Dokter Suhendro Koleksi Surat Suara mulai Pemilu Tahun 1957

Pemilu perdana ini direalisasikan untuk memilih anggota DPR dan Konstituante. Sebanyak 260 kursi diperebutkan untuk DPR dan 520 untuk Konstituante.

Dokter Suhendro Koleksi Surat Suara mulai Pemilu Tahun 1957
KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTO
Suhendro Sastrowiwoho (72) menunjukkan salah satu koleksi surat suara pemilu? saat ditemui di kediamannya di jalan Tanjung, Desa Kramat, Kota Kudus, Jawa Tengah, Selasa (23/4/2019) sore. 

Di kertas yang masih nampak terawat keaslianya itu tertera gambar disertai tulisan 64 partai politik yang bertarung memperebutkan suara. "Saya tanya ke penjualnya, bapak punya surat suara seperti ini lagi nggak ? Ia jawab punya dan saya minta selembar.

Saat itu saya masih kecil, tertarik karena bentuknya yang unik, ada gambar-gambar seperti simbol. Nah sejak saat itu, saya selalu menunggu pemilu dan mulai berburu," terang Suhendro.

Surat suara braille dan 3 partai

Suhendro Sastrowiwoho (72) menunjukkan salah satu koleksi surat suara pemilu? saat ditemui di kediamannya di jalan Tanjung, Desa Kramat, Kota Kudus, Jawa Tengah, Selasa (23/4/2019) sore.
Suhendro Sastrowiwoho (72) menunjukkan salah satu koleksi surat suara pemilu? saat ditemui di kediamannya di jalan Tanjung, Desa Kramat, Kota Kudus, Jawa Tengah, Selasa (23/4/2019) sore. (KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTO)

Surat suara pemilu yang dikoleksi Suhendro ada yang unik lagi, yakni surat suara pemilu yang khusus diperuntukkan bagi pemilih disabilitas.

Di kertas tebal berwarna kuning itu tertuliskan surat suara pemilu tahun 1992 untuk pemilih penyandang tunanetra yang disertai huruf braille.

Dalam surat suara pemilu itu terpampang hanya tiga partai politik yang ikut bertarung suara yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Ada lagi surat suara pemilu DPRD tingkat I Jateng tahun 1982 dengan hanya diramaikan tiga partai politik yang sudah tak asing lagi bagi telinga masyarakat Indonesia hingga saat ini yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

"Biasanya dapat dari pemulung atau teman. Sudah susah mencarinya, harus lama menanti juga. Bayangkan sejak saya umur 12 tahun, hingga saat ini baru terkumpul delapan surat suara.

Surat suara saya bungkus plastik dan amplop lalu saya masukan di dalam tas dan tersimpan di lemari," kata Suhendro.

Selain surat suara pemilu, Suhendro juga mengumpulkan benda lain yang juga berhubungan dengan pemilu, seperti stiker caleg dan sebagainya.

Halaman
1234
Editor: fitriadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved