Breaking News:

Fahri Hamzah Tanggapi Sikap BIN Terkait Publikasikan 50 Penyebar Paham Radikal, Begini Isinya

Fahri Hamzah Kritisi Sikap BIN Terkait Publikasikan 50 Penyebar Paham Radikal, Begini Isinya

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah. 

POSBELITUNG.CO -- Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah meminta Badan Intelijen Negara (BIN) tidak melakukan pekerjaan publik seperti kegiatan melarang atau melakukan sesuatu.

Sebagai lembaga intelijen, BIN seharusnya menyampaikan informasi kepada satu orang, yakni Presiden.

Hal itu terkait keterangan BIN yang menyebut ada 50 penceramah diduga menyebarkan paham radikal di 41 masjid.

“BIN itu kan single user, yang hanya bisa memberikan informasi kepada Presiden, bukan mengumbarnya ke publik,” tegas Fahri usai memimpin Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan II Tahun Sidang 2018-2019 di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Informasi intelijen, ujar legislator dapil Nusa Tenggara Barat (NTB) itu, seharusnya dibisikkan ke telinga Presiden.

Bilapun informasi penting dan harus diumumkan, maka pihak terkait lainlah yang melakukannya, seperti Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), kalau itu terkait dengan organisasi atau lain-lain.

Baca: Video Icha Gwen dengan Gading Marten Jadi Perbincangan Setelah Gisel Guat Cerai Suami, Ini Jelasnya

Baca: Tak Terima Disindir Prabowo Soal Pemerintahan Jokowi Menyerah Pada Asing, Menteri Luhut Bilang Ini

“Sebab, hal itu membuat reputasi BIN sebagai lembaga intelijen turun. Jadi, BIN harus dijaga sebagai indra negara melalui Presiden dalam rangka menjaga dan melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia,” ujar Pimpinan DPR RI Koordinator Bidang Kesejahateraan Rakyat (Korkesra) itu.

Sebelumnya, juru bicara Kepala BIN Wawan Hari Purwanto mengungkapkan adanya 50-an penceramah yang menyebarkan paham radikal di 41 masjid.

Bahkan pihaknya sudah melakukan pendekatan dengan berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI), terhadap para penceramah tersebut.

Menurut Wawan ada tiga kategori radikal, yakni rendah, sedang, dan tinggi.

Baca: Sudah 3 Hari, Pria Tulungagung Ini Sholat dan Tinggal di Pohon, Warga Ungkap Masa Lalu & Penyebabnya

Baca: Tak Puas Pelayanan Kencan Rp 400 Ribu, Janda Muda Beranak Satu Ini Dianiaya Pelanggannya Pakai Badik

“Kalau yang rendah, masih dalam kategori yang masih ditolerir nilainya. Kalau sedang sudah mulai mengarah ke kuning, kuning itu perlu disikapi lebih. Tapi yang merah artinya sudah parahlah, ini perlu lebih tajam lagi untuk bagaimana menetralisir keadaan,” jelas Wawan.

Ia menerangkan kategori tinggi atau merah itu sudah mendorong ke arah gerakan seperti simpati ke ISIS dan Marawi, serta membawa aroma konflik di Timur Tengah ke Indonesia.

“Jadi mereka yang kategori ‘Merah’ mengutip ayat-ayat perang, misalnya. Sehingga menimbulkan pengaruh ke emosi, sikap, tingkah laku, opini, dan motivasi publik,” paparnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Fahri Hamzah Kritisi Sikap BIN Publikasikan 50 Penyebar Paham Radikal

Baca: Nia Ramadhani Ternyata Punya Kamar Mandi Berlapis Emas, Tapi Sang Anak Malah Mandi di Ember Cucian

Baca: Terburuk Dalam Sejarah, Gurun Arab Saudi Jadi Laut Karena Banjir dan Badai, Intip Videonya di Sini

Baca: Salah Pilih Korban, Pria Ini Kesakitan Saat Tangannya Terkunci Teknik Jiu-Jitsu Gadis Ini

Baca: Gisel Gugat Cerai Gading, Inilah Pernyataan Sejumlah Pihak dari Babysitter Gempi hingga Kuasa Hukum

Baca: Selain Gisella Anastasia, Ternyata 4 Artis Cantik ini juga Menikah Muda Lalu Gugat Cerai Suami

Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved