5 Fakta di Balik Kue-kue Kering yang Kerap Disajikan saat Lebaran, Berawal dari Penemuan Tak Sengaja

Lebaran sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia untuk berkumpul berbagi keceriaan bersama keluarga dan kerabat.

5 Fakta di Balik Kue-kue Kering yang Kerap Disajikan saat Lebaran, Berawal dari Penemuan Tak Sengaja
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Pekerja menata toples berisi kue kering yang dijual di Toko PT Bonli Cipta Sejahtera (BCS), Jalan Bojongkoneng, Kabupaten Bandung, Selasa (30/6). Menghadapi Lebaran tahun ini perusahaan kue dengan merek dagang J&C, La Difa dan Ina Cookies membuat 80 varian kue kering, empat diantaranya merupakan varian baru, yaitu rasa seblak, pete, taro dan pindang. Produk kue kering yang sudah menembus pasar Amerika Serikat, Singapura, Brunai, Malaysia, Canada, dan Hongkong ini dijual mulai harga Rp 75.000 - Rp 200.000 per toples. 

Kepopuleran kue kering makin berkembang karena penganan ini bisa tetap awet dalam waktu yang lama. Ini membuatnya menjadi makanan sempurna untuk dibawa berpergian.

3. Produksi dikontrol asosiasi profesional

Pada 1671, imigran Inggris, Skotlandia, dan Belanda membawa kue kering pertama ke Amerika Serikat.

Kue kering kemudian disajikan saat minum teh. Sama seperti saat ini, pembuatan kue kering dilakukan oleh industri rumahan.

Selanjutnya, ratusan resep kue dibuat di Amerika Serikat. Baru sekitar abad ke-17 dan 18 di Eropa, pembuatan kue mulai dikontrol dengan hati-hati oleh asosiasi profesional.

4. Kudapan wajib perayaan Eropa

Setelah revolusi industri, pada abad ke-19, teknologi pembuatan kue makin maju.

Saat itu, bermacam-macam kue kering diciptakan mulai dari rasa manis hingga gurih.

Sejak saat itu, kue menjadi salah satu kudapan wajib untuk berbagai perayaan di Eropa maupun Amerika seperti Natal dan sebagainya.

5. Masuk Indonesia saat penjajahan Belanda

Halaman
1234
Editor: Novita
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved