Fenomena Awan Berbentuk Aneh Ini Muncul di DIY, Netizen Percayai Akan Terjadi Hal Buruk Ini

keterkaitan antara awan berbentuk khusus dengan kejadian gempa telah dipelajari orang-orang China dan Italia sejak ratusan tahun lalu.

Facebook/Jack Pangeran Buana
Kemunculan awan yang bentuknya lurus ini jadi perdebatan netizen yang berada di Kulonprogo, Senin (24/4/2017). 

POSBELITUNG.COM - Sebuah fenomena alam cukup langka terjadi di langit Kulonprogo Senin (24/4/2017) siang.

Muncul awan putih lurus di antara awan yang bentuknya tak beraturan.

Fenomena langka tersebut tertangkap kamera netizen bernama Jack Pangeran Buana dan membagikannya di grup Berita Kulonprogo Terbaru (BKTP).

Terlihat, ada dua awan yang bentuknya cukup lurus.

Satu di antaranya terlihat lebih panjang dan nampak sangat jelas.

"Sinten sik ningali langit jam 11:15 wau. Pertanda apapun itu mari kita selalu berdoa yg baik dan berfikir positif," tulis Jack di grup BKTP.

Ternyata, tak hanya ia yang melihat fenomena itu. Netizen bernama Putra Ragil juga melihat hal yang sama.

"Aku mau yo weruh jam 10-an mujur ngalor ngidul, kok ndilalahe delok langit pas liwat Kenteng Nanggulan ngiduL. Mugo2 g enek opo2," ujar Putra.

Beberapa netizen lain langsung ingat jika kemunculan awan tersebut menandakan akan terjadi gempa.

Menurut mereka, muncul awan yang bentuknya lurus di beberapa bencana gempa yang pernah terjadi.

"Aku pernah moco nang brita, tiap kejadian stunami mesti ono awan ngono kui neng bentuke tegak lurus, ora mujur ngalor ngidul. Mungkin kui bekas pesawat jet lewat," komentar Narti.

"Pertanda akan ada gempa," sahut Anwar Wiranto.

Sejumlah orang lain berharap semoga kemunculan awan lurus ini bukanlah pertanda apa-apa.

"Subahanallah muga-muga ora ono apa-apa. Amin," celetuk Wakhid Yk.

"Bismillah. Semoga hanya fenomena alam biasa," kata Abdee Sahrobi.

Namun benarkah awan berbentuk lurus merupakan salah satu tanda akan terjadinya gempa bumi?

Sebagaimana dikutip dari earthquakesignals.com, keterkaitan antara awan berbentuk khusus dengan kejadian gempa telah dipelajari orang-orang China dan Italia sejak ratusan tahun lalu.

Sebuah dokumen di Lon-De County Chronicle, China, 300 tahun lalu yang dikompilasi ulang pada tahun 1935 menyebutkan soal ciri-ciri awan pertanda gempa.

"Matahari itu cerah dan hangat, langitnya biru dan cerah. Tiba-tiba, tampak ada awan hitam yang membentang di langit seperti ular panjang, awan tinggal lama, jadi akan ada gempa," demikian deskripsi awan yang dijuluki Kagida Cloud menurut dokumen tersebut.

Jepang juga mencoba ikut menghidupkan metode ini. Sejumlah kejadian gempa yang menewaskan ribuan orang dapat diprediksi dengan melihat munculnya awan ini, salah satunya gempa 7,7 SR di Iran pada 20 Juni 1990 dan gempa 6,1 SR di Afghanistan pada 7 Februari 1997.

Meskipun demikian, ketika kemunculan Kagida Cloud digunakan sebagai rujukan untuk menentukan episentrum gempa, ternyata awan ini tidak bisa digunakan sebagai referensi.

Namun diyakini ada hubungan yang kuat antara awan tersebut dan gempa.

Terkait munculnya awan berbentuk lurus di Kulonprogo, masih belum jelas apakah itu masuk kategori Kagida Cloud atau tidak. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved