5 Fakta di Balik Kue-kue Kering yang Kerap Disajikan saat Lebaran, Berawal dari Penemuan Tak Sengaja

Lebaran sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia untuk berkumpul berbagi keceriaan bersama keluarga dan kerabat.

5 Fakta di Balik Kue-kue Kering yang Kerap Disajikan saat Lebaran, Berawal dari Penemuan Tak Sengaja
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Pekerja menata toples berisi kue kering yang dijual di Toko PT Bonli Cipta Sejahtera (BCS), Jalan Bojongkoneng, Kabupaten Bandung, Selasa (30/6). Menghadapi Lebaran tahun ini perusahaan kue dengan merek dagang J&C, La Difa dan Ina Cookies membuat 80 varian kue kering, empat diantaranya merupakan varian baru, yaitu rasa seblak, pete, taro dan pindang. Produk kue kering yang sudah menembus pasar Amerika Serikat, Singapura, Brunai, Malaysia, Canada, dan Hongkong ini dijual mulai harga Rp 75.000 - Rp 200.000 per toples. 

Di Indonesia sendiri, salah satu kue kering yang terkenal adalah nastar.

Penganan ini laris ketika Lebaran. Setelah nastar, kemudian muncul berbagai varian kue kering lainnya.

Nastar masuk ke Indonesia ketika masa penjajahan Belanda. Kue ini menjadi pengganti pie blueberry atau apel yang merupakan kegemaran bangsa Belanda.

Nama nastar adalah kepanjangan bahasa Belanda yaitu “Ananas/ nanas” dan “Taart/tart/pie” yang artinya Tart nanas.

Penggunaan nanas sendiri merupakan pengganti buah blueberry yang sulit ditemukan di Indonesia.

Hingga saat ini, nastar merupakan salah satu kue kering favorit di Indonesia untuk berbagai perayaan dan menyambut tamu. (*)

Berita ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : 5 Fakta di Balik Kue-kue Kering yang Kerap Muncul Saat Lebaran

Editor: Novita
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved