Breaking News:

Jaksa Tuntut Pembakar Ponton Tambang Santo Terancam 8 Bulan Penjara

Sidang kasus pembakaran ponton tambang ilegal di Laut Tempilang Bangka Barat, memasuki agenda tuntutan.

Istimewa
Ratusan warga Desa Air Lintang membakar speed boat di Pantai Pasir Kuning Tempilang pascatersiar kabar ada warga yang menjadi korban pembunuhanMinggu (10/12) malam. Speed boat itu biasa digunakan untuk antar-jemput pekerja TI apung. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Fery Laskari

POSBELITUNG.CO--  Sidang kasus pembakaran ponton tambang ilegal di Laut Tempilang Bangka Barat, memasuki agenda tuntutan. Lima pelaku, Tohri, Angga, Tomi Priyadi, Saman Tukap dan Saudi dituntut pidana penjara enam bulan. Sedangkan Santo Kusuma Atmaja, diancam pidana lebih tinggi berupa tuntutan delapan bulan penjara.

Surat tuntutan ini dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Babel, Cahya saat sidang di Pengadilan Negeri (PN) Sungailiat Bangka, Rabu (18/7/2018). Sidang kasus ini memancing masa dari Tempilang Bangka Barat. Proses persidangan  dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Jonson Parancis.

Kasus ini dirangkum dalam dua berkas perkara terpisah. Perkara pertama ditangani oleh Pengacara (PH) Budiana Rachmawati, masing-masing klien atas nama Terdakwa Tohri, Angga, Tomi Priyadi, Saman Tukap dan Saudi. Sedangkan perkara kedua ditangani Pengacara (PH) Saparwan, atas nama klien Terdakwa Santo Kusuma Atmaja alias Maja.

"Terdakwa klien Pengacara Ibu Budiana Rachmawati,  masing-masing dituntut enam bulan penjara dan diharuskan membayar biaya perkara lima ribu rupiah," kata Kejati Babel Adita Warman, diwakili JPU Cahya ditemui Bangka Pos Groups usai sidang di PN Sungailiat, Rabu (18/7/2018).

Sedangkan tuntutan untuk Terdakwa, Sanyo Kusuma Atmaja, klien Pengacara Saparawan JPU Cahya menuntut lebih tinggi, yaitu delapan bulan penjara.

"Untuk perkara klien Pak Saparman (Terdakwa Santo Kusuma Atmaja alias Maja), tuntutannya lebih tinggi, yaitu delapan bulan," katanya.

Diakui JPU Cahya, semua pelaku dijerat pada pasal yang sama yaitu, Pasal 187 Ayat 1 KUHP Jo 55 Ayat 1 ke 1 KUHP. Namun perbedaan tuntutan karena alasan, Terdakwa Santo Kusuma Atmaja, merupakan 'otak' atau penyebab awal pergerakan masa dalam pembakaran ponton yang dimaksud.

"Karena dia (Terdakwa Santo Kusuma Atmaja) yang pelaku utama. Awalnya, keponakan Santo Kusuma Atmaja dibunuh (oleh seorang pekerja tambang). Kemudian aksi spontanitas, dia 'membakar' semangat pelaku lainnya, dengan kata-kata yang istilahnya  membakar ponton ponton itu," kata JPU Cahya.

Diakui JPU Cahya, setelah mendengar isi surat tuntutan, Pengacara Budiana Rachmawati meminta waktu satu pekan untuk menyampaikan pembelaan (peleoi) tertulis di persidangan. Sedangkan Pengacara Saparwan langsung menyampaikan pleoi usai pembacaan surat tuntutan, Rabu (18/7/2018).

"Pengacara Saparwan langsung mengajukan pledoi yang intinya minta keringanan hukuman kliennya dan diperiksa karena terdakwa (Santo Kusuma Atmaja) sakit tumor. Terkait pledoi itu, saya menyatakan tetap pada tuntutan, " tegas JPU Cahya memastikan, khusus Terdakwa Santo Kusuma Atmaja, tinggal menunggu putusan hakim, dua pekan mendatang.

Sebelumnya disebutkan,  seorang Warga Dusun Pak Lungek, Desa Air Lintang, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, bernama Peki,  tewas dibunuh oleh seorang pekerja tambang ilegal (pembunuhan sudah divonis).  Akibatnya, ratsuan Warga Tempilang mengamuk, membakar semua ponton tambang yang ada di laut tersebut, akhir 2017 lalu. Tapi rupanya aksi massa menimbulkan perkara baru.  Santo Kusuma Atmaja dkk, ditangkap dan diadili di Pengadilan. Sungailiat.

Penulis: Fery Laskari
Editor: Khamelia
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved