Breaking News:

Istri Cantik Mantan Wakil Ketua DPRD Ini Terancam Hukuman Mati, Ini Kasus yang Menjeratnya

Meski terjerat dalam perkara yang sama, keduanya jalani sidang terpisah. Tersangka pasutri dalam perkara tindak pidana...

Tribun Bali/Rizal Fanany
Ni Luh Ratna Dewi (36) menjalani sidang perdana, Selasa (27/2) di Pengadilan Negeri Denpasar. Ratna didakwa dengan hukuman maksimal kasus narkotika. 

POSBELITUNG.COM, DENPASAR - Istri mantan anggota DPRD provinsi Bali, Jro Gede Komang Swastika alias Jero Janggol alias Mang Jangol yakni Ni Luh Ratna Dewi (36) menjalani sidang perdana, Selasa (27/2) di Pengadilan Negeri Denpasar.

Dalam sidang mengagendakan pembacaan dakwaan, jaksa penuntut mendakwa Ratna dengan pidana maksimalnya dengan ancaman hukuman mati.

Di persidangan, Jaksa I Gusti Ngurah Wirayoga dalam dakwaan menyatakan, Ratna Dewi diduga melakukan tindak pidana percobaan atau permufakatan jahat dalam tindak pidana narkotika dan precusor narkotika. 

"Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 114 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat 1 UU RI No.35 Tahun 2009 tentang narkotika," ujar Jaksa Wirayoga di hadapan majelis hakim pimpinan I Gusti Ngurah Partha Bhargawa.

Terdakwa yang berasal dari Jembrana ini juga dijerat dengan pasal 112 ayat 2 Jo pasal 132 ayat 1 Undang–undang yang sama.

Perbuatan Ratna Dewi dinilai memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan narkotika golongan I bukan tanaman lebih dari 5 gram, dengan ancaman pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 20 tahun.

Ditemui usai sidang, penasihat hukum terdakwa Ratna Dewi, yakni Nyoman Sudiantara menyatakan, tidak diajukannya keberatan atas dakwaan jaksa, karena ingin proses persidangan berjalan cepat.

Walaupun mengajukan keberatan adalah hak terdakwa.

"Kami tidak mengajukan eksepsi, karena kami ingin menjalani peradilan yang sederhana, yang cepat dengan biaya murah," ucapnya.

"Eksepsi itu adalah hak atau ketentuan UU bisa memberikan kewenangan seperti itu. Tapi kami lebih menuju kepada sebuah efektivitas waktu. Toh juga nanti eksepsi itu memang bisa menyerang dengan mengacu pada Pasal 143 ayat 1,2 dan 3 bahwa dakwaan kabur, tidak jelas dan lainnya sebagainya.Tapi kan itu baru putusan sela. Artinya jangan lah bertele-tele. Kami ingin lebih singkat, cepat. Lebih cepat lebih baik," tegas pengacara senior yang akrab disapa Punglik ini.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved