Inilah Kezaliman Terhadap Jurnalis di Masa-masa Awal Kemerdekaan Indonesia

Seorang serdadu NICA melayangkan tinjunya tepat di muka seorang pewarta yang tengah meliput kedatangan kesatuan semi militer tersebut

Inilah Kezaliman Terhadap Jurnalis di Masa-masa Awal Kemerdekaan Indonesia
Universiteit Leiden
Oranje Hotel di Surabaya. Pemilik bisnis pertamanyua adalah Lukas Martin Sarkies pada 1910. Di sinilah terjadi insinden kekerasan jurnalis pertama sejak Republik Indonesia berdiri. 

POSBELITUNG.CO — Seorang serdadu NICA melayangkan tinjunya tepat di muka seorang pewarta yang tengah meliput kedatangan kesatuan semi militer tersebut di serambi Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) di Tunjungan, Surabaya.

Pewarta yang apes nasibnya itu adalah Abdul Wahab Djojowirno, seorang pewarta foto dari Kantor Berita Antara.

Serdadu-serdadu Netherlands Indies Civil Administration (NICA) bersama Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) menjejakkan armadanya pada 25 Oktober 1945 di Surabaya.

Mereka datang dengan misi untuk melucuti senjata serdadu Jepang sebagai pihak yang kalah perang, mengevakuasi para tawanan perang, dan memulihkan pemerintahan sipil dan hukum Belanda.

Meskipun Abdul telah berujar bahwa dia adalah seorang pewarta foto, serdadu itu tetap tak peduli.

Si serdadu telah menduhnya sebagai seorang penyelidik Republik, lantaran Abdul telah mengambil beberapa foto tentang situasi kerumunan di serambi hotel tersebut. Ironisnya, serdadu itu adalah seorang pribumi yang berpihak kepada NICA.

Apa daya, sang pewarta foto itu pun dipaksa menyerahkan satu rol film yang masih ada di dalam kameranya. Saksi atas kejadian itu adalah Bung Tomo yang merupakan seorang pewarta tulis asal Surabaya.

Si Bung turut bertanggung jawab atas keselamata Abdul lantaran dialah yang mengajak Abdul untuk meliput ke hotel itu.

Mungkin sikap tanggung jawab muncul lantaran Bung Tomo pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Domei, sebuah kantor berita pada masa Jepang.

Di serambi Hotel Yamato, Bung Tomo berkata dalam bahasa Belanda kepada serdadu NICA. Dia turut menjamin bahwa Abdul bukanlah mata-mata yang ditugaskan untuk menyelidiki kedatangan mereka.

Halaman
12
Editor: fitriadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved