Buaya Pemangsa Manusia di Sungai Empek Tertangkap, Wujud Fisiknya Jadi Sorotan Warga Sebesar Ini

Kendati penuh luka seperti tercabik-cabik, pihak keluarga enggan melakukan autopsi dan menyakini kejadian tersebut adalah musibah.

Buaya Pemangsa Manusia di Sungai Empek Tertangkap, Wujud Fisiknya Jadi Sorotan Warga Sebesar Ini
FACEBOOK RIAN DANU
ilustrasi foto 

Pencarian korban kata Roni dilakukan secara berkelanjutan dan bersama-sama oleh kepolisian, bhabinsa SAR dan masyarakat hingga proses evakuasi.

"Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan tubuhnya dipenuhi luka cabik yang diduga akibat serangan buaya yang memangsanya. Saat ini proses evakuasi masih berlangsung," kata Roni.

Selain itu, bangkapos.com juga sudah merangkum sejumlah fakta menarik dari proses evakuasi, pencarian hingga detik-detik kejadian.

Posko Darurat

Pencarian Mahrom dilakukan 24 jam selama beberapa hari setelah kejadian. 

Tim gabungan mendirikan bangunan di sepanjang aliran sungai Empek sejak, Jumat (10/5/2019).

Tenda itu dibangun tim menggunakan peralatan seadanya.

Selain tenda darurat, tim sar juga mendirikan posko darurat guna memudahkan pencarian korban.

"Alhamdullah rasa kesetiakawanan masyarakat dan tim cukup tinggi. Mereka tak mengenal lelah dan terus melakukan pencarian sebelum tubuh Mahrom ditemukan," Jelas Roni.

Tolak Autopsi

Setelah dievakuasi, Jenazah Mahrom (33) korban serangan buaya di Sungai Empek, Dusun Pasir Putih Desa Batu Betumpang, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan, langsung dibawa ke rumah duka, Selasa (14/5/2019)

Kapolsek Payung IPTU Efriansyah mengatakan jasad Mahrom yang telah ditemukan kemudian langsung dibawa ke rumah duka untuk segera dimakamkan. 

Kendati demikian, pihak kepolisian masih menawarkan untuk melakukan autopsi namun pihak keluarga korban menolaknya. 

Hal ini dikarenakan pihak keluarga menyakini apa yang terjadi murni sebuah musibah.

"Pihak keluarga menolak otopsi. Setelah dievakuasi Jasad korban langsung dibawa ke rumah duka untuk selanjutnya disemayam dan dikebumikan," kata kapolsek.

Bripka Khairul Tak Pulang

Ada cerita menarik yang muncul di masyarakat selain fokus pencarian jasad Mahrom.

Cerita itu tentang sosok Bripka Khairul.

Bhabinkamtibmas Polsek Payung Desa Bedengung Kecamatan Payung ini tak pulang ke rumah selama kejadian.

Setidaknya, empat hari lebih beliau fokus membantu pencarian di lokasi kejadian.

Hal ini cukup beralasan, mengingat korban adalah warna binaannya di desa. 

Sehingga, Bripka Khairul merasa sangat bertanggung jawab untuk membantu melakukan pencarian. 

"Bripka Khairul tidak pulang dari awal kejadian sampai dengan ditemukan jasad Mahrom. Ia selalu bersama warga dan gabungan tim SAR yang sedang melakukan pencarian terhadap korban warga binaannya," terang kapolsek.

Diburu Warga

Ratusan warga bersama TNI-Polri terus menyisiri Sungai Empek Dusun Pasir Putih Desa Batu Betumpang yang menjadi lokasi hilangnya Mahrom.

Kapolres Bangka Selatan AKBP Aris Sulistyono melalui Kapolsek Payung IPTU Epriansyah mengatakan informasi hilangnya Mahrom, diketahui dari laporan Diki (24) rekan korban.

Kejadian sekira terjadi pada pukul 18.00 WIB.

Korban dan Diki sudah berangkat sejak pukul 17.00 WIB.

"Saat keduanya asyik memancing ikan, tiba-tiba muncul buaya dari arah belakang dan langsung menerkam dan menyeret korban Mahrom. Melihat hal itu, teman korban Diki berlari ke arah kampung Dusun Pasir Putih Desa Batu Betumpang untuk memanggil warga dan meminta pertolongan," jelas kapolsek, Sabtu (11/5/2019).

Sisir Sungai

Pencarian masih terus dilakukan untuk menemukan korban.

Namun demikian masih belum ada titik terang.

Pencarian pun tak hanya dilakukan lewat darat menyusuri pinggir-pinggir sungai.

Akan tetapi, pihak terkait juga melakukan penyisiran menggunakan perahu nelayan setempat.

Hasilnya masih nihil.

"Sejak tadi malam sampai sekarang belum ada tanda tanda keberedaan korban. Namun, sampai siang ini kami dan warga terus melakukan pencarian dan penyisiran sepanjang sungai Empek," sebut kapolsek.

Panggil Pawang

Pawang buaya atau paranormal juga dimintai bantuan untuk melakukan pencarian korban secara spiritual.

Ritual sesuai adata setempat pun sudah dilakukan. 

Meski demikian, semuanya maish belum membuahkan hasil maksimal.

Langkah-langkah ini merupakan keinginan langsung dari pihak keluarga korban. 

"Selain pencarian dan penyisiran oleh masyarakat, beberapa pawang juga kami dan keluarga minta untuk membantu proses pencarian. Paling tidak ada petunjuk keberadaan korban," terang kapolsek.

Saksi Trauma

Rekan korban yang bernama Diki (24) belum bisa dimintai keterangan terkait peristiwa yang menghebohkan ini.

Sehingga, belum banyak informasi yang bisa digali terkait kejadian tersebut.

Diki sendiri kata kapolsek masih terlihat trauma.

Sehingga dibutuhkan waktu untuk menenangkan diri sebelum memberikan keterangan.

"Untuk saat ini saksi yang melihat yakni teman dari Korban tersebut belum bisa memberikan keterangan lebih jelas lagi dikarenakan masih trauma," sebut kapolsek.

Buaya 7 Meter

Informasi mengejutkan diperoleh Kapolsek Payung AKP Efriansyah.

Pasalnya, beredar kabar yang menyebutkan buaya yang menerkam Mahrom berukuran panjang sekitar tujuh meter.

Bukan cuma satu kali, ada banyak warga yang kerap melihat penampakan hewan buas satu ini. 

"Kalau informasi dari warga panjangnya diprediksi sekitar tujuh meter. Karena beberapa warga pernah melihat penampakan itu," ujar kapolsek.

(Bangkapos.com/Edy Yusmanto)

Penulis: Edy Yusmanto (Ero)
Editor: edy yusmanto
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved