Breaking News:

Gizi Buruk dan Stunting Meningkat di Beltim Meski Tidak Signifikan

Berdasarkan data EPPGBM per 31 Desember 2018 terlihat terdapat 845 orang baduta/balita yang

Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Kependudukan dan Kelurga Berencana Muhammad Yulhaidir 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG--Kasus gizi buruk dan stunting menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Belitung Timur.

Meskipun di Belitung Timur (Beltim) bukan tertinggi kasus gizi buruk se-Provisi Bangka Belitung, namun ada peningkatan kasus gizi buruk selama tahun 2018 lalu.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Beltim, Muhammad Yulhaidir disela kegiatan, rapat koordinasi terpadu program kesehatan keluarga dan gizi tingkat kabupaten Belitung Timur 2019.

Kegiatan ini mengusung Tema "akselerasi pengandalian ibu, bayi dan penanggulangan masalah gizi kronik pada kelompok rentan melalui optimalisasi pelayanan kesehatan dengan pendekatan continuum of care".

Yulhaidir menyampaikan permasalahan gizi masyarakat pada kelompok rentan juga menjadi fokus penting untuk ditindaklanjuti dengan intervensi komprehensif. 

"Berdasarkan data EPPGBM per 31 Desember 2018 terlihat terdapat 845 orang baduta/balita yang mengalami stunting dan 51 orang bayi/balita mengalami gizi buruk.

Selain itu juga masih ditemui ibu hamil dengan masalah gizi kronis (BUMIL KEK) yaitu sebanyak 207 orang tahun 2017, menjadi 233 orang tahun 2018," jelas Yulhaidir ujar Yulhaidir kepada posbelitung.co, Selasa (19/2/2019).

"Kalau untuk kondisi stunting berdasarkan data memang ada peninggkatan, tapi dibandingkan 7 kabupaten kota, Beltim tidak terlalu signifikan agak cukup rendah, ini seperti fenomena gunung es, belum terdeteksi sampai rana paling mendasar,

kita harap ini kita kejar juga jangan sampai ada yang tersisa, meski masalah stunting di Beltim ini keliatan kecil tapi tetap kita cari, dengan harapan perdenteksian ini memudahkan penanganan selanjutnya," ujar Yulhaidir.

Yulhaidir berpendapat yang menyembabkan stunting adalah pola gizi atau juga genetis, namun menurutnya saat ini paling dominan ialah pola gizi,

untuk itu Dinkes menekankan bagaimana ketika seorang Ibu di kehamilan pertama atau diusia bulan pertama dilakukan pemantauan berkala tidak boleh putus, supaya dapat melihat perkambang kesehatan janin jangan sampai saat kelahiran gizi kurang, berat badan kurang sehingga muncul stunting.

Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut, Yulhaidir mengatakan perlu dilakukan upaya penguatan pengendalian kematian ibu dan anak serta masalah status gizi pada kelompok rentan. 

"Upaya tersebut tentunya harus dilakukan secara berkesinambungan di tahapan tumbuh kembang mulai dari persiapan kehamilan sampai dengan balita atau dikenal dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)," katanya. 

Menurut Yulhaidir upaya tersebut juga harus dilakukan secara komprehensif dengan cara mengintegrasikan upaya pengendalian melalui lintas program dan lintas sektor dalam rangka mengoptimalkan akselerasi pengendalian kematian ibu dan anak serta gizi masyarakat. (*)

Penulis: Suharli
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved