Mat Kanon Penari Kepercayaan Bung Karno yang Kakinya Terkena Granat

Mat Kanon, masih menjadi penari kepercayaan Bung Karno. Ia selalu ikut lawatan Bung Karno ke luar negeri untuk membawa misi kebudayaan.

Mat Kanon Penari Kepercayaan Bung Karno yang Kakinya Terkena Granat
KOMPAS.com/IKA FITRIANA
Rahmat Basroil alias Mat Kanon, penari sepuh yang masih melatih menari tari Jawa Klasik di Sawangan Kabupaten Magelang, Jumat (21/9/2018). 

Tetapi keinginan Mat Kanon itu ditentang keras oleh sang Kakek. Kakeknya yang religius menginginkan Mat Kanon belajar agama ke pesantren dan majelis-majelis pengajian.

Mat Kanon remaja menolak keinginan kakeknya itu. Ia tetap bersikukuh menekuni tari meski tak direstui orangtuanya dan memilih meninggalkan rumah.

"Saya minggat (kabur) dari rumah. Pergi ke Gunung Kidul, hidup seadanya di gunung, tapi tetap menari. Sampai suatu hari ikut lomba di Semarang dan menang juara 1. Setelah menang itu saya ketemu guru tari lagi dan diajari," paparnya.

Mat Kanon melanjutkan, setelah dari Semarang dirinya pergi ke Purwokerto bersama guru barunya. Hingga suatu ketika ia dipercaya pentas menari di hadapan Presiden Soekarno pada acara kenegaraan di Purwokerto.

Dari situlah, Mat Kanon direkrut untuk ikut dengan Sang Proklamator. Ia bertugas untuk menari di hadapan tamu-tamu negara ke luar negeri, ke Malaysia, Singapura dan lainnya.

Selama lebih kurang satu tahun ia mengabdi kepada Soekarno sebelum kemudian ia berhenti dan kembali ke kampung halaman untuk mengajar. Ia juga sempat mengajar ke Jerman meski tidak lama.

Kini siapapun boleh belajar menari dengannya. Selain di rumahnya, Mat Kanon juga diminta untuk mengajar di sebuah sanggar Lemtid (Lembah Tidar) di Desa Podosoko, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

Pertahankan Tari Jawa Klasik

Di sanggar milik seorang pecinta seni budaya, Tri Yudho Purwoko (Pur), ini Mat Kanon melatih anak-anak sampai dewasa menari Jawa Klasik dan Wayang Orang. Ia bertahan dengan tarian tersebut semata agar pakem tari Jawa Klasik tidak punah.

"Saya bersyukur ada Pak Pur yang peduli dengan seni dan budaya. Selama ini saya jarang dibayar, tapi di sini saya mendapat upah tiap bulan," ungkap Mat Kanon, yang sehari-sehari juga bertani itu.

Halaman
123
Editor: khamelia
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved