Breaking News:

Sikapnya di RZWP3K Babel Dipertanyakan, Begini Jawaban HNSI Beltim

Pihaknya juga tidak ada masalah dengan rencana raperda zonasi sebab hal ini memang diperlukan daerah

Sikapnya di RZWP3K Babel Dipertanyakan, Begini Jawaban HNSI Beltim - apin_20180102_160859.jpg
Pos Belitung/Dedi Qurniawan
Sekretaris HNSI Beltim Aman Syafrin (Apin)
Sikapnya di RZWP3K Babel Dipertanyakan, Begini Jawaban HNSI Beltim - hnsi_20180102_160926.jpg
Pos Belitung/Dedi Qurniawan
Pembina HNSI Beltim Aman Mentak

Laporan Wartawan Pos Belitung Dedy Qurniawan

POSBELITUNG.COM, BELITUNG TIMUR - Pembina HNSI Beltim angkat bicara soal sikap HNSI di audiensi draft antara Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP-3K) Babel beberapa waktu lalu yang dipertanyakan nelayan Kelapa Kampit.

Menurut dia, penilaian bahwa HNSI tidak banyak berbuat untuk nelayan adalah penilaian yang salah.

"Kami tidak bicara soal tambang laut. Kami hadir di sana (audiensi RZWP3K) itu untuk mendengar, melihat dan menyikapi apa yang disampaikan konsultan zonasi," ujar Mentak didampingi Sekretaris HNSI Beltim Aman Syafrin (Apin) ditemui Pos Belitung di salah satu warkop di Kecamatan Manggar, Selasa (2/1/2018).

Menurut dia, pihaknya juga tidak ada masalah dengan rencana raperda zonasi sebab hal ini memang diperlukan daerah sebagai payung hukum untuk kepentingan investasi di wilayah laut.

"Terkait pariwisata misalnya, siapa yang mau investasi kalau lokasinya tidak jelas,. Mau investasi budidaya rumput laut misalnya, siapa yang mau kalau lokasinya tidak jelas" kata Mentak.

Dia juga menyatakan bahwa pihaknya berisi para nelayan yang sehari-hari bekerja menangkap ikan. Mentak juga menyatakan bahwa pihaknya kerap berupaya mendorong pemerintah untuk memikirkan nasib nelayan.

"Kami tidak bicara tambang. Jangan salah persepsi. Bahwa HNSI bukan bicara tentang tambang laut di rapat itu. Kami hanya ingin menjelaskan perlunya zonasi itu," ujar Mentak.

Sementara itu, Apin mengatakan, pihaknya pernah dilibatkan dalam penyusunan dokumen zonasi Kabupaten Beltim, 2014 lalu.

Hasil penyusunan dokumen yang memakan waktu selama dua tahun itulah yang dipertanyakan HNSI Beltim pada audiensi RZWP3K beberapa waktu lalu.

"Di RZWP3K ini baru enam bulan, kok sudah dinyatakan bahwa zonasi yang sudah ditetapkan dulu tidak dimasukkan. Jadi memang ada yang kami perlu sikapi," katanya.

Dia juga menyatakan bahwa HNSI adalah bagian dari nelayan. HNSI kata dia berperan dalam mengusulkan 200 unit rumah di kawasan Minapolitan Manggar untuk nelayan di Desa Baru beberapa waktu lalu hingga mengusulkan bantuan-bantuan lainnya un5uk nelayan.

"Jadi kalau ada nelayan mengatakan bahwa HNSI itu, berarti mereka tidak pernah koordinasi dengan kami," kata dua.

Terkait isu tambang laut, HNSI ,menurut Apin pula, merasa tak dirugikan ada atau tidaknya zonasi tambang laut di perairan dekat Kabupaten Beltim.

"Kami hanya mempertanyakan zonasi yang telah ditetapkan beberapa waktu lalu, pada 2014 itu, oleh Pemkab Beltim sendiri. Kenapa itu tidak digubris sama sekali. Kami tidak mau ghibah, yang penting HNSI ada di tengah-tengah. Kalau itu tidak dimasukkan, HNSI tidak pusing, nelayan tidak terganggu. Kalau itu dimasukkan, tidak apa-apa, kami bisa sinergi, mengambil manfaatnya, untuk memberdayakan nelayan-nelayan kita," ujar Apin (*)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: Edy Yusmanto
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved