Breaking News:

Petugas Vaksin MR Ditolak Masyarakat Bangka Barat, Dinkes Mengaku Kecewa

Dwi Ratna Ningsih Kasi Penyakit Tidak Menular Dan Imuniasai Dinas Kesehatan Bangka Barat menyampaikan pengalaman

Agus Surono
ilustrasi vaksin 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Nordin

POSBELITUNG.CO, BANGKA -- Dwi Ratna Ningsih Kasi Penyakit Tidak Menular Dan Imuniasai Dinas Kesehatan Bangka Barat menyampaikan pengalaman dirinya dan rekan-rekannya ketika dilapangan saat memberikan faksin Meases Rubela (MR) diwilayahnya.

Diceritakan Dwi, banyak masyarakat yang mempertanyakan kehalalan dan dampak diberinya faksin. Sehingga kebanyakan dari mereka melarang anaknya difaksin.

Dampaknya adalah pembatalan oleh sekolah meskipun sebelumnya sudah dilakukan sosialisasi dan penjadwalan pemberian faksin kepada siswa.

"Kadang-kadang kecewa, pas teman-teman sudah datang ke sekolah dan melakukan sosialisasi hanya satu orang siswa atau 10 yang difaksin yang lainnya menolak, kata mereka orang tuanya melarang," ungkap Dwi kepada Bangkapos.com, Kamis (30/8/2018)

Dia melanjutkan, penolakan ini mulai muncul ketika adanya fatwa dari MUI tentang kehalalan faksin. Masyarakat kemudian menjadi ragu jika sesuatu yang dilarang masuk kedalam ketubuhnya.

"Ada juga yang sampai membuat surat penyataan menolak untuk diberi difaksin," kata Dwi

Sebetulnya menurut Dwi pemberian faksin MR dampak yang baik, terutama terhindarnya penularan penyakit pada anak usia 9 bulan sampai 15 tahun ke wanita subur apalagi hamil.

Editor: Evan Saputra
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved