Breaking News:

Jangan Terlewat, Minggu Ini Ada Hujan Meteor Lyrid Loh

Hujan meteor Lyrid selalu muncul setiap bulan April. Nama Lyrid sendiri diambil dari rasi asalnya, yakni rasi Lyra (Harpa).

Editor: Ardhina Trisila Sakti
Foto hujan meteor Lyrnid dengan menggunakan teknik pemotretan long exposure, yang diambil di Thanlyn, 14 mil dari Yangon, Myanmar pada 23 April 2015 

POSBELITUNG.CO - Tahukah Anda, sepanjang bulan April sebenarnya langit kita selalu dijatuhi hujan meteor Lyrid. Jangan sedih, Anda belum melewatkannya.

Menurut NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL) dan Space Science telescope Institue (STScl), puncak hujan meteor Lyrid akan terjadi pada Sabtu (21/4/2018) dan Minggu (22/4/2018).

Hujan meteor Lyrid selalu muncul setiap bulan April. Nama Lyrid sendiri diambil dari rasi asalnya, yakni rasi Lyra (Harpa). Menurut NASA, fenomena ini sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu.

Bahkan berdasar catatan NASA, astronom China telah merekam hujan meteor Lyrid sejak 687 SM.

Dilansir Space.com, Rabu (18/4/2018), hujan meteor Lyrid muncul karena setiap tahunnya bumi melewati jejak atau sisa debu yang ditinggalkan oleh komet Thatcher.

Sisa-sisa debu itu yang kemudian nampak dari bumi sebagai hujan meteor. Setiap 415 tahun sekali, komet tersebut melintasi bumi.

Komet Tatcher melintasi tata surya terakhir terjadi pada 1816. Ini artinya, komet Thatcher akan kembali ke tata surya pada 2276.

Astronom amatir Mutoha Arkanuddin, berkata bahwa hujan meteor Lyrid ini akan terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

"Waktu terbaik untuk melihatnya adalah saat tengah malam sampai menjelang fajar di tanggal 21 dan 22 April ini," kata Mutoha yang dihubungi Kompas.com, Kamis (19/4/2018).

Mutoha melanjutkan, saat ini bulan sedang memasuki fase kuartal pertama. Ini artinya, bulan lebih cepat terbenam dan langit pada tengah malam akan gelap.

Hal ini sangat menguntungkan, karena saat langit gelap berarti kita dapat menikmati hujan meteor dengan lebih jelas lewat mata telanjang.

"Hujan meteor akan sangat bagus kalau dilihat dengan mata telanjang. Jika ingin memotretnya, bisa menggunakan teknik long exposure. Nanti akan terlihat garis garis di langit," imbuh pendiri Jogja Astro Club itu.

Saat puncak hujan meteor nanti, kira-kira ada 20 meteor yang turun setiap jamnya.

"Sekitar tiga menit ada satu meteor. Tapi mungkin tidak selalu pas tiga menit," ujarnya.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved