Melasti Penyucian Diri Sebelum Nyepi

Sejak pagi penduduk transmigrasi Bali yang sudah menetap puluhan tahun di Negeri Laskar Pelangi ini mulai memadati Pura Puseh Desa Giri Jati

Melasti Penyucian Diri Sebelum Nyepi - sembahyang-dan-doa-melasti_20170326_124125.jpg
Pos Belitung/Krisyanidayati
Pelaksanaan Sembahyang dan doa Melasti di Pura Beji, Sabtu (25/3/2017). Pos Belitung/Krisyanidayati
Melasti Penyucian Diri Sebelum Nyepi - melasti_20170326_124611.jpg
Pos Belitung/Krisyanidayati
Arak-arakan persembahan dari Pura Puseh Desa Giri Jati menuju Pura Beji untuk melaksanan upacara Melasti, Sabtu (25/3/2017). Pos Belitung/Krisyanidayati

Laporan Wartawan Pos Belitung Krisyanidayati

POSBELITUNG.COM, BELITUNG - Aktivitas umat hindu di Desa Pelepak Pute dusun Balitung pagi ini berbeda dari hari biasanya pada Sabtu (25/3/2017), mereka mengenakan pakaian khas Bali yang didominasi warna putih yang dipadukan dengan kain cual berbagai motif.

Sejak pagi penduduk transmigrasi Bali yang sudah menetap puluhan tahun di Negeri Laskar Pelangi ini mulai memadati Pura Puseh Desa Giri Jati untuk melaksanan upacara Melasti.

Melasti merupakan rangkaian upacara yang bertujuan untuk menyucikan diri menjelang pelaksanaan puncak Hari Raya Nyepi yang pada selasa (28/3/2017) mendatang.

Sekitar pukul 07.00 WIB, umat hindu dari berbagai usia mulai memenuhi lokasi sembahyang yang akan dilaksanakan di Pura Beji yang terletak dibelakang Pura Puseh Desa Giri Jati.

Kaum perempuan yang baru tiba di Pura langsung meletakkan persembahan menuju lokasi persembahayangan di Pura Beji, mereka membawa berbagai persembahan atau bantan yang diisi dalam wadah khusus berbentuk segi empat dengan berbagai warna dengan berbagai jenis buah, kue, makanan ringan, uang, dan hasil bumi lainnya sebagai wujud persembahan pada Tuhan.

Usai meletakkan persembahan mereka kembali ke Pura Puseh Desa Giri Jati. Disana berkumpul para pemuka agama dan umat, beserta berbagai persembahan telah disiapkan. Persembahan yang terbuat dengan seni dan kerjinan dari bunga-bunga hidup seperti daun kelapa, mawar, bunga kertas ini menimbulkan aroma harum disekitar pura.

Mereka saling bercengkrama dengan bahasa bali yang bercampur dengan logat jawa, tentang berbagai kesiapan upacara adat itu. Tenda-tenda yang terpasang kokoh sebagai tempat berteduh para umat dan juga meletakkan ogoh-ogoh Dewi Sinta, Hanoman, dan kolor ijo yang telah dibuat beberapa bulan terakhir. Anak-anak riang memandangi ogoh-ogoh yang terpasang.

Sebelum upacara dimulai, para pemangku adat menyucikan lokasi itu dengan memercikkan air ke tempat upacara sembahyang, ornamen, sesajen di meha persembahan. Para pemuka agama melanjutkan memercikkan air suci serta meletakkan beberapa beras ke kepala umat.

Tepat pukul 09.00 WIB acara rangkaian acara sembahyangpun dimulai, mereka yang berada di dalam pura membawa persembahan yang sudah disiapkan dan meletakkannya diatas kepala, ada beberapa yang juga ditandu oleh kaum lelaki.

Halaman
12
Penulis: krisyanidayati
Editor: edy yusmanto
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved