Jelajahi Makam Nelangsa Laskar Dipanagara di Kulonprogo

Pada akhir 1825 hingga pertengahan 1826, desa ini merupakan markas kedua Dipanagara, selepas Selarong.

Jelajahi Makam Nelangsa Laskar Dipanagara di Kulonprogo
G. Kepper
Mayor Jenderal Joseph van Geen di Dekso saat kecamuk Perang Jawa dalam sketsa imajiner karya G. Kepper pada 1900. 

Nisan-nisan itu berbentuk limas polos, namun beberapa berhias motif tumpal sederhana. Tanpa nama, tanpa identitas apapun.

Tampaknya, satu batu mewakili satu orang seperti permakaman di Arabia. Ki Roni menghitungnya sambil menunjuk satu per satu. “Jumlahnya ada 147 makam,” ucapnya. “Tapi sepertinya ada beberapa batu nisan yang hilang.”

Saya bertanya kepada Ki Roni, mungkinkah IKPD mengajak keluarga keturunan laskar Dipanagara untuk merawat tempat ini? “Justru keturunan laskar Dipanagara yang mengejar-ngejar saya untuk merawat,” ungkapnya.

Kemudian dia menirukan pinta keturunan laskar Dipanagara, “Mas, mohon makam ini dirawat. Bukankah ini makan para prajurit kakek moyang Anda?”

Bentuk nisan di permakaman laskar Dipanagara di Desa Dekso, Kulonprogo. Desa ini pernah menjadi markas besar Dipanagara pada akhir 1825 hingga pertengahan 1826
Bentuk nisan di permakaman laskar Dipanagara di Desa Dekso, Kulonprogo. Desa ini pernah menjadi markas besar Dipanagara pada akhir 1825 hingga pertengahan 1826 (Mahandis Yoanata Thamrin)

Sebagai pendiri IKPD, selain menghimpun wangsa Dipanagaran, Ki Roni juga turut mengayomi perkumpulan-perkumpulan keturunan laskar Dipanagara.

Namun, membangun sebuah jaringan organisasi memang tidak mudah. Berbeda dengan keturunan Sang Pangeran dari Makassar atau Ambon, demikian ujar Ki Roni, keturunan moyangnya yang menghuni Kulonprogo dan perbukitan Menoreh sebagian besar adalah para petani kecil.

“Umumnya mereka adalah orang-orang susah,” ujarnya. “Mereka betul-betul tidak pernah diberi kesempatan—untuk mengetahui sejarah leluhurnya.”

Ki Roni Sodewo, keturunan ketujuh Dipanagara, berdiri di permakaman laskar moyangnya di Desa Dekso.
Ki Roni Sodewo, keturunan ketujuh Dipanagara, berdiri di permakaman laskar moyangnya di Desa Dekso. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)

Penulis : Mahandis Yoanata Thamrin
Editor : Bayu Dwi Mardana Kusuma

Editor: fitriadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved