Di Negara Ini, Membangunkan Sahur Adalah Pekerjaan yang Dibayar Uang

Namanya adalah Musaharati, pekerjaan yang tugasnya berjalan sambil memukul gendang di pemukiman penduduk untuk membangunkan umat muslim makan sahur.

Di Negara Ini, Membangunkan Sahur Adalah Pekerjaan yang Dibayar Uang
BANGKA POS/RESHA JUHARI
Ilustrasi malam Ramadan 

POSBELITUNG.CO - Saat bulan Ramadan, masyarakat Indonesia di sejumlah daerah masih menjaga tradisi membangunkan orang sahur keliling kampung atau komplek menggunakan bedug seraya merapalkan doa maupun surat pendek.

Namun, tahukah anda jika tradisi tersebut juga eksis di Arab Saudi? Bedanya, orang yang membangunkan sahur di satu di antara negara penghasil minyak terbesar itu merupakan sebuah pekerjaan yang dibayar.

Namanya adalah Musaharati, pekerjaan yang tugasnya berjalan sambil memukul gendang di pemukiman penduduk untuk membangunkan umat muslim makan sahur.

Di Provinsi Syarqiyah, pekerjanya disebut dengan nama Abu Tabila. Orang dewasa dan anak-anak sering mengintip dari jendela untuk menyaksikan Abu Tabila lewat dengan memukul genderangnya yang kecil sambil merapalkan doa.

Tak jarang, mereka ikut keluar untuk menemani Abu Tabila sekaligus memeriahkan momentum sahur secara bersama-sama.

Pekerjaan Musaharati sendiri merupakan salah satu tradisi Ramadan tertua di Al-Ahsa, dan setiap kota memiliki Abu Tabila-nya sendiri.

Dia menggeluti bisnisnya itu sampai akhir Ramadan. Imbalannya berupa uang, hadiah, permen, dan doa untuk Idulfitri dari masyarakat yang dibangunkan sahurnya.

Meskipun masyarakat Arab Saudi bisa saja menyetel alarm untuk membangunkan sahur, mereka tetap terus menjaga tradisinya itu sampai saat ini.

Salah satu komunitas terkenal di Arab Saudi, Komunitas Al-Ahsa, mengikrarkan akan terus mematuhi cara-cara tradisional untuk menghormati tradisinya.

Omar Al-Faridi, Direktur Komisi Pariwisata dan Warisan Nasional Saudi (SCTH) di Al-Ahsa, mengatakan bahwa Abu Tabila dikenal dengan pakaian tradisionalnya dan suaranya yang riuh.

Sementara itu, Mantan Direktur Museum Arkeologi dan Warisan Al-Ahsa, Walid Al-Hussein menganologikan ketukan drum Abu Tabila sebagai "unik dan indah," serta suara pembangkit semangat Ramadan yang sesungguhnya. (*)

Berita ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : Di Arab Saudi, Bangunkan Sahur Adalah Pekerjaan dan Dibayar Uang

Editor: Novita
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved