Breaking News:

Mulainya Puasa dan Lebaran Antara Muhammadiyah dan NU Bersamaan, Ini Penjelasannya

Untuk Puasa Ramadan 2017 ini dipastikan berbarengan; baik warga Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama (NU) akan memulai puasa 27 Mei 2017.

Pos Belitung/Dede Suhendar
Ilustrasi - Bupati Belitung Sahani Saleh dan masyarakat berbuka puasa bersama di Masjid Al Mabrur Tanjungpandan, Jumat (3/7/2015). 

POSBELITUNG.COM -- “Apakah besok puasanya bareng?” menjadi pertanyaan yang kerap bergulir menjelang Puasa Ramadan.

Untuk Puasa Ramadan 2017 ini dipastikan berbarengan; baik warga Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama (NU) akan memulai puasa 27 Mei 2017. Lalu bagaimana dengan Lebarannya?

Menurut Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, selain Puasa Ramadan, perayaan Idul Fitri dan Idul Adha kemungkinan besar juga berbarengan.

Menurutnya, posisi bulan di langit saat awal bulan komariah pada tahun ini cukup mendukung keseragaman hari-hari penting bagi umat muslim.

“Sampai tahun 2021, posisi bulan di luar 0-2 derajat. Jadi, ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha akan sama,” kata Thomas saat dihubungi Kompas.com, Senin (22/5).

Kita tahu, selama ada dua cara menetapkan kemunculan hilal (bulan sabit) untuk menandai awal puasa dan hari raya.

Cara pertama adalah perhitungan astronomis, biasa disebut hisab. Ini biasa digunakan oleh Muhammadiya.

Sementara cara kedua adalah pengamatan secara langsung, alias ru’yatul hilal ala NU.

Harap diketahui, ada dua syarat sehingga hilal—bulan sabit sangat tipis penanda awal bulan komariah—dinyatakan sah dan bisa jadi tanda awal bulan.

Pertama, hilal harus cukup tebal dan menonjol di tengah cahaya senja. Kedua, hilal harus cukup tinggi sehingga cahayanya tidak pudar oleh pengaruh matahari senja.

Halaman
12
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved