orang, termasuk tiga orang perwakilan dari Fillipina. Mereka datang untuk menjalin silaturahmi dengan keturunan Lanun yang tersisa sekaligus mengklarifikasi sejarah mereka yang sebenarnya.

Gambr 1.4 Keturunan Iranun dari Sabah dan Filipina berfoto bersama Bupati Belitung Sahani Saleh, 25 April 2016 di Hotel Grand Hatika Tanjungpandan. Sumber: Dokumentasi Wahyu Kurniawan, 2016.
Gambr 1.4 Keturunan Iranun dari Sabah dan Filipina berfoto bersama Bupati Belitung Sahani Saleh, 25 April 2016 di Hotel Grand Hatika Tanjungpandan. Sumber: Dokumentasi Wahyu Kurniawan, 2016.

Jumlah warga keturunan Iranun di Pulau Belitung pada tahun 2016 diperkirakan sebanyak 2000 jiwa. Bahkan akhirnya terungkap Bupati Belitung Sahani Saleh (Sanem) dan istri Wakil Bupati Belitung Gunawati Erwandi A. Rani adalah bagian dari keturunan mereka. Pengakuan Sanem dan Erwandi itu dimuat di belitung.tribunnews.com pada 25 April 2016 dan 13 Juli 2016.

Profesor Ali P.Laguindab, Ph.d dari Universitas Negeri Mindanao, Fillipina juga hadir dalam kunjungan silaturahmi Iranun ke Belitung. Dalam presentasinya ia mengatakan, bangsa Iranun setidaknya sudah sudah memeluk Islam sejak abad ke-14. Hal ini dibuktikan dengan adanya pendirian madrasah dan masjid di Simunul, Tawitawi, Sulu pada tahun 1380.

Pada masa-masa mendatang perlu dibuat satu kajian khusus tentang kaitan Iranun dan Belitung. Sebab refrensi mengenai kaitan tersebut masih sangat terbatas. Penting sekali menggali kaitan ini karena sejumlah tempat di Belitung memiliki kisah berlatarkan Lanun. Sebaran kisahnya juga merata, mulai dari daerah pesisir sampai ke pedalaman Pulau Belitung.

Gambar 1.5. 
Profesor Ali P. Laguindab, Ph.d. Sumber: Dokumentasi Wahyu Kurniawan, 2016.
Gambar 1.5. Profesor Ali P. Laguindab, Ph.d. Sumber: Dokumentasi Wahyu Kurniawan, 2016.

 
“Since the coming of the Spaniards in the 1600 to the present the Iranun in the Philippines has sustained five long centuries of continuous wars  against the enemies of Islam, against colonialism, against oppression and  for self-determination in preservation of our homeland for Islam and our posterity,” Profesor Ali P. Laguindab
 

Kedatangan keturunan Lanun ke Belitung dengan semangat kekeluargaan harus menjadi bahan renungan. Bagi penulis, peristiwa ini bisa jadi adalah sebuah pengulangan sejarah yang mempertegas kisah di masa lampau yang mengatakan betapa dekatnya bangsa Lanun dan Pulau Belitung.

Gambar 1.6.  Kapal Iranun. Sumber: Presentasi Profesor Ali P. Laguindab, Ph.d 2016.
Gambar 1.6. Kapal Iranun. Sumber: Presentasi Profesor Ali P. Laguindab, Ph.d 2016.
Gambar 1.7.  Kelinangan. Ini adalah kesenian bangsa Iranun yang ditampilkan di Hotel Grand Hatika Tanjungpandan, Belitung. Sumber: Dokumentasi Wahyu Kurniawan, 2016.
Gambar 1.7. Kelinangan. Ini adalah kesenian bangsa Iranun yang ditampilkan di Hotel Grand Hatika Tanjungpandan, Belitung. Sumber: Dokumentasi Wahyu Kurniawan, 2016.
Kesatria Iranun
Kesatria Iranun/Sumber: Presentasi Profesor Ali P. Laguindab, Ph.d 2016.

Baca: Kulek Terakhir Part 1 - Sebuah Amanah Merawat Eksistensi Kehidupan Suku Sawang Gantong

Baca: Kulek Terakhir Part 2 - Penguasa Lautan dan Beragam Testimoni Tentang Ketangguhan Suku Sawang

Baca: Kulek Terakhir Part 3 - Suku Sawang Gantong Sempat Dicap Sebagai Kelompok Bajak Laut

Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved