Benarkah Ucapan Mardani? Inilah Wanita Indonesia Pertama Pendaki Everest yang Kini Gangguan Jiwa

Benarkah ucapan Mardani Ali Sera sebut Prabowo dan timnya orang Asia Tenggara yang pertama taklukkan Everest? Ini faktanya!

Benarkah Ucapan Mardani? Inilah Wanita Indonesia Pertama Pendaki Everest yang Kini Gangguan Jiwa
Dzargon
Clara Sumarwati 

Karena pada tahun 1995, terjadi badai dahsyat di Himalaya yang menewaskan 208 pendaki dari berbagai negara.

Akhirnya Clara Sumarwati menjadikan dirinya orang Asia Tenggara yang pertama sampai di puncak Everest, yaitu pada 26 September 1996.

Nama dan tanggal pencapaiannya tercatat antara lain di buku-buku mengenai Everest karya Walt Unsworth (1999), "Everest: Expedition to the Ultimate" karya Reinhold Messner (1999) dan website EverestHistory.com.

Dalam pencarian informasi di Google, juga terdapat 889 hasil yang menyebutkan bahwa Clara Sumarwati adalah pendaki asal Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang berhasil mencapai Gunung Everest di ketinggian 8.848 mdpl.

Atas prestasinya ini, dia mendapatkan penghargaan Bintang Naraya dari pemerintah saat itu, TribunJatim.com melansir Kompas.com.

Sayangnya, prestasi Clara ini sempat diragukan kebenarannya dari berbagai pihak di Tanah Air.

Semata-mata karena Clara dianggap tidak memberi cukup bukti, contohnya seperti foto yang menunjukkan ia memegang bendera yang tertancap di puncak.

Kini Clara, lahir pada 6 Juli 1967, yang telah berusia 44 tahun, dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof dr Soerojo, Magelang.

Direktur Medik dan Keperawatan RSJ Prof dr Soerojo, Magelang, Bella Patriajaya mengatakan kepada Kompas.com, Clara adalah pasien kambuhan yang sudah tiga kali menjalani perawatan.

Gangguan jiwa yang dideritanya beberapa kali kambuh karena dia tidak rutin mengkonsumsi obat.

"Namun, sejauh ini, kami belum bisa menyimpulkan faktor pemicu apa yang menyebabkan Clara mengalami gangguan jiwa," ujarnya, Minggu (11/10/2018).

Sekarang ini, Clara sudah menjalani perawatan di RSJ selama dua minggu.

Kendati kondisinya membaik, keluarga menolak menjemputnya karena khawatir sewaktu-waktu Clara kumat kembali.

Surat penolakan menjemput ini bahkan dilampiri keterangan dari RT dan RW setempat dari alamat tempat tinggalnya di Minggiran, Sleman, DIY.

Dalam suratnya menyatakan, lingkungan sekitar alamat tempat tinggalnya juga menolak keberadaan wanita ini kembali.

"Dengan kondisi tersebut, Clara tidak bisa dipulangkan, dan kami tampung dulu di sini," ujar Bella.

Menurut Bella, ini merupakan kondisi yang rutin dialami pasien di RSJ.

Dengan berbagai kejadian semacam ini, dapat disimpulkan bahwa selain beban gangguan jiwa yang dialaminya, pasien sebenarnya menanggung masalah yang lebih besar, yaitu beban sosial karena ditolak oleh lingkungannya.

"Ini lumrah terjadi pada pasien gangguan jiwa mana pun, termasuk mereka yang berprestasi seperti Clara," ujarnya.

Clara pertama kali masuk dan dirawat di RSJ, setahun setelah menaklukkan Everest, yakni pada 1997.

Selama di RSJ, dia pun kerap bercerita bahwa dia pernah mendaki Gunung Everest.

Namun, ceritanya kerap diabaikan oleh para tenaga medis karena dianggap hanya sebagai bagian dari khayalannya.

"Kami pun bertambah tidak percaya, karena pihak keluarganya sendiri menyangsikan dia pernah mendaki gunung," ujarnya.

Prestasi Clara dan keberadaannya sebagai sosok istimewa yang pernah mengharumkan nama bangsa, baru terungkap pada minggu lalu.

Saat itu, ada sejumlah tim penilai pemuda pelopor dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga yang datang untuk menilai wakil kontingen Jawa Tengah untuk lomba pemuda pelopor tingkat nasional, Poppy Safitri.

Salah satu aktivitas Poppy Safitri adalah mengajar tari di RSJ.

Dalam kunjungan ke RSJ itulah, salah satu anggota tim mengenali sosok Clara.

 

Editor: khamelia
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved