Pernah Diancam Dibunuh 30 Tahun Lalu, Kumaedi Butuh 10 Hari Mikir Injakkan Kaki Lagi di Belitung

Buat menghadiri temu kangen alumni ini pun ia harus memutuskan selama 10 hari. "Sudah 30 tahun bisa bertemu guru-guru lain...

Pernah Diancam Dibunuh 30 Tahun Lalu, Kumaedi Butuh 10 Hari Mikir Injakkan Kaki Lagi di Belitung
Pos Belitung/Adelina Nurmalitasari
Kumaedi, guru PSPB atau PPKN yang puluhan tahun tak datang ke Belitung setelah aktif mengajar dan menetap di Semarang. Pos Belitung/Adelina Nurmalitasari 

Laporan Wartawan Pos Belitung, Adelina Nurmalitasari

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Pernah mengajar di Belitung sekitar tahun 80-an, Kumaedi kini akhirnya bisa kembali ke negeri laskar pelangi.

Pria yang dulu mengajar mata pelajaran PSPB atau pendidikan sejarah perjuangan bangsa ini kembali buat mengikuti acara temu kangen alumni SMP Negeri 3 Tanjungpandan angkatan 85-88 di Restoran Pandan House pada Sabtu (23/6/2018) malam.

Di usianya yang tak lagi muda, guru yang kini mengajar di SMP Negeri 24 Semarang ini menceritakan kenangannya selama mengajar di Belitung.

Bahkan demi mengabdikan dirinya pada negara ia pernah terancam dibunuh.

Guru-guru yang pernah mengajar di SMP Negeri 3 Tanjungpandan periode 85-88 saat disalami murid-muridnya saat acara temu kangen alumni di Restoran Pandan House pada Sabtu (24/8/2018).
Guru-guru yang pernah mengajar di SMP Negeri 3 Tanjungpandan periode 85-88 saat disalami murid-muridnya saat acara temu kangen alumni di Restoran Pandan House pada Sabtu (24/8/2018). (Pos Belitung/Adelina Nurmalitasari)

Saat berada di Tanjungpandan kala itu, Kumaedi mengajar di dua sekolah menengah.

Namun di suatu kejadian, ia sempat diancam dibunuh siswanya.

"Tapi waktu itu ada Hanafi yang menyelamatkan saya," ujarnya.

Buat menghadiri temu kangen alumni ini pun ia harus memutuskan selama 10 hari.

"Sudah 30 tahun bisa bertemu guru-guru lain datang bersilaturahmi, ini luar biasa disini bhineka tunggal ika sekalipun beraneka agama, suku, bangsa tetap bisa bersatu," kata Kumaedi.

Pria yang tinggal di Candirejo, Semarang ini mengatakan buat disaat yang sama sebenarnya juga ada acara serupa di SMA Ungaran.

Tetapi ia memutuskan buat memilih kembali ke Tanjungpandan buat bertemu anak didik hingga rekan guru yang puluhan tahun tak pernah berjumpa.

Kembali ke Semarang sekitar tahun 1989, Kumaedi memuji perkembangan Belitung yang luar biasa.

"Waktu itu saya balik buat melanjutkan pendidikan, lalu menetap di Semarang sampai sekarang," tuturnya.

Penulis: Adelina Nurmalitasari
Editor: aladhi
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved