Mengulik Lubang Bekas Peluru Meriam Pasukan Sunan Kuning Saat Menyerbu Keraton Kartasura

Lubang besar di bekas benteng Srimanganti Keraton Kartasura, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah itu masih tampak jelas.

Mengulik Lubang Bekas Peluru Meriam Pasukan Sunan Kuning Saat Menyerbu Keraton Kartasura
TRIBUNJOGJA/SETYA KS
Lubang besar di tembok Srimanganti Keraton Kartasura akibat tembakan meriam pasukan Sunan Kuning. Di pintu inilah pasukan penyerbu memasuki cepuri keraton, tempat tinggal raja. 

Raden Mas Garendi berumur 12 tahun saat kejadian.

Cucu Amangkurat III itu ditahtakan oleh pendukungnya yang bersekutu dengan pasukan Tionghoa sebagai Sunan Amangkurat V.

Seperti diceritakan Freddo, juru pelihara yang ditugaskan Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jateng di situs Keraton Kartasura, sesudah keraton runtuh, tempat itu akhirnya telantar.

Keraton kemudian pindah ke Desa Sala, di sebelah timur Kartasura.

Pusat kerajaan itu bertahan hingga saat ini menjadi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Sejak tiga tahun terakhir, Freddo sendirian merawat lingkungan situs yang sebagian besar kini jadi permukiman dan pekuburan umum yang sudah tak difungsikan lagi.

Tugasnya sangat berat, karena harus merawat area situs seluas lebih kurang dua hektare.

Kondisi bekas Keraton Kartasura yang dibangun sejak 1680 Masehi itu tidak terlalu bagus.

Sisa atau jejak terjelas istana kerajaan dari masa Sunan Amangkurat II (Amangkurat Amral) hingga Susuhunan Pakubuwana II itu tinggal benteng cepuri keraton berbentuk persegi.

Secara umum tembok bata merah setebal kira-kira 2,5 meter itu masih cukup kokoh, namun sebagian besar diselimuti semak belukar dan konon kadang jadi sarang ular.

Halaman
1234
Editor: edy yusmanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved