Banyak Pasangan di Beltim Tak Punya Buku Nikah, Padahal Ini Kegunaan Pentingnya

Disdukpapil Beltim berpendapat besarnya jumlah penduduk Beltim yang tercatat tidak memiliki buku nikah bisa saja terjadi karena persoalan teknis...

Banyak Pasangan di Beltim Tak Punya Buku Nikah, Padahal Ini Kegunaan Pentingnya
Pos Belitung/Dedy Qurniawan
Staf administrasi di KUA Manggar, Kabupaten Beltim Ida saat menunjukkan buku nikah versi terbaru pada 2016, Rabu (13/1/2016) kemarin. 

Laporan Wartawan Pos Belitung, Dedy Qurniawan

POSBELITUNG.COM, BELITUNG TIMUR - Kepala Bidang Pelayanan Catatan Sipil Disdukcapil Beltim Efa Hastuti mengatakan, selain memudahkan proses dan kevalidan administrasi kependudukan, kegunaan buku nikah bisa memperjelas status hukum warga dalam administrasi kependudukan.

Buku nikah juga berguna bagi perlindungan hukum warga sebab inilah satu-satunya bukti otentik status warga khususnya yang beragama islam.

"Misalnya laki-laki dan perempuan ada masalah dalam kekerasan rumah tangga, mereka tidak bisa melapor karena buktinya tidak ada, kan yang diakui cuma buku nikah itu otentik, Itu untuk warga yang beragama Islam, kalau yang non Islam pakai akta perkawinan,"ujar Eva usai acara Dialog Interaktif Pencatatan Perkawinan dengan Pemuka Agama yang digelar Dinas Kependudukan dan Cacatan Sipil (Disdukcapil) Belitung Timur (Beltim) di aula pertemuan kantor Dinas Tenaga Kerja Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (KUKM), Senin (14/8/2017).

Dalam rapat tersebut disampaikan bahwa data Kementerian Dalam Negeri untuk penduduk Kabupaten Belitung Timur per semester II 2016 menyebutkan, dari total 119261 jiwa penduduk Beltim, 24137 (78,1 persen) di antaranya telah memiliki akta perkawinan atau buku nikah.

Kemudian 6768 di antaranya tercatat sebagai suami istri tetapi tidak memiliki akta perkawinan atau buku nikah.

Disdukpapil Beltim berpendapat besarnya jumlah penduduk Beltim yang tercatat tidak memiliki buku nikah bisa saja terjadi karena persoalan teknis pada sistem administrasi kependudukan (SIAK).

Namun, tak bisa dipungkiri poula angka ini muncul karena berbagai persoalan di lapangan, satu di antaranya karena ulah oknum yang sering mengatasnamakan KUA saat menikahkan seseorang hingga karena penduduk yang memang sengaja menikah siri atau sah secara agama dan tidak ingin menikah sah secara hukum negara karena suatu hal.

"Itu bisa jadi," kata Eva (*)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: aladhi
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved