Mutiara Ramadan: Laparnya Orang Berpuasa Bukan Sekadar Menahan Haus dan Lapar

Kondisi lapar saat berpuasa mengandung pesan agar kita selalu "menyisakan rasa" untuk memahami saudara kita yang kesusahan.

Mutiara Ramadan: Laparnya Orang Berpuasa Bukan Sekadar Menahan Haus dan Lapar
Dokumentasi KH Cholil Nafis
KH Cholil Nafis, Lc., Ph D, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat 

KH Cholil Nafis Lc MA PhD
Ketua Komisi Dakwah MUI

SETIAP orang yang berpuasa pasti merasa lapar. Namun masing-masing memiliki pengalaman rasa yang berbeda-beda.

Ada orang yang merasa lapar saat pagi, sekira pukul 09.00-11.00.

Ada yang perutnya terasa perih saat siang, sekira pukul 12.00-14.00.

Ada juga yang merasa begitu lemas saat pukul 16.00-18.00 (menjelang berbuka).

Perbedaan rasa lapar setiap orang tergantung dari kebiasaan (habit) makan dan minum setiap hari.

Ada yang biasa santap pagi (sarapan). Ada yang tidak biasa sarapan. Ada yang menghindari makan siang.

Ada pula yang tidak mau makan sore/malam karena alasan khusus, dan lain-lain.

Ilustrasi
Ilustrasi (google.com)

Sementara saat berpuasa, haus dan laparnya sepanjang hari, sehingga pengalaman setiap orang berbeda-beda.

Meski berbeda-beda siklus rasa lapar setiap individu, secara umum laparnya orang berpuasa (shaum) itu berbeda dengan laparnya orang tidak berpuasa.

Benarkah? Bukankah lapar karena tidak mendapat asupan makanan sama saja rasanya?

Halaman
1234
Editor: fitriadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved