Didit Srigusjaya Sewa Teman Untuk Dapatkan Nomor Ponsel Calon Istri
Didit Srigusjaya rela membayar temannya berapa saja asal bisa mendapatkan nomor HP calon istri.
posbelitung.co - "Saya penasaran, mahasiswi ini cantik, tetapi cuek dan masa bodoh dengan saya yang anggota DPRD paling muda, masih bujang. Saya berusaha tegur dan sapa tetapi tidak ada respon. Makanya saya terpaksa harus nyewa orang, pakai bayar agar kawan bisa dapatkan nomor handphone dari Leni Ernawati yang sekarang jadi istri saya," ungkap Didit Srigusjaya, Ketua DPRD Bangka Belitung, mengenang masa-masa indah awal kenalan dengan Leni Ernawati yang akhirnya berhasil dipersunting menjadi istri.
Didit Srigusjaya mengisahkan pada tahun 2002, Leni Ernawati yang merupakan mahasiswi AMIK tingkat dua semester empat bersama kawan-kawannya menggelar aksi demo menolak kenaikan harga BBM di Kantor DPRD Bangka Belitung.
Didit Srigusjaya bersama pimpinan dan anggota DPRD yang menerima aksi mahasiswa terpana pada penampilan dan gaya Leni Ernawati. Bahkan, setelah aksi demontrasi, Didit Srigusjaya berusaha untuk menyapa secara khusus kepada Leni tetapi responnya sangat dingin.
"Waktu terima pendemo. Saya lihat-lihat. Dan sempat beradu pandang dengan Leni. Spontan timbul kesan tertarik. Saya berusaha untuk menyapa, tetapi responnya sangat dingin. Dalam hati sempat berpikir, memang dia tidak tertarik dengan anggota DPRD yang paling muda dan masih bujang. Saya semakin penasaran," jelas Didit Srigusjaya.
Setelah berhasil mendapatkan nomor handphone Leni Ernawati dari seorang teman, Didit Srigusjaya yang juga merupakan rekan masiswa Leni bernama Andre, Didit berinisiatif untuk mengirimkan pesan dan menyapanya terlebih dahulu.
"Pokoknya saya bilang ke kawan saya, harus sampai dapat nomor teleponnya Leni. Mau minta berapa saja saya pasti bayar," ungkap Didit.
Leni, anak pertama dari tiga bersaudara, buah hati Kapten Polisi (purnawirawan) Samson Sahri dan Isniwati tetap tidak menaruh perhatian lebih pada seorang Didit Srigusjaya meskipun sering dikirimin pesan dan dihubungi.
"Responnya tetap sama setelah saya dapatkan nomor telepon dan kirim pesan dan menghubunginya. Orangnya punya prinsip. Dia hanya menjadikan sebagai teman biasa," kisah Didit.
Reaksi dan respon yang dingin, terkesan tidak menaruh minat, membuat Didit Srigusjaya semakin penasaran. Berbagai daya dan upaya pun dilakukan.
"Saat pertama melihat, spontan ada rasa tertarik. Rasa itu terus saya pelihara dan perjuangkan. Tetapi orangnya tetap dingin. Maka saya terpaksa menggunakan metode lobi-lobi. Banyak orang yang saya minta bantuan untuk meluluhkan hati dia," kisah Didit Srigusjaya.
Perjuangan selama hampir setahun akhirnya berhasil. Hati Leni pun luluh dan menerima Didit Srigusjaya sebagai sang pacar.
"Saya harus jujur, perjuangan untuk mendapatkan dia sangat berat. Banyak orang yang saya minta bantuan. Metode bayaran untuk dapatkan nomor handphone, pakai metode lobi-lobi perasaan. Dan akhirnya dia bisa menjadi pacar saya. Kalau soal kisah pacaran, janganlah dikisahkan," ujar Didit Srigusja saat diwawancara Bangkapos.com, Sabtu (4/5/2019).
Didit Srigusjaya dan Leni Ernawati akhirnya menikah pada tahun 2003 dan sekarang dikarunia tiga orang putra, Andika (14 tahun), Arga (11 tahun) dan Alfaro (3 tahun).
Didit Srigusjaya mengisahkan dirinya sejak awal bercita-cita menjadi seorang tentara, mengikuti jejak mendiang sang ayah yang merupakan purnawirawan TNI (AD), Almarhum Marzuki Salin. Sejak kelas 5 SD, Didit Srigusjaya, anak bungsu dari lima bersaudara, buah hati Marzuki Salin dan Ibu Suhaini sudah ditinggal sang ayah dan menjadi anak yatim.
"Sejak usia 10 tahun, saya sudah jadi anak yatim. Sejak itu saya harus berjuang untuk membantu ibu, berjualan kue sebelum ke sekolah," kisah Didit Srigusjaya.
Didit Srigusjaya menuturkan setelah solat subuh, dirinya berjualan berbagai jenis kue seperti roti goreng, onde-onde, roti ambon di seputaran Koba. Setelah jualan kue, siap-siap untuk ke sekolah di SD 291 Koba.
Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, dua orang laki-laki dan tiga orang perempuan, Didit kecil harus rutin untuk membantu orangtua.
Setelah pulang sekolah, Didit Srigusjaya juga membantu orang tuanya berjualan empek-empek dan bakmie. Targetnya sebelum pukul 07.00 WIB harus sudah pulang untuk siap-siap ke sekolah. Setelah pulang sekolah, Didit Srigusjaya kembali berjualan tetapi bukan kue melainkan bakmie.
"Sampai saya SMP masih jualan keliling Koba bantu orang tua. Pagi setelah bangun langsung jualan. Lalu pulang siap-siap ke sekolah. Setelah pulang sekolah jualan lagi. Itulah rutinitas yang harus saya jalani sejak ditinggal sang ayah, dari SD sampai SMP," ungkap Didit. Profesinya sebagai penjual kue dan bakmie bertahan hingga kelas 2 SMP di SMP PGRI. Saat memasuki kelas 3 SMP, Didit dibebaskan dari aktivitas jual kue guna mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir.
"Sehari kadang laku semua, kadang hanya sebagian, sehingga pulang sekolah harus jual lagi yang masih sisa, sambil juga jual bakmie. Saya betul menikmati jadi penjual kue," kisah Didit Srigusjaya.
Setelah menamatkan pendidikan di SMP PGRI Koba, Didit Srigusjaya melanjutkan sekolah ke SMA Muhammadiyah Pangkalpinang.
"Saat SMA, saya sungguh merasakan bagaimana suka-duka kalau mau pulang ke Koba. Setiap hari Sabtu saat mau pulang, kadang tidak punya uang untuk ongkos, terpaksa harus berdiri berjam-jam di sekitaran Toko Anggrek, sekarang dekat BTC untuk tahan mobil orang, numpang ke Koba. Kadang orang naikin kita tetapi dengan terpaksa, kadang tidak dapat tumpangan, karena itu harus batal kembali ke Koba," kisah Didit Srigusjaya.
Pengalaman mencari kendaraan tumpangan ke Koba semasa SMA menjadi insipirasi bagi Didit Srigusjaya setelah menjadi pejabat dan memiliki mobil dinas, dirinya selalu memberikan tumpangan kepada orang yang ingin pulang ke Koba.
"Pengalaman waktu SMA membuat saya sekarang, kalau lihat orang mau pulang ke Koba atau di jalan, selalu naikkin mereka di mobil dinas yang saya tumpangi," ungkap Didit Srigusjaya.
Saat duduk di bangku SMA, Didit Srigusjaya terus mengasa niat dan cita-citanya untuk menjadi seorang tentara. Karena itu dirinya pernah mengikuti tes di TNI AD dan angkatan laut.
"Saya dari kecil cita-cita jadi seorang tentara untuk ikut sang ayah. Dua kali tes tetapi selalu gagal. Gagalnya selalu di Pantohir," kisah Didit.
Karena sudah dua kali gagal seleksi menjadi tentara baik di AD maupun angkatan laut maka Didit melanjutkan kuliah. Setelah tamat dari SMA Muhamaddiyah tahun 1994, Didit melanjutkan kuliah Diploma Survey dan Pemetaan Teknik Geodesi ITB Bandung dan berhasil menyelesaikan studi tahun 1997.
"Waktu kuliah, untuk hemat biaya, terpaksa harus tinggal di rumah keluarga," ceritera Didit Srigusjaya.
Setelah mendapatkan gelar Diploma, Didit mencari kerja, bahkan bekerja di proyek pembukaan lahan di Sumatera Barat selama tiga bulan. Didit kemudian memutuskan kembali ke kampung halamannya di Koba, sekitar tahun 1997/1998 saat PT Koba Tin membuka peluang pegawai dan usaha untuk warga Koba. Untuk menjemput peluang tersebut, pengalaman Didit sebagai aktivis saat kuliah, mengikuti demonstrasi, melanjutkan naluri aktivisnya untuk berdemo di PT Koba Tin.
"Ada peluang menjadi pegawai dan usaha. Tetapi kita pakai cara demo dulu. Memang dari mahasiswa sudah jadi aktivis. Maka kembali ke kampung halaman juga lanjutin kegiatan aksi demo," ungkap Didit Srigusjaya.
Selama berada di Koba, Didit pernah menjalani pekerjaan sebagai kolektor timah, pemasok timah untuk PT Koba Tin.
"Saya pernah jadi pemain timah, kolektor timah, beli dan pasok timah untuk PT Koba Tin, hampir tiga tahun," kisah Didit Srigusjaya.
Berawal dari Dipercaya Sebagai MC
Ketertarikan Didit Srigusjaya di dunia politik mulai muncul saat dirinya diminta dan diajak oleh Tokoh Senior PDI, Almarhum Riswan untuk menjadi pembaca acara lomba karoke PDI di Koba, Bangka Tengah.
"Saya sudah kenal dengan toko-toko politik. Dan mulai lebih tertarik saat diberi kepercayaan oleh senior PDI, almarhum Riswan untuk menjadi pembawa acara kegiatan Partai, Lomba Karoke. Sejak itu, saya selalu diajak oleh almarhum, dibimbing dan dibina," jelas Didit Srigusjaya.
Semasa kuliah, Didit sudah aktif berorganisasi. Kemampuan serta potensinya memimpin terlihat sejak sekolah. Sekitar tahun 1991, Didit mulai berkenalan dengan Partai Demokrasi Indonesia. Masih segar dalam ingatan Didit, saat itu, perayaan HUT Kota Koba dan PDI mengelar lomba joget. Dan dirinya dipilih untuk menjadi MC. Itulah awal perkenalan dan ketertarikan dengan PDI.
Menurut Didit Srigusjaya, para senior melirik dan terus mengajak saya terlibat dalam politik.
Berbagai tugas dan jabatan diberikan kepada Didit Srigusjaya sejak masih PDI, PDI Pro Mega dan hingga PDI Perjuangan.
Ketertarikannya dengan Partai Demokrasi Indonesi berlanjut dengan secara diam-diam mengikuti kampanye PDI pada pemilu tahun 1992.
Didit tanpa diminta tim PDI, ikut kampanye bersama Muchtar Syamsudin, pengurus DPC PDI Kabupaten Bangka.
Keterlibatan Didit saat kampanye, membuat para pengurus DPC PDI Kabupaten Bangka tertarik dan mulai memasukan dirinya dalam kepengurusan partai DPC PDI Kabupaten Bangka.
Berawal dari pengurus biasa, merangkak naik menjadi Wakil Ketua DPC PDI Bangka, Ketua DPC PDIP Bangka Tengah, Wakil Ketua DPD PDIP, kemudian menjabat Sekretaris DPD PDIP dan akhirnya menggantikan Rustam Effendi sebagai Ketua DPD PDIP Provinsi Babel.
"Pertama saya dicalonkan menjadi calon legislatif DPRD Kabupaten Bangka dari PDI, nomor urut 17. Saat itu gagal karena bukan pakai suara terbanyak tetapi nomor urut. Ini jadi pelajaran yang berarti," ungkap Didit Srigusjaya.
Setelah gagal menjadi anggota DPRD Kabupaten Bangka, pada tahun 2001, saat pemekaran Provinsi Bangka Belitung, Didit Srigusjaya diajukan sebagai Anggota DPRD Provinsi Babel. Dan karena statusnya sebagai anggota DPRD termuda, maka dipilih menjadi Ketua Sementara.
"Saya waktu itu menjadi anggota DPRD termuda sehingga dipilih sebagai pimpinan sementara. Dan pada saat pemilihan defenitif, Pak Emron Pangkapi yang dipilih menjadi ketua DPRD pertama Provinsi Bangka Belitung," kisah Didit Srigusjaya.
Bermodalkan pengalaman sebagai anggota DPRD Provinsi tanpa pemilihan, Didit Srigusjaya kemudian ikut mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten Bangka Tengah pada tahun 2004. Saat itu, PDIP berhasil meraih tujuh kursi .
"Mekanisme pemilihan waktu itu, ketua DPRD dipilih oleh seluruh anggota DPRD. Dari 25 anggota, sebanyak 15 orang memilih Didit Srigusjaya sebagai Ketua DPRD. Dan kemudian resmi dilantik sebagai ketua DPRD Kabupaten Bangka Tengah," kisah Didit Srigusjaya.
Kunci keberhasilan menjadi pimpinan dan anggota DPRD menurut Didit Srigusjaya yakni kehendak Tuhan Yang Maha Esa, doa orang tua, doa orang banyak dan kinerja.
"Kinerja kita yang menentukan kepercayaan masyarakat. Dan yang paling membahagiakan saat kita memperjuangkan aspirasi masyarakat dan aspirasi tersebut berhasil. Itu jadi kepuasan bhatin yang luar biasa," kisah Didit Srigusjaya.
Didit Srigusjaya pernah mencalonkan diri sebagai Calon Wakil Bupati berpasangan dengan Calon Bupati, Abu Hanifah. Keduanya berhadapan dengan Calon Bupati Erzaldi Rosman berpasangan dengan calon wakil bupati, Patrianusa.
"Waktu itu kami gagal dan saya kemudian mencalonkan diri sebagai caleg DPRD Provinsi Bangka Belitung dari Dapil Kabupaten Bangka Tengah. Hasilnya berhasil terpilih dengan perolehan suara terbanyak," kisah Didit.
Posisinya dari Ketua Fraksi dan Komisi kemudian melejit dan diusulkan menjadi Ketua DPRD menggantikan Ismiryadi. Sejak saat itu, Didit memegang posisi kendali sebagai Ketua DPRD Babel. Kemudian terpilih kembali sebagai ketua DPRD Provinsi Babel periode 2014-2019 karena berhasil meraih suara terbanyak.
Tahun 2001-2004 menjadi Anggota DPRD Propinsi Babel, utusan dari PDIP, saat pemekaran Propinsi Babel. Tahun 2004, terjadi pemekaran Kabupaten Bangka Tengah, maka ikut pemilihan dan terpilih menjadi Ketua DPRD Bangka Tengah periode 2004-2009. Tahun 2009 ikut bertarung kembali ke DPRD Propinsi dan berhasil meraih suara terbanyak dari Kabupaten Bangka Tengah, menjabat Ketua Fraksi PDIP, kemudian dilantik menjadi Ketua DPRD Babel untuk sisa masa jabatan.
Perjalanan hidup Didit Srigusjaya menghantar dirinya untuk selalu bersyukur, tidak putus asa, senantiasa berjuang, berdoa dan tawakal bahwa semuanya akan menjadi indah pada waktunya.
"Kita harus selalu berdoa, berusaha, ikhlas dan tawakal. Otak, otot dan ongkos harus dipadukan dalam segala usaha. Dan segala sesuatu akan menjadi indah pada waktunya sesuai kehendak Tuhan," ungkap Didit.
Pemilu serentak tahun 2019 kembali menghantarkan Didit Srigjusjaya sebagai anggota DPRD dan kemungkinan merebut kembali posisi ketua DPRD Babel karena memperoleh suara terbanyak.
"Alhamdulilah atas izin Allah SWT dan dukungan masyarakat, saya bisa terpilih kembali sebagai anggota DPRD Provinsi Babel. Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Bangka Tengah atas doa dan dukungannya. Insya Allah saya akan menjalankan amanah ini untuk kepentingan masyarakat. Keberhasilan ini tidak lepas dari kehendak Tuhan, doa orang tua, isteri dan keluarga serta masyarakat. Dan yang terpenting adalah doa, usaha, ikhtiar dan tawakal kepada Allh SWT," kisah Didit Srigusjaya.
Biografi
Didit Srigusjaya, SH., MH
Lahir : Pangkalpinang, 18 Agustus 1975
SD : SDN 291 Koba, Bangka Tengah
SMP : SMP PGRI Koba
SMA : SMA Muhamadiyah Pangkalpinang
Perguruan Tinggi
* Diploma Survey dan Pemetaan Teknik Geodesi ITB Bandung
* Sarjana dan Pasca Sarjana di STIH Pertiba
Istri : Leni Ernawati,A md
Anak-anak
*Andhika Akbar (14 tahun)
*Argha Fauzil Pranaja (11 Tahun)
*Alfaro Nadip Putra (3 tahun)
Alamat : Jl. Senang Hati no. 884 RT.03 Kel. Koba Kec. Koba Kab. Bangka Tengah
Jabatan di Partai
*Sekretaris PAC PDI Perjuangan Kecamatan Koba (1998-2000)
*Wakil Ketua DPC PDIP Kabupaten Bangka Bidang Organisasi dan Politik (2000-2003)
*Ketua DPC PDIP Bangka Tengah (2003-2005)
*Wakil Ketua DPD PDIP Babel Bidang Politik dan Pemenangan Pemilu (2010-2015)
*Sekretaris DPD PDIP Babel (2015-2017)
*Ketua DPD PDIP Provinsi Babel (2017-2020)
Karir Politik
*Anggota DPRD Provinsi Babel (2001-2004)
*Ketua DPRD Kabupaten Bangka Tengah (2004-2009)
*Anggota DPRD Provinsi Babel (2009-2014)
*Ketua DPRD Provinsi Babel sisa Masa Jabatan (2013-2014)
*Ketua DPRD Provinsi Babel (2014-2019)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/didit-srigusjaya-bersama-istri-dan-anak-anaknya.jpg)