Ini Kronologi Dudung, Admin Grup Facebook IKNB Berurusan dengan Polisi
sempat terjadi keributan saat Dudung dan Loli bertemu. Dudung kemudian dibawa Loli ke Polres Beltim untuk menindaklanjuti laporannya dulu.
MANGGAR, POS BELITUNG - Aklanudin alias Dudung, admin grup facebook Idang Kite Ngembangun Belitong (IKNB) diperiksa polisi berawal saat Dudung menghadiri acara Musrenbang Kabupaten Beltim 2018 di Auditorium Zahari MZ, Komplek Perkantoran Terpadu, Pemkab Beltim, Kamis (23/3).
Saat bersamaan hadir juga Loli, yang sebelumnya telah membuat laporan polisi terhadap Dudung terkait pencemaran nama baik.
Informasi yang dihimpun Pos Belitung, sempat terjadi keributan saat Dudung dan Loli bertemu. Dudung kemudian dibawa Loli ke Polres Beltim untuk menindaklanjuti laporannya dulu.
"Kurang tahu kami ributnya bagaimana, yang pasti Pak Dudung ini langsung dibawa Pak Loli ke Polres Beltim. Karena dulunya setahun yang lalu, Pak Loli juga pernah melaporkan Dudung ini soal pencemaran nama baik. Karena mungkin merasa geram, makanya dibawa ke Polres. Laporan Pak Loli itu sudah dicabut sekarang," kata Plt Kasatreskrim Polres Beltim Antonius Sinaga kepada Pos Belitung, Kamis (23/3).
Anton mengatakan, Dudung kemudian diperiksa untuk kasus pencemaran nama baik dari laporan RSUD Beltim. Pada kesempatan yang sama, penyidik akhirnya bertanya apakah Dudung bersedia diperiksa.
"Karena kami ingin sampaikan surat panggilan, alamatnya tidak jelas. Kami kesulitan. Penyidik bertanya, bersedia atau tidak diambil keterangan atas laporan RSUD Beltim, dia sendiri bersedia diperiksa," ujar Anton.
Kedua belah pihak, kata Anton, telah bertemu, dan Dudung mengakui kesalahannya dan menyampaikan permintaan maaf tertulis di atas materai. Pencabutan laporan, lanjut Anton, tergantung pihak Pemerintah Daerah Beltim.
"Itu RSUD Beltim lagi mau bertemu dengan Bupati Beltim dulu," katanya.
Belum selesai masalah rumah sakit, datang pihak BFM Radio datang ke Polres Beltim.
Noval, kata Anton, menyebut bahwa Dudung juga pernah menyebut di facebook bahwa BFM adalah media rasis dan bersifat menghasut.
"Itu menurut Pak Noval, memang belum ada laporan itu ke Polres Beltim. Pak Noval hanya mau mengklarifikasi saja dan pengen ketemu dengan Pak Dudung," katanya.
Anton mengakui sulitnya pemeriksaan terhadap Dudung. Apa yang ditanyakan penyidik dijawab dengan cara yang tidak nyambung.
Dudung, kata Anton, mengaku bahwa pendengarannya kurang.
"Kadang kami menanyakan A, dijawab beliau B. Saat dimintai keterangan, makanya penyidik mengetik di laptop, kemudian dijawab dan diketik sendiri oleh Pak Dudung. Itu tadi sekitar tiga jam lah dimintai keterangannya," ujar Anton. (m3)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/dudung_20170323_201709.jpg)