Breaking News:

Muhammad Hatta, Beli Mesin Jahit Bekas hingga Miliki Usaha Sendiri

Bermodalkan kemampuan menjahit yang dipelajarinya secara otodidak, kini ia selalu kebanjiran pesanan membuat kerajinan baju hingga tanjak.

Pos Belitung/Adelina Nurmalitasari
Muhammad Hatta menunjukkan tanjak hasil buatannya di rumah produksi Desa, Batu Itam, Kecamatan Sijuk, Minggu (6/1/2019). 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Usianya baru menginjak 21 tahun, namun berbagai hasil karyanya sudah pernah ditampilkan pada pameran-pameran yang diadakan di Solo, Jakarta, Palembang, Lampung, hingga Singapura.

Dari bentuk kerajinan seperti suvenir dan gantungan kunci, hingga tanjak atau ikat kepala khas Melayu, baju adat, keminangan atau tapak sirih serta tudung saji mampu dibuat Muhammad Hatta.

Bermodalkan kemampuan menjahit yang dipelajarinya secara otodidak, kini ia selalu kebanjiran pesanan membuat kerajinan baju hingga tanjak.

Bukan hanya menjual dengan merek yang dimilikinya, ia pun rutin menerima pesanan menjahit. Bahkan kini ia juga mengembangkan usaha penyewaan hantaran hingga paketan peralatan makan bedulang.

Pemilik Sanggar Seni Rumah Hatta Kabong ini rupanya mulai tertarik menjahit sejak duduk di bangku SMP, sekitar usia 15 tahun. Hatta remaja pun bahkan membeli mesin jahit bekas dari hasil tabungannya.

"Mesinnya lah hitam. Tapi dak nak dijual, itulah saksi bisu perjalanan Hatta," katanya sembari tertawa, saat ditemui Pos Belitung di rumah produksinya, Desa Batu Itam, Kecamatan Sijuk, Minggu (6/1/2019).

Sudah terbiasa menerima pesanan menjahit hingga membuat kerajinan, Hatta pun terbiasa mandiri. Bahkan sejak duduk di bangku SMA, ia yang bersekolah di SMA Negeri 2 Tanjungpandan ini sudah bisa membiayai diri sendiri.

"Jadi pas SMA, aku juga banyak ngajar Pramuka atau ngajar ekskul di sekolah-sekolah. Sudah kayak PNS lah, tiap bulan gajian," kenangnya.

Meski sibuk mengembangkan usahanya, Hatta tak mengesampingkan pendidikan. Ia yang kini kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta ini juga aktif dalam berbagai kegiatan kampus. Kerja keras membuatnya bahkan didapuk membawa nama kampus beberapa kali.

Berbagai penghargaan juga diraih ini terlihat dari puluhan piala yang berbaris rapi di rumah produksinya. Sebut saja sebagai UKM terbaik tingkat provinsi, lomba membatik, hingga penghargaan dari pemerintah daerah Kabupaten Belitung.

Tak sekadar kuliah, di Yogyakarta Hatta juga menjual dagangannya. Bahkan ia memiliki 3 mesin jahit di asrama yang mendukung produksinya. Produk buatannya pun sering dititipkan di Gerai Budaya Nusantara juga beberapa tempat oleh-oleh dengan tetap menggunakan brand Belitung.

"Aku juga buka penyewaan baju Melayu. Cukup banyak yang gunakan terutama mahasiswa Bangka Belitung di Jogja," tuturnya. (POSBELITUNG.CO/Adelina Nurmalitasari)

Penulis: Adelina Nurmalitasari
Editor: Khamelia
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved