Perilaku Abnormal Pak Guru Olahraga Diselidiki Polisi, Ada 20 Bocah SD Jadi Korban hingga Bukti Ini

Kasub Bag Humas Polres Malang Kota Ipda Ni Made Seruni Marhaeni menjelaskan, ada dua orangtua yang datang ke Polres Malang Kota.

Perilaku Abnormal Pak Guru Olahraga Diselidiki Polisi, Ada 20 Bocah SD Jadi Korban hingga Bukti Ini
Trubun Lampung/Dody Kurniawan
Ilustrasi pencabulan para murid di SDN 3 Kauman Malang 

Dihubungi di tempat terpisah, M Rosyidi, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Jodipan menceritakan, bahwa pelaku pedofil di SDN Kauman 3 diduga merupakan orang yang sama ketika anaknya masih sekolah di SD Jodipan.

Saat itu, Rosyid kerap mendengar adanya perilaku pelecehan seksual terhadap siswa yang dilakukan oleh seorang guru berinisial I. I adalah guru olahraga.

“Anak saya yang cerita sendiri ke saya. Tapi I ini tidak berani mendekati anak saya karena mungkin tahu bapaknya siapa,” ujar Rosyid.

Perilaku pelecehan seksual itu sudah ia dengar sejak sebelum tahun 2003.

Berdasarkan keterangan Rosyid, I kerap melakukan sentuhan kepada para muridnya yang perempuan.

“Tapi saat itu anak-anak tidak berani melapor,” imbuhnya.

Kemudian para wali murid kala itu melakukan protes kepada kepala sekolah.

Setelah itu, kepala sekolah memberikan teguran kepada pelaku.

Royid pun menyarankan kepada petugas kepolisian untuk bisa meminta keterangan kepada Mujiono, mantan kepala sekolah SD Jodipan yang saat ini sudah pensiun.

“Harapan saya bisa ditelusuri dan bisa minta keterangan ke mantan Kepala Sekolah pak Mujiono. Paling tidak bisa memberikan keterangan karena saat itu memberikan teguran kepada I,” terangnya.

Teguran itu dilakukan Mujiono atas dorongan wali murid yang resah mendegar adanya tindakan perilaku pelecehan seksual.

“Ada teguran keras dari sekolah saat itu sehingga pelaku pindah sekolah. Bahkan pelaku sempat lari ke Madura,” ungkapnya.

Dari SD Jodipan, I kemudian pindah ke SD Purwodadi. Setelah itu pindah ke SDN Kauman 3. Selama berada di SD Purwodadi ini, Rosyid tidak mendengar adanya tindakan pelecehan oleh I.

Baru di SDN Kauman 3 ini kemudian ia mendengar lagi.

“Pelaku harus dihukum keras. Kalau bisa dipecat. Jangan sekadar dimutasi, itu hanya akan memberi lahan baru bagi dia,” paparnya. (Benni Indo)

Korban diduga lebih dari 20 anak dan terekam di video

Kasus pedofilia yang terjadi di SDN Kauman 3 semakin muncul ke permukaan dan meresahkan wali murid. Seorang wali murid yang ditemui Surya (Grup TribunJatim.com) bercerita, ia ingin agar pelaku mendapatkan hukuman yang berat karena telah merusak masa depan putrinya.

Suatu malam menjelang tidur, ibu wali murid itu bertanya kepada anaknya yang sekolah di SDN Kauman 3.

“Apa yang sebetulnya terjadi dengan guru berinisial IM di sekolah?” kata si ibu menceritakan kembali kepada Surya.

Pertanyaan itu muncul bukan serta merta begitu saja, melainkan berdasarkan desas-desus yang si ibu dengar belakangan ini.

“Ya begitu itu. Senang menyentuh-nyentuh,” jawab si anak kepada ibu.

“Adik pernah di sentuh?” tanya si ibu.

“Pernah. Dua kali,” jawab anak.

Kesaksian itu membuat si ibu sedih, sekaligus memendam amarah. Bagaimana tidak, sejak menyekolahkan anaknya yang pertama hingga yang paling kecil selama 15 tahun, di SDN Kauman 3, baru kali ini ia mendapati kabar pedofilia.

Lebih menyedihkan lagi, putrinya menjad menjadi satu di antara korbannya.

Si ibu kemudian bercerita lebih detail.

Pada 29 Januari 2019, pihak sekolah mengundang sekitar 20 orangtua walimurid.

Undangan itu topiknya agenda pendidikan.

Si ibu yang menjadi narasumber Surya ini awalnya tidak mendapatkan undangan.

Namun ia mengetahui adanya informasi undangan itu.

“Sebelumnya saya ikut kumpul-kumpul dengan para orangtua wali murid. Saat makan-makan itu, mereka cerita ada kasus seperti ini. Makannya saya juga maksa ikut datang saja meski tidak diundang,” katanya.

Saat di sekolah, para wali murid ditemui Kepala Sekolah SDN Kauman 3 Irina Rosemaria dan Musiah, seorang guru kelas 6.
Pertemuan itu berlangsung di sebuah ruangan.

“Saat pertemuan itu, kepala sekolah bilang kalau pihaknya kecolongan akibat perilaku yang dilakukan oleh guru olahraga,” katanya.

Si ibu kemudian mengangkat tangan. Namun ia mengaku sempat diabaikan oleh Irina.

Saat mendapatkan kesempatan, si ibu menanyakan kenapa kasus itu tidak dilaporkan ke pihak kepolisian?

“Jawabannya, kata kepala sekolah, apa tidak dipikirkan lebih jauh. Nanti anak-anak anda akan dibawa-bawa oleh para wartawan dan polisi,” tutur si ibu menceritakan kembali apa yang disampaikan Irina dalam pertemuan akhir Januari itu.

Sekolah juga mempertimbangkan nama baik sekolah ketika kasus itu dilaporkan ke pihak kepolisian. Si ibu mendengar langsung bahwa IM mengakui perubuatannya ketika ditanya oleh Irina.

Si ibu terus bercerita dengan sesekali menghelus dada dan menghela nafas panjang.

“Ada juga rekaman video yang diambil oleh seorang guru. Video itu menggambarkan pelecehan yang dilakukan pelaku. Tapi ya itu, video itu sampai sekarang tidak dieketahui keberadaannya. Saya tegaskan, kalau pihak sekolah sampai menghilangkan video itu, berarti itu salah karena itu barang bukti,” tegasnya.

Dalam pertemuan itu, terdapat sejumlah orangtua walimurid yang menangis ketika menceritakan kembali pelecehan seksual yang dialami anak-anaknya.

Bahkan ada anak yang dibekap oleh IM demi memenuhi hasrat seksualnya. Namun anak itu berhasil melepaskan diri dari bekapan setelah menggigit tangan pelaku.

Selain itu, ada juga dua orang anak yang disuruh memegang alat kelamin pelaku. Kedua pelaku lantas disuruh mengonani kemaluan pelaku.

“Ada ibu-ibu yang anaknya mengalami kelakuan yang parah. Mereka menangis menceritakan itu,” tegas si ibu sembari geleng-geleng kepala.

Kata si ibu, pelaku kerap mengincar korban yang berasal dari kelas rendah seperti kelas 1 atau 2. Pasalnya mereka tidak berani melapor dan tidak mengetahui apa dampak dari perilaku yang dilakukan pelaku.

Dari 20 an orangtua walimurid yang diundang ke sekolah, ia mengasumsikan ada 20 anak juga yang menjadi korban. Bahkan angka itu bisa lebih.

Dengan temuan fakta seperti itu, si ibu heran tidak ada tindakan tegas dari pihak sekolah. Pasalnya, perilaku IM membahayakan masa depan anak-anaknya.

Pelaku merupakan guru baru di SDN Kauman 3. Ia masuk ke SD sejak semester ganjil pada Agustus 2018.

Dari keterangan yang didapat Surya di lapangan, sudah sejak Agusutus itu pelaku melakukan perbuatan bejatnya.

Keterangan itu didapat dari informasi bahwa ada seorang anak yang mengaku mendapat perilaku pelecehan seksual sejak pelaku masuk dan mengajar di SDN Kauman 3.

Dalam pertemuan itu, pihak sekolah mengaku telah melaporkan perilaku salah satu gurunya itu ke Dinas Pendidikan Kota Malang. Setelah laporan itu masuk, pihak Dinas Pendidikan Kota Malang menon aktifkan pelaku.

“Iya, katanya di non aktifkan,” imbuhnya.

Namun si ibu masih merasa tidak puas. Ia pun berencana untuk melaporkan kejadian itu ke polisi agar pelaku mendapatkan ganjaran yang setimpal, tidak sekadar sanksi non aktif.

Si ibu awalnya mengajak beberapa wali murid untuk melaporkan kasus itu ke polisi. Namun, banyak yang tidak bisa.

Alasannya beragam, ada yang dilarang oleh suaminya, ada yang menghadiri acara pernikahan hingga terkendala karena ada anaknya yang sakit.

Akhirnya si ibu berangkat sendiri ke Polres Malang Kota untuk melapor. Si ibu bersama seorang orangtua walimurid lagi dimintai keterangan polisi. Bahkan anaknya juga sudah menjalani visum di rumah sakit. (Benni Indo)

Wali Kota Malang bakal memrosesnya

Wali Kota Malang Sutiaji berjanji akan memproses dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang guru olahraga kepada siswa di SDN Kauman 3.

"Wali Murid tidak boleh ada keraguan bahwa kami akan memproses kasus ini secara proporsional sesuai UU ASN," kata Sutiaji saat ditemui di SDN Kauman 3, Senin (11/2/2019).

Ia menambahkan berdasarkan keterangan pihak sekolah, Kepala Sekolah (Kasek) DN Kauman 3, Iriana Rosemaria telah mengetahui dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh IS. Pihak sekolah kata dia juga telah melaporkan hal tersebut kepada Dinas Pendidikan Kota Malang.

"Sebagian sudah ada di media bahwa memang ada kejadian yang tidak sesuai norma," katanya.

Sutiaji juga berencana mengundang seluruh sekolah untuk memberikan peringatan agar kasus pelecehan seksual tidak terulang, "Saya minta kepada Diinas Pendidika. segera melakukan koordinasi kepada semua sekolah, bukan ini saja, agar tidak terjadi lagi hal semacam ini," ucapnya.

Terkait laporan wali murid kepada polisi, Sutiaji mendukung penuh dan berharap dapat segera diselesaikan.

"Itu bukan domain saya untuk memberikan tafsir dan penjelasan," ucap dia. (Siti Aminatus Sofya)

Guru I Sudah Dinonaktifkan Dindik Kota Malang

Totok Kasianto, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Malang menyatakan sudah menonaktifikan guru olahraga I sejak kasus dugaan pelecehan seksual pada siswanya.

Hal itu disampaikan Totok saat bertemu suryamalang.com (Grup TribunJatim.com) saat mengikuti kunjungan Walikota Malang, Sutiaji, ke SDN Kauman 3 Kota Malang, Senin (11/2/2019) untuk klarifikasi masalah itu.

"Dinonaktifkan atau dibina sejak mencuat hal itu," katanya.

Ia ditempatkan di kantor pengawas SD.

Pembinaan berapa lama, ia tidak menjawab lugas. Sebab informasinya, guru I juga akan pensiun pada September 2019.

Sedang Kepala SDN Kauman 3, Irina Rosemaria menambahkan sudah menceritakan semua ke Walikota Malang.

"Saya nggak bisa komentar lagi. Saya mau ada acara di Kepanjen," jelas Irina terpisah. Komsiyatun, guru kelas 6 juga menyatakan tidak ada siswanya yang kena. "Anak-anak sudah saya bentengi," katanya. Sementara dari pantauan di sekolah, siswa kelas 6 beraktiiftas biasa dengan olahraga di lapangan sekolah.

Guru olahraganya beda. Walikota Malang sempat mendatangi siswa karena mereka ingin bersalaman dengan walikota. "Rumahmu dimana?," sapa Sutiaji. Beberapa siswa ditanyai rumahnya. Setelah memberi keterangan pada wartawan, Walikota Malang meluncur ke SMPN 13. (Sylvianita Widyawati)

Editor: edy yusmanto
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved