Mengenal Tradisi Nugal, Budaya Agraris Belitong yang Semakin Langka
Nugal kini semakin sulit ditemui, setelah budaya tambang mendominasi mata pencaharian masyarakat pedesaan di Pulau Belitung
POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Riuh rendah obrolan lima orang ibu rumah tangga menambah semarak aktivitas Nugal di sebuah ladang kecil miliki Mulyadi warga Desa Batu Penyu, Kecamatan Gantung, Kamis (15/9) sore.
Nugal kini semakin sulit ditemui, setelah budaya tambang mendominasi mata pencaharian masyarakat pedesaan di Pulau Belitung.
Mulyadi hanyalah satu diantara sebagian kecil warga Desa Batu Penyu yang masih menggunakan teknik Nugal untuk menanam padi.
Keterbatasan lahan membuat teknik turun temurun ini semakin sulit diterapkan.
Teknik menanam padi dengan cara Nugal masih sangat sederhana sekali. Nugal itu sendiri berasal dari kata Tugal, sebuah alat berupa tongkat kayu dengan panjang sekitar dua meter yang digunakan untuk membuat lobang untuk menanam bibit padi.
Penanaman padi dilakukan di sebuah ladang yang dibuka dengan cara membuka hutan lalu dibakar.
Ladang atau yang dikenal dengan sebutan ume ini akan ditinggalkan setelah panen selesai dan petani kemudian membuka lahan baru dengan cara yang sama.
"Setelah selesai panen, lahan ini dak bisa lagi ditanami padi, harus cari lahan baru agik, tapi sekarang sudah terbatas, sudah banyak punye orang semue," kata Mulyadi kepada Bangka Pos Grup, Kamis (15/9/2011) sore.
Mulyadi mengaku penanaman padi dengan teknik Nugal sempat ia tinggalkan dalam kurun waktu yang cukup lama.
Terakhir kali ia menggarap ladang dengan teknik serupa sekitar tahun 1990 di Aik Mang, wilayah barat Desa Batu Penyu. Sedangkan lahan yang sekarang sedang digarap merupakan ladang yang sudah pernah ia tanami padi, sebelum berpindah ke Aik Mang.
Meski teknologi pertanian sudah sedemikian maju, namun Mulyadi masih ingin mempertahankan teknik Nugal. Menurut dia, Nugal merupakan bagian dari tuntunan leluhur yang harus dipatuhi dalam menanam padi.
"Ini ngikutin petuah orang tua jaman dulu, jadi inilah adat sejak jaman dulunye yang harus diikutin dan dijaga," jelas Mulyadi.
Jejak Kebudayaan
Kebudayaan agraris Belitung sempat dicatat oleh John Francis Loudon dalam buku hariannya, 'De eerste jaren der Billiton-onderneming', tahun 1851.
Loudon yang saat itu sedang melakukan ekplorasi timah di Pulau Belitung menyebutkan budidaya padi adalah matapencarian utama Orang Darat disamping mencari hasil-hasil hutan seperti rotan, damar, dan sebagainya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/nugal-dan-menyemai-padi_20180919_154723.jpg)