Breaking News:

Dapat Predikat Termiskin kedua di Amerika, Negeri ini Bakal Jadi Negara Terkaya di Dunia

"Sebagian besar warga amat sensitif soal ini. Sebab, lebih banyak dampak negatifnya ketimbang keuntungannya bagi Guyana," ujar Colin.

Shutterstock
Pengeboran minyak. 

Uang hasil penjualan minyak bisa memicu korupsi yang berujung pencurian uang negara hasil eksplorasi minyak. Kondisi semacam ini biasa dikenal dengan istilah "kutukan minyak".

"Di Guyana, korupsi terjadi amat besar-besaran," kata Troy Thomas, kepala Transparansi Internasional setempat. Thomas menambahkan, dirinya amat khawatir "kutukan minyak" terjadi pada negerinya.

Tanda-tanda adanya kutukan itu sudah muncul dengan terjadinya krisis politik di Guyana dalam beberapa bulan terakhir ini.

Setelah koalisi pemerintahan mendapatkan mosi tidak percaya pada Desember lalu, mereka justru menggugat ke pengadilan, bukannya menggelar pemilihan umum. Langkah ini memicu protes masyarakat.

"Apa yang kami minta adalah pemerintah menghormati konstitusi. Pemerintah hanya ingin tetap berkuasa dan mengendalikan uang minyak," ujar seorang pengunjuk rasa.

Pertarungan legal masih berlanjut dan pekan ini Pengadilan Karibia mulai menyidangkan masalah ini. "Kami sudah melihat hal semacam ini di negara-negara lain," kata Vincent Adams, kepala Badan Perlindungan Lingkungan Guyana.

"Negara-negara itu mendapatkan kekayaan dari minyak dan hari ini kondisi mereka lebih buruk sebelum mendapatkan minyak," kata Adams.

Bagi Adams, satu-satunya cara untuk menghindari "kutukan minyak" adalah pendidikan.

"Pendidikan adalah dasarnya. Pendidikan adalah investasi terbaik di negara ini dan negara lainnya," kata Adams.

Adams kini memimpin perombakan fakultas teknik di Universitas Guyana, institusi pendidikan tertinggi di negeri itu.

Halaman
123
Editor: Zulkodri
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved