Perlunya Mengangkat Budaya Beltim Melalui Tarian Lokal

Wakil Bupati Belitung Timur (Beltim) Burhanudin (Aan) mengapresiasi masih ada anak laki-laki yang masih ingin belajar seni menari.

Perlunya Mengangkat Budaya Beltim Melalui Tarian Lokal
(posbelitung/suharli)
Wakil Bupati Belitung Timur Burhanudin (baju putih), saat menghadiri pawai pembangunan beberapa waktu lalu. 

Laporan wartawan Pos Belitung, Suharli

POSBELITUNG.CO, BELITUNG TIMUR - Wakil Bupati Belitung Timur (Beltim) Burhanudin (Aan) mengapresiasi masih ada anak laki-laki yang masih ingin belajar seni menari.

Buktinya ada anak laki-laki menari dan turut serta dalam ajang festival seni dan budaya Beltim tingkat pelajar, tanggal 28-30 Agustus yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).

Aan mengatakan zaman serba gadget saat ini, menemukan bakat anak laki-laki di bidang seni tari sangat langka.

"Zaman now ini ada anak-anak laki belajar menari seni budaya lokal kami bersyukur," ujar Aan usai menutup Festival Seni dan Budaya Beltim tingkat Pelajar di pantai Nyiur Melambai, Kamis (30/8) malam.

Pemkab menginginkan agar masyarakat sadar bahwa Beltim punya akar budaya lokal yang harus dilestarikan

"Pesannya tersampaikan ke masyarakat, bahwa festival kebudayaan ini untuk masyarakat dalam rangka mengangkat kearifan lokal," kata Aan.

Aan merasa perlunya mendorong masyarakat Beltim memiliki identitas budaya yang dikembangkan dan dipelajari oleh generasi muda. Pelaku kesenian dan sanggar kesenian harus mampu menggali potensi kearifan lokal sehingga layak diangkat sebagai warisan masyarakat Beltim.

"Mengangkat tari-tarian lokal yang ade di kite, dengan seluruh keaneka ragaman budaya yang ada di Beltim, sehingga kita ingin mendorong, daripada sanggar-sanggar dan seniman-seniman agar mampu berinovasi dan berkreasi di dalam menggali potensi yang ada di Beltim," kata Aan.

Aan juga beranggapan Belitung Timur ini sarangnya para budayawan-budayawan yang mampu mengangkat potensi kearifan budaya lokal, dengan keciri khasan pulau Belitung sendiri yang memiliki tiga kerajaan besar, yakni kerajaan Badau, Balok dan Buding,

Aan menganggap hal tersebut mempengaruhi kearifan lokal, kebudayaan, sosial yang ada di masyarakat pulau Belitung, walaupun secara umum kelihatan sama.

"Buktinya seperti tarian Sepen, tari Sepen Buding dengan tarian Sepen Batu Penyu, itu berbeda, sama nama tariannya tapi gerakan berbeda," beber Aan.

Penulis: Suharli
Editor: khamelia
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved