Erwin Rommel, Jenderal Nazi Jerman Berjuluk Rubah Gurun Perang Dunia II Bunuh Diri Tenggak Sianida

Kepemimpinannya saat memimpin pasukan gabungan Jerman dan Italia membuatnya disegani sebagai komandan tank terbaik, dan mendapat julukan Rubah Gurun.

Erwin Rommel, Jenderal Nazi Jerman Berjuluk Rubah Gurun Perang Dunia II Bunuh Diri Tenggak Sianida
AFP/FRANCE PRESSE VOIR
Komandan Nazi Jerman di Front Afrika, Erwin Rommel. 

Di sana, Erwin Rommel mencurahkan bakat menulisnya, dan menghasilkan buku pelatihan infanteri yang terbit pada 1934. Saat itu, pangkatnya menjadi Oberstieutnant (Letnan Kolonel).

Dia ditempatkan di Batalion Jaeger Ketiga, Resimen Infanteri Ke-17 yang bermarkas di Goslar. Di sana, Rommel bertemu Pemimpin Nazi Adolf Hitler.

Terkesan dengan reputasi Erwin Rommel sebagai intruktur militer hebat, Hitler menugaskannya sebagai perwira penghubung Kementerian Perang dengan Pergerakan Muda Hitler.

1 Agustus 1937, Erwin Rommel dipromosikan sebagai Oberst (Kolonel). 1938, Rommel menjadi komandan Akademi Militer Theresian di Wiener Neustadt.

Oktober 1938, Hitler secara khusus memintanya sebagai komandan kedua Fuehrerbegleitbatallion atau pasukan pengawal Fuehrer.

Selama menjadi komandan pengawal pribadi Hitler, Erwin Rommel meluangkan waktunya mempelajari mesin dan mekanika, sistem pembakaran mesin hingga senjata berat.

4. Perang Dunia II

23 Agustus 1939, Erwin Rommel naik pangkat sebagai Mayor Jenderal dan menjabat Komandan Fuehrerbegleitbatallion saat Invasi Polandia yang dimulai 1 September 1939.

Kesuksesan di Polandia rupanya membuat Erwin Rommel tertarik untuk terjun kembali ke medan perang. Dia berusaha meyakinkan Hitler agar menempatkannya di salah satu Divisi Panzer.

Februari 1940, dia menjadi Komandan Divisi Panzer Ketujuh berkekuatan 218 tank di tiga batalion, dua resimen senapan serbu, satu batalion teknisi, hingga batalion anti-tank.

Prestasi besar langsung ditunjukkan dalam penugasan pertama dengan divisinya ambil bagian dalam serbuan melalui Sungai Meuse.

Divisi Lapis Baja Ketujuh menerobos hutan di kawasan Ardennes, dan berhasil memotong kekuatan pasukan Inggris-Perancis di selatan dan utara sampai Somme.

Erwin Rommel berhasil menawan 100.000 prajurit beserta 450 unit tank. Adapun pihaknya menderita kerugian 2.500 serdadunya gugur dan 42 tank hancur.

Keberhasilan Erwin Rommel membuat Hitler menggesernya untuk mengepalai Korps Afrika Jerman (DAK) yang baru dibentuk, berkekuatan Divisi Ringan Kelima dan Divisi Panzer Ke-15.

Dia diangkat sebagai Letnan Jenderal, dan segera terbang ke Tripoli, Libya, untuk membantu militer Italia yang menderita kekalahan dari pasukan Persemakmuran Inggris di Operasi Kompas.

Saat itu, Erwin Rommel harus melawan pasukan Sekutu yang dipimpin Panglima Tertinggi Komando Timur Tengah, Jenderal Archibald Wavell.

Dia harus melawan Sekutu dengan modal hanya dua divisi. Meski begitu, Erwin Rommel mampu memukul mundur pasukan Inggris dalam waktu 30 hari.

Bahkan, dia mampu membawa pasukannya mengepung pertahanan lawan di sekitar kota Tobruk yang berjarak 160 kilometer di belakang medan tempur antara April hingga Desember 1941.

Sempat dihantam balik Inggris, Erwin Rommel kembali dengan membawa DAK pada Juni 1942, dan akhirnya merebut Tobruk dalam serangan yang dikenal sebagai Pertempuran Gazala.

Dikenal karena kepiawaiannya memimpin pasukan langsung ke garis depan alih-alih belakang, jurnalis Inggris menjulukinya "Rubah Gurun".

Selain di kalangan anak buahnya, Erwin Rommel dipuji sebagai "Marsekal Rakyat" dan populer di Arab karena bertindak sebagai pembebas dari penjajahan Inggris.

Tidak lama kemudian, Hitler menganugeraninya pangkat Field Marshal, dan memperoleh reputasi sebagai salah satu jenderal sukses Hitler.

5. Kekalahan di El Alamein

Kesuksesan di Gazala hanya bertahan selama lima bulan. Di musim gugur 1942, pasukan Inggris kembali merebut Tobruk dalam perang di dekat kota Mesir El Alamein.

Kesuksesan Inggris tak lepas dari keputusan mengganti Komandan Pasukan Kedelapan dengan Bernard Montgomery pada 8 Agustus 1942.

Kiprah Erwin Rommel berakhir pada Maret 1943 ketika dia berupaya menyudutkan pasukan Montgomery di sekitar Medenine, Tunisia.

Serangan itu dilakukan Divisi Panzer Ke-10, 15, dan 20. Mendapat peringatan dari intelijen Ultra, Montgomery langsung memasang senjata anti-tank.

Sistem pertahanan Montgomery berhasil merontokkan 52 tank Erwin Rommel yang memaksanya menghentikan serangan. Jatuh sakit, dia terpaksa kembali ke Jerman.

6. Plot Membunuh Hitler dan Kematian

Setelah sembuh, Erwin Rommel mendapat tugas sebagai Komandan Grup B Angkatan Darat Jerman, jabatan di bawah Jenderal Besar Gerd Rundstedt.

Erwin Rommel mendapat tanggung jawab mempersiapkan pertahanan di Perancis untuk menghadapi kemungkinan serbuan Sekutu.

Saat itu, dia dipercaya mengurus sistem pertahanan Nazi yang diberi nama Dinding Atlantik. Namun, sistem itu gagal membendung Sekutu.

6 Juni 1944, Sekutu berhasil melakukan invasi setelah mendarat di Pantai Normandia, dan memperbanyak kekuatannya menjadi satu juta personel.

Sadar bahwa kekalahan Jerman makin dekat, Erwin Rommel mulai berdiskusi dengan perwira lainnya soal kemungkinan mereka menyerah.

Enam minggu setelah Pendaratan Normandia, kendaraan yang ditumpangi Erwin Rommel diserang pesawat pemburu Sekutu pada 17 Juli 1944, dan menderita luka cukup parah.

Tiga hari setelahnya, terjadi sebuah insiden besar di mana Claus von Stauffenberg melancarkan Operasi Valkyrie dalam upaya membunuh Hitler.

Rencana pembunuhan yang dikenal sebagai Plot 20 Juli itu dilakukan ketika Hitler dan para perwiranya berkumpul di markas rahasia Sarang Serigala di Rastenburg, Prussia Timur.

Plot itu gagal. Von Stauffenberg serta perwira militer yang terlibat dalam upaya tersebut dijatuhi hukuman mati.

Hitler menuduh Erwin Rommel juga berniat untuk melenyapkannya sehingga dia dihadapkan pada Pengadilan Kehormatan Militer.

Hitler memberikan dua pilihan kepada Hitler yang telah dicap pengkhianat. Bunuh diri atau dipermalukan di hadapan publik.

Erwin Rommel memilih bunuh diri dengan menenggak kapsul berisi sianida pada 14 Oktober 1944 di Herrlingen dalam usia 52 tahun.

Jenazahnya dimakamkan di Herrlingen. Selama beberapa dekade, veteran Perang Afrika, termasuk mantan lawannya, bakal berkumpul di depan nisannya. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Biografi Tokoh Dunia: Erwin Rommel, Rubah Gurun Perang Dunia II

Editor: fitriadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved