Breaking News:

80 Persen Pabrik Pengalengan Ikan di Indonesia Gunakan Ikan Impor, Ini Alasannya

80 persen ikan yang digunakan oleh pabrik pengalengan ikan di Indonesia masih menggunakan ikan impor.

Editor: Ardhina Trisila Sakti
KOMPAS.COM/Ira Rachmawati
Ikan makarel dalam kaleng sudah aman untuk dikonsumsi dan produk yang mengandung cacing parasit sudah ditarik dari peredaran serta dimusnahkan 

Dia berharap Indonesia memiliki kapal yang memiliki kemampuan tangkap yang baik dan memiliki kapal penampung untuk pembekuan ikan.

Hal tersebut sangat diperlukan karena melihat kondisi saat ini dengan tidak adanya kapal asing yang menangkap ikan di perairan Indonesia.

"Jadi walaupun ikannya banyak tapi tidak melewati proses pembekuan di atas kapal ya tidak bisa digunakan di pabrik pengalengan ikan," jelasnya.

Pada tahun 2017, Indonesia mengimport ikan sarden dan makarel sekitar 40 ribu ton, padahal kapasitas dari 28 pabrik dalam setahun bisa mengolah hingga 235 ribu ton sarden dan makeral. S

Sedangkan kapasitas pengelolaan ikan tuna pertahun bisa 365 ribu ton. "Untuk sarden makarel kita hanya mengelola 1/6 dari kapasitas kemampuan kita.

Sangat sedikit. Untuk Tuna juga hanya mengelola dibawah 30 persen dari kapasitas kemampuan. Untuk memenuhi kekurangannya kita ambil ikan lokal tapi kalau nggak ada ya segitu saja yang kita produksi," jelasnya.

Selain itu, menurut Ady, sebenarnya penguasa pabrik ikan dalam kaleng lebih suka menggunakan ikan dalam negeri karena selain harganya lebih murah, proses mekanismenya tidak begitu panjang.

"Jika ikan dalam negeri, setelah ditangkap kemudian masuk pabrik dan prosesnya cepat. Harganya juga antara 7 ribu hingga 8 ribu. Beda dengan ikan impor bisa 11 ribu dan mekanismenya panjang," jelas Ady.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved