Breaking News:

Bom Kampung Melayu

Keinginan Terakhir Anggota Polisi Korban Bom Tak Kesampaian, Sang Kekasih Dapat Firasat

Aulia mengaku sempat mendapatkan firasat kepergian kekasihnya itu. Keduanya merencanakan untuk bertemu pada

Tribun Lampung/Perdiansyah
Pemakaman Briptu Ridho Setiawan 

Menurut Siti, Ridho dikenal sebagai sosok yang baik dan penurut. Siti yang selalu bersama Ridho sejak kecil merasa kehilangan sosok keponakannya. "Orangnya baik, nggak banyak tingkah, dari kecil dia sama saya. Januari terakhir ketemu dia," isak Siti Fatimah.

Ayah Ridho, Gunawan, mengaku tidak menyangka anaknya menjadi korban tewas bom bunuh diri di Kampung Melayu. Sesaat setelah ledakan bom terjadi, Gunawan mengakui menelepon anaknya untuk menanyakan tentang aksi teror tersebut.

Namun, telepon Gunawan tak mendapat respons. Meski begitu, ia mengaku tak mencemaskan keberadaan Ridho.

"Tidak ada kabar sebelumnya. Ketika mendengar berita ada bom, saya telepon dia, tapi tidak diangkat, saya mengiranya Ridho sudah tidur. Setelah itu, kabar baru kita ketahui setelah rumah kami didatangi oleh oleh kepolisian," kata Gunawan, Kamis petang. Para polisi kemudian membawa Gunawan ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati Jakarta.

Setelah dibawa ke kamar jenazah di rumah sakit milik polri itu, Gunawan diperlihatkan jasad anaknya. Ia lantas memastikan jasad yang sudah terbujur tersebut adalah anak bungsunya.

Gunawan menyatakan sangat bangga kepada sang anak. Menurutnya, anaknya gugur dalam menjalankan tugasnya sebagai abdi negara. Terakhir kali Gunawan bertemu anak bungsunya tersebut pada Rabu sore.

"Saya sangat mengutuk perbuatan yang biadab ini, dan juga saya mengingatkan kepada anggota Polri yang lainnya untuk meningkatkan kewaspadaan," tegas Gunawan.

Ia pun berharap kejadian yang dialami oleh anaknya, tidak terulang kepada anggota Polri lainnya.

Sementara itu bibi almarhum, Siti Fatimah mengaku sudah memiliki firasat sebelumnya. Sekitar pukul 10 malam, Siti dan suaminya sempat mendengar suara ledakan seperti bom.

"Waktu mau tidur sempat bunyi 'duum' kayak bom, suami saya nanya suara apa itu, saya bilang itu suara bom. Lalu kami tidur. Setelah itu jam tiga subuh (Kamis 25/5) baru dapat kabar kalau Ridho sudah nggak ada," kata Siti di rumah duka di Desa Negeri Katon RT 1 RW 2, Kecamatan Selagai Lingga, Lampung Tengah, Kamis (25/5).

Menurut Siti, Ridho dikenal sebagai sosok yang baik dan penurut. Siti yang selalu bersama Ridho sejak kecil merasa kehilangan sosok keponakannya. "Orangnya baik, nggak banyak tingkah, dari kecil dia sama saya. Januari terakhir ketemu dia," isak Siti Fatimah.

Siti juga mengutuk keras tindakan pengeboman yang dilakukan pelaku yang menewaskan Ridho dan beberapa rekannya.

"Tolonglah berhenti ngebom orang yang tidak berdosa seperti ini. Sakit rasanya kami yang ditinggalkan," ungkapnya.

Siti Fatimah, kerabat Ridho, mengaku sempat tak percaya ketika mendapat kabar bahwa keponakannya menjadi korban bom bunuh diri.

Ia mengatakan, keluarga diberi tahu tentang kepergian Ridho sekitar pukul 03.00 WIB, Kamis.

"Kami sekeluarga sama sekali tidak ada firasat apa-apa (tentang Ridho), dan terkejut ketika mendengar ada ledakan bom di Jakarta. Mala itu belum ada kabar bahwa salah satu korbannya adalah Ridho. Kami baru dapat kabar sekitar pukul 03.00 WIB," kata Fatimah sambil terus menyeka air matanya.

Berduka

Sementara Bupati Lamteng Mustafa, yang mengunjungi rumah duka, menyatakan turut berduka. Ia berharap, tidak ada lagi aksi teror yang mengakibatkan seseorang berpisah dengan orang yang ditinggalkannya.

"Kita semua turut berduka cita. Ini adalah kesedihan kita semua. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran. Menjelang bulan suci Ramadan ini kita sangat menyesalkan dengan aksi bom bunuh diri yang menodai. Mudah-mudahan ini segera terungkap, dan jaringan yang dianggap sebagai pelaku dapat ditangkap," terang Mustafa. Pada kesempatan itu, Mustafa juga memberikan santunan kepada keluarga Ridho.

Menanggapi kasus bom bunuh diri, Mustafa mengajak masyarakat Lampung Tengah untuk mendahulukan berpikir dengan berkepala dingin. Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh tindakan yang dapat memecah belah persatuan.

Wakapolda Lampung Brigjen Bonifasius Tampoi, yang memimpin upacara pemakaman secara militer, mengatakan, Ridho dinaikkan pangkatnya menjadi Briptu Anumerta atas jasa-jasanya.

Boni, sapaan akrabnya, juga mengingatkan jajarannya untuk meningkatkan kewaspadaan dan keamanan saat menjalankam tugasnya.

Mirip Bom Cicendo

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, ada kemiripan antara bom yang meledak di Kampung Melayu, dengan bom panci di Cicendo, Kota Bandung, akhir Februari lalu.

Pada kedua peristiwa itu, pelaku sama-sama menggunakan panci sebagai wadah bom dan gotri sebagai penambah daya ledak.

"Barang bukti yang ditemukan ada beberapa kesamaan dengan kejadian di Bandung beberapa waktu lalu," ujar Setyo.

Ia menambahkan, di lokasi ditemukan juga serpihan kain, lempengan alumunium, serpihan ransel, gotri, dan material yang diduga bahan rakitan bom.

Kepala Bagian Mitra Divisi Humas Polri Kombes Awi Setiyono mengatakan, jenis bom yang digunakan pelaku sama dengan bom di Bandung. Namun, material bom di Kampung Melayu lebih lengkap. "Ini termasuk mungkin lebih sempurna dari yang kemarin," kata Awi.

Hingga kini belum dapat dipastikan apakah jenis ledakannya high atau low explosive. Saat ini serpihan material bom yang menjadi barang bukti masih diteliti di laboratorium forensik.

"Labfor yang bisa menyatakan itu (high atau low). Karena identifikasinya dari serbuk residu, itu yang akan diperiksa," kata Awi.

Selain itu, kemungkinan motif kedua peristiwa itu sama, yakni mengincar polisi. Pada teror bom di Bandung, para pelaku mengincar sejumlah tempat yang dihuni polisi, seperti Polda Jawa Barat, Polres Cianjur, pos lalu lintas di Buah Batu, dan pos polisi di Gegerkalong.

Terpisah, Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Yusri Yunus mengatakan, kuat dugaan INS (31), pelaku bom bunuh diri di Kampung Melayu, berkaitan dengan bomber di Cicendo, yakni Agus, dan jaringan teroris yang ditangkap di Purwakarta.

Kabag Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Martinus Sitompul, mengatakan, petugas sudah berhasil mengidentifikasi dua pelaku bom bunuh diri. Keduanya adalah Ihwan dan Ahmad Sukri.

"Di (ledakan) TKP 1 pelaku bernama Ihwan, dan di TKP 2 bernama Ahmad Sukri," kata Martinus, Kamis.(val/tribunnetwork)

Berita ini telah dipublikasikan di TribunnewsLampung.com dengan judul Kekasih Briptu Ridho, Korban Bom Kampung Melayu, Rasakan Firasat Ini Usai Teleponan

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved