Politisi Gerindra Ini Sarankan Sidang Itsbat 1 Ramadan dan 1 Syawal Sebaiknya Tak Dilakukan Lagi

Sodik mengatakan sidang itsbat sudah berlangsung puluhan tahun dan layak dikaji keberadaanya sesuai dengan perkembangan zaman.

kompas.com
Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin usai menggelar sidang Isbat di kantor Kementerian Agama RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (1/9/2016). 

Hal itu dipegang dengan kuat sebagai pedoman ber puasa.

Ormas Islam mempunyai otonomi dalam itsbat 1 Ramadan dan 1Syawal tanpa ada perasaan sungkan berbeda seperti ketika masih ada sidang itsbat.

"Dengan penghapusan tradisi sidang itsbat ini maka proses penetapan 1 Ramadan dan 1 Syawal dilakukan oleh Menteri Agama," katanya.

Sodik mengatakan menteri agama dapat menetapkan tim dari kalangan ilmuwan dan ulama untuk menyusun Kalender Hijriah Permanen.

Jelang tiba bulan puasa, kata Sodik Mentri Agama meminta penegasan kepada tim tentang pertanggalan 1 Ramadan dan 1 Syawal tahun berjalan, berdasar Kalender Hijriah Permanen yang sudah ditetapkan.

Kemudian menampung laporan itsbat dari ormas Islam dalam forum pertemuan langsung atau laporan tertulis.

"Pada saat penegasan 1 Ramadan dan 1 Syawal versi pemerintah, Menteri agama menyampaikan pula hasil itsbat ormas-ormas islam baik yang sama atau yang beda dengan pemerintah. Masyarakat dipersilakan untuk mengikuti itsbat sesuai keyakinnanya seperti selama ini sudah berjalan," katanya.

Sodik menjelaskan manfaat penghapusan tradisi sidang itsbat.

Kalender Hijriah permanen ini penting untuk perencanaan kegiatan umat kedepan. Kemudian umat Islam khususnya di kalangan awam tidak dipertontokan perpecahan dan diberi kebingungan jelang bulan suci Ramadan.

"Dana proses itsbat bisa digunakan untuk pembinaan umat dalam bulan Ramadan," kata Sodik.

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved