Bangsa Jepang Terobsesi dengan Ketepatan Waktu, Ini Alasannya

Bulan lalu, Jepang diguncang skandal. Bukan skandal korupsi atau sejenisnya tetapi seorang menteri yang terlambat datang ke parlemen

Bangsa Jepang Terobsesi dengan Ketepatan Waktu, Ini Alasannya
Shutterstock
Jaringan kereta api di Jepang adalah salah satu organisasi yang paling menghargai ketepatan waktu. 

Budaya baru ini dianggap menjadi kunci utama kemajuan pesat Jepang dari negeri agraris menjadi sebuah masyarakat industri modern.

Sekolah, perusahaan, dan jaringan kereta api, di mana ketepatan waktu diberlakukan ketat, menjadi institusi yang menjadi ujung tombak perubahan budaya ini.

i masa inilah, jam tangan menjadi benda populer dan konsep 24 jam sehari menjadi hal yang familiar bagi warga biasa.

Di atas semua itu, menurut peneliti Ichiro Oda, saat itulah warga Jepang menyadari konsep "waktu adalah uang".

Pada 1920-an, ketepatan waktu dilembagakan dalam berbagai propaganda negara. Berbagai poster soal ketepatan dan penghematan waktu disebar.

Misalnya bagaimana cara perempuan menata rambut dalam lima menit jika tak ada acara khusus.

Sejak saat itulah, ketepatan waktu dikaitkan dengan produktivitas di perusahaan dan organisasi.

Demikian penjelasan Makoto Watanabe, guru besar ilmu komunikasi dan media di Universitas Bunkyo Hokkaido.

"Jika pekerja datang terlambat, perusahaan dan pekerja lain akan menderita," kata dia.

"Secara pribadi, jika saya terlambat, maka saya tak bisa menyelesaikan tugas yang seharusnya saya kerjakan," tambah dia.

Sedangkan Mieko Nakabayashi, guru besar ilmu sosial di Universitas Waseda mengatakan, amat penting para pekerja datang tempat waktu.

"Jika Anda tak bisa melakukan itu, maka Anda dengan cepat mendapat reputasi buruk di dalam perusahaan," kata Mieko.

Meski demikian, lanjut Mieko, ketepatan waktu tidak berbanding lurus dengan efisiensi.

Pada 1990, tragedi terjadi di prefektur Hyogo saat pelajar berusia 15 tahun tewas tergencet gerbang sekolah.

Dia tewas saat berusaha menyelinap saat gerbang sekolah mulai ditutup pada pukul 08.30 waktu setempat. Guru yang menekan tombol penutup gerbang dipecat dan insiden itu memicu debat publik.

"Saat itu, amat lazim menutup gerbang tepat waktu dan menghukum siswa yang terlambat berlari mengelilingi lapangan," ujar Yukio Kodata (33), warga Kanada keturunan Jepang yang kini tinggal di negeri leluhurnya itu.

Yukio menambahkan, catatan keterlambatan siswa datang ke sekolah bisa memengaruhi peluang mereka masuk ke universitas.

Ujungnya, penekanan pada ketepatan waktu dan kaburnya batas untuk waktu lembur memengaruhi kualitas hidup.

"Di Jepang, warga memiliki mentalitas bahwa jika orang lain melakukan itu, maka mereka harus melakukan hal yang sama," kata Yukio.

"Banyak teman saya yang datang dari Jepang ke Kanada, tak ingin pulang. Mereka suka makanan dan hiburan di Jepang, tetapi mereka tak ingin bekerja di sana," tambah dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengapa Bangsa Jepang Terobsesi dengan Ketepatan Waktu?

Penulis : Ervan Hardoko

Tags
Jepang
Editor: khamelia
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved