Dikira Pelampung, Ternyata Benda Ini Bernilai Rp 3 Miliar

Namun dugaan sementara ambergris tidak keluar dari mulut, melainkan dari anus karena baunya.

Tayang:
ambergris.co.nz
Muntahan paus atau disebut juga ambergris. 

POSBELITUNG.CO - Ambergris memiliki harga yang fantastis dan bisa membuat orang cepat kaya jika menemukannya.

Ambergris sering ditemukan mengapung di lautan lepas.

Lalu apakah ambergris itu?

Dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon pada Rabu (15/11/2017), pakar mamalia laut LIPI, Sekar Mira menyebutkan bahwa ambergris adalah hasil sekresi dari saluran pencernaan paus sperma.

Jika dilihat dari fisiknya, ambergris atau yang juga sering disebut "muntahan" paus adalah zat padat, lilin, dan mudah terbakar yang diproduksi di usus ikan paus.

Hingga saat ini belum pernah ada yang melihat paus mengeluarkan ambergris secara langsung.

Dikutip dari Livescience, Jumat (1/2/2013), para peneliti pun masih belum benar-benar yakin mengenai bagaimana paus sperma meghasilkan dan mengeluarkan benda ini.

Namun dugaan sementara ambergris tidak keluar dari mulut, melainkan dari anus karena baunya.

Biasanya, mereka mengeluarkan zat ini karena "salah makan".

Salah makan yang dimaksud adalah ketika paus sperma menelan benda tajam yang sulit dicerna, seperti paruh cumi raksasa.

Saat menelan benda semacam itu, mereka akan menciptakan sejenis lapisan lemak yang kemudian dikeluarkan.

Biasanya, paus sperma jantan yang melakukan hal ini.

Christopher Kemp, penulis buku Floating Gold: the Natural (and Unnatural)History of Ambergris terbitan University of Chicago Press mengatakan bahwa ambergris mahal karena sangat langka.

"Hanya satu persen dari 350.000 paus sperma yang benar-benar dapat membuatnya," kata Kemp.

Hal senada juga disebutkan oleh Sekar Mira.

"Ambergris kan kayak byproduct di pencernaan, jadi sewaktu-waktu akan dikeluarkan. Untuk durasi atau rentang waktu paus sperma mengeluarkan ambergris ini belum ada catatannya hingga saat ini," kata Sekar.

Ambergris sendiri memang dikenal sebagai pengawet parfum yang berharga fantastis.

Padahal setelah keluar dari tubuh paus, ambergris memiliki bau busuk dan berwarna persis seperti kotoran.

Namun lama kelamaan, bau ini berubah menjadi wangi.

Warnanya pun semakin lama berubah menjadi abu-abu.

Dirangkum dari Scientific American, 26 April 2007, matahari, udara, dan air laut mengoksidasi massa ambergris, airnya pun terus menguap.

Hal ini membuat ambergris mengeras dan pecah menjadi potongan yang lebih kecil yang mengambang di laut sebelum sampai ke bibir pantai.

Potongan yang lapuk (sudah lama di laut), akan memancarkan aroma manis dan harum yang sering disamakan dengan bau tembakau, pinus, atau musk.

"Kualitas dan nilai dari ambergris ini bergantung pada berapa lama ia mengambang di laut atau menua," kata Bernard Perrin, pakar ambergris.

George Preti, seorang ahli kimia wewangian dari Monell Chemical Senses Center mengatakan, ambergris sangat disukai sebagai pengawet parfum karena molekulnya yang bersifat lipofilik, mirip dengan molekul parfum.

Hanya saja molekul ambergris lebih berat dan besar.

"Molekul bau memiliki afinitas tinggi untuk molekul liofilik lainnya, jadi keduanya berhubungan dengan molekul ambergris dan tidak memasuki fase penguapan sekaligus," kata Preti.

Selain hal yang disebutkan di atas, hingga saat ini masih banyak misteri tentang ambergris yang belum terpecahkan.

Seperti mengapa benda ini banyak ditemukan di belahan bumi selatan, padahal paus sperma berenang ke seluruh lautan dunia?

Atau, mengapa hanya paus sperma, terutama yang jantan, yang mengeluarkan benda ini?

Ambergris di Kupang

Nelayan di Kelurahan Oeba, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menemukan muntahan ikan Paus (Ambergris) yang harganya di pasaran bisa mencapai Rp 3 miliar.

Marsel Lopung nelayan yang menemukan benda keras yang diduga muntahan paus itu mengaku kaget saat melihat benda tersebut mengapung di atas laut sebulan lalu di pelabuhan Sulamu.

Hal ini disampaikannya saat ditemui Pos Kupang (grup SURYAMALANG.COM) di Oeba Rabu (18/4/2018).

Menurut Marsel pertama kali melihat benda tersebut dia mengira benda tersebut adalah pelampung yang mengapung di laut.

Tetapi setelah didekati ia akhirnya mengambil benda tersebut dan memutuskan untuk dibawa pulang ke rumahnya.

"Awalnya saya pikir itu pelampung tapi pas saya pegang sudah keras mungkin sudah terapung lama.

"Saya tidak ingat lagi tanggalnya tapi sebulan lalu saya dapat itu. Terus saya bawa kembali ke rumah dan simpan di dalam wadah," ujar Marsel.

Marsel juga mengatakan makin hari benda tersebut semakin keras dan menyusut.

Menurutnya saat pertama kali ditemukan ukurannya besar tapi setelah sebulan ia simpan ukurannya semakin menyusut dan makin keras.

Setelah disimpan di rumahnya, keberadaan benda yang diduga muntahan paus tersebut mendapat perhatian warga Sulamu yang semakin hari semakin ramai datang ke rumah Marsel untuk sekedar melihat bentuk muntahan paus dan bagaimana warnanya.

Tak lupa juga ada yang terus memotret benda tersebut yang disimpan Marsel di dalam wadah.

Hal tersebut akhirnya diketahui oleh sahabatnya yang berada di Makassar dan menyarankan Marsel untul dibawa ke Bali dan dicek apakah benar itu muntahan paus atau tidak.

Marsel berharap apabila benda tersebut betul-betul muntahan paus yang bernilai tinggi dan penemuannya tersebut tidak melanggar Undang-undang.

Ia akan menjualnya untuk mengubah nasib keluarganya.

Dilansir Grid.id (grup SURYAMALANG.COM), muntahan ikan paus kepala kotak (Physeter macrocephalus) bentuk dan teksturnya seperti bongkahan lilin.

Meski namanya muntahan, zat ini sebenarnya tidak keluar dari mulut paus.

Zat yang mulanya menumpuk di dalam usus paus ini dikeluarkan dari saluran pembuangan kotorannya.

Paus kepala kotak sangat jarang mengeluarkan muntahan atau ambergris ini.

Dari jumlah paus kepala kotak yang ada, hanya 1 persen paus yang mengeluarkannya. 

Uniknya, saat baru dikeluarkan, muntahan paus berbau busuk dan berwarna kehitaman.

Namun, lama-lama bau busuk itu hilang dan berubah menjadi harum.

Muntahan paus jarang ditemukan.

Biasanya, muntahan paus akan tenggelam di laut.

Namun, ada sebagian yang mengapung dan terdampar di tepi pantai.

Berikut beberapa orang di dunia yang beruntung menemukan muntahan paus dan berhasil menjual muntahan tersebut hingga miliaran rupiah. 

1. Sukadi, nelayan asal Bengkulu  

Awal November 2017 lalu, seorang nelayan asal Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu menemukan 200 kilogram diduga muntahan (ambergris) paus.

Benda itu ditemukan Sukadi dalam kondisi mengapung di tengah Samudra Hindia.

Muntahan paus milik Sukadi telah terjual 150 kilogram dengan harga Rp 3,3 miliar atau per kilonya Rp 22 juta.

2.  Bocah 8 tahun jual muntahan paus Rp 868 juta

Agustus 2012, Charlie Naysmith bocah berusia 8 tahun dari Inggris menjadi jutawan berkat muntahan paus yang ia temukan.

Saat sedang berjalan-jalan di pantai, Naysmith melihat bongkahan batu yang unik berwarna seperti marmer dan membawanya pulang untuk dikoleksi.

Setelah dia dan sang ayah mencari tahum ternyata bongkahan batu unik tersebut adalah muntahan paus yang sangat dibutuhkan dalam pembuatan parfum.

Amergris itu terjual dengan harga Rp 868 juta.

3.  Sepasang kekasih Gary dan Angela menjual ambergris seharga Rp 1 miliar

April 2016, pasangan dari Lancashire, Inggris, Gary dan Angela menemukan muntahan ikan paus.

Mereka menemukan muntahan paus di pinggir Pantai Middleton tak jauh dari tempat tinggal mereka.

Awalnya Gary dan Angela jijik melihat benda lembek dengan bau tak sedap. Tapi keduanya memutuskan untuk membawa pulang.

Ternyata benda tersebut merupakan ambergris seharga 930 poundsterling atau setara hampir Rp 1 miliar.

4. Khalid Al Sinani, nelayan Oman

Pada 2016, Khalid Al Sinani, nelayan Oman menemukan muntahan ikan paus yang terapung di perairan wilayah Qurayat.

Khalid mengumpulkan muntahan ikan paus seberat 60 kg dan mengangkatnya ke perahu.

Diperkirakan muntahan paus itu bisa dijual dengan harga Rp 33,7 miliar.

Sebuah perusahaan parfum setempat menawar dengan harga Rp 187 juta per kilogram namun Khalid menolaknya.

5. Alan Derrick dan anaknya Tom

Alan Derrick dan anaknya, Tom mengatakan awalnya ia bersama sang anak sedang berjalan-jalan di sepanjang pantai.

Tom kemudian melihat sebuah batu yang bentuknya cukup aneh. Berat batu muntahan paus yang ditemukan Alan adalah 1.13 kg.

Ia menjual benda yang ditemukan tersebut dengan nilai sekitar Rp 1 miliar.

Alan telah mengirim sampel ke Italia, Selandia Baru dan Prancis untuk menguji batu tersebut. 
 

Sumber: Surya Malang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved