Berita Belitung

Pemerintah Belitung Terkendala Regulasi Untuk Membangun Dermaga Apung di Pulau Lengkuas

Diantaranya yang dipergunakan oleh pemilik kapal, adalah memilih menggunakan sampan tanpa mesin dan ada pula yang menggunakan tutup fiber ikan.

Pemerintah Belitung Terkendala Regulasi Untuk Membangun Dermaga Apung di Pulau Lengkuas
Posbelitung.com/Disa Aryandi
Wisatawan, Selasa (11/6) menaiki tutup fiber berwarna kuning dari kapal pengangkut penumpang menuju bibir pantai Pulau lengkuas. 

POSBELITUNG.CO-- Sebagian kapal pembawa wisata, apabila menuju ke Pulau Lengkuas, Kabupaten Belitung terutama saat air laut surut harus memiliki alternatif lain hingga sampai ke bibir pantai. Diantaranya yang dipergunakan oleh pemilik kapal, adalah memilih menggunakan sampan tanpa mesin dan ada pula yang menggunakan tutup fiber ikan.

Tentunya dua alat itu, untuk mengantar penumpang dari posisi terakhir kapal penumpang ini bisa berlabuh. Selanjutnya wisatawan bisa menginjakan kaki ke pulau yang menjadi tempat favorit kunjungan wisatawan tersebut.

Pantauan posbelitung kemarin, masih ada satu unit sampan berwarna putih dan fiber yang dipergunakan oleh pemilik kapal wisata untuk mengantarkan penumpang ke bibir pantai Pulau Lengkuas. Namun jaraknya tidak begitu jauh, sekitar 100 meter dari bibir pantai tersebut.

Wisatawan, Selasa (11/6) menaiki tutup fiber berwarna kuning dari kapal pengangkut penumpang menuju bibir pantai Pulau lengkuas.
Wisatawan, Selasa (11/6) menaiki tutup fiber berwarna kuning dari kapal pengangkut penumpang menuju bibir pantai Pulau lengkuas. (Posbelitung.com/Disa Aryandi)

Kondisi air dari tempat kapal wisata itu berlabuh, paling dalam diperkirakan hanya sedada orang dewasa. Alternatif ini, menjadi satu-satunya pilihan wisatawan, agar bisa berada di pulau yang memiliki menara putih tersebut.

Bupati Belitung H Sahani Saleh (Sanem) dan pejabat lain sudah melihat kondisi tersebut secara langsung. Namun tidak semua kapal wisata menggunakan sampan dan tutup fiber sebagai alternatif menuju pesisir pantai.

Solusi nya, membuat dermaga apung untuk memudahkan wisatawan, sehingga tidak harus menggunakan sampan atau tutup fiber menuju ke tepi pantai disaat kondisi air laut sedang surut.

"Itu perlu diketahui bersama bahwa sudah sejak lama kami ingin membangun itu. Bahkan kami sudah pernah mendapat dana dari pusat untuk membangun dermaga apung, tapi ada regulasi yang memang tidak bisa dilanggar, berupa zonasi, dan itu menjadi kewenangan provinsi," ungkap Sanem kepada Posbelitung.co, Selasa (11/6/2019).

Kewenangan wilayah perairan laut, saat ini sudah berpindah ke Pemerintah Provinsi (Pemprov). Sedangkan untuk zonasi hingga sekarang tidak terbit, sehingga membuat pemerintah daerah mengalami kendala dan tidak bisa untuk membangun.

"Walaupun dana itu bantuan dari pusat, kami tidak bisa membangun, ini salah satu kendala nya. Mudah-mudahan zonasi ini selesai secapat mungkin, dan kami sudah menuntut ke pusat juga mudah-mudahan deskeresi kepada Bupati Belitung untuk pengelolaan pulau-pulau kecil dalam pengembangan pariwisata cepat selesai," bebernya.

Dengan demikian menurutnya dapat menjadi dasar agar pemerintah daerah bisa membangun dermaga apung. Namun untuk pembangunan dermaga apung ini, ditargetkan oleh pemerintah pada tahun 2020.

"Atau nanti 2021 itu sudah selesai, kita sudah menyiapkan anggaran, tapi terkendala regulasi tadi, karena kalau kami bangun, kami yang salah nanti," ungkap Sanem. (Posbelitung.co/Disa Aryandi)

Penulis: Disa Aryandi
Editor: nurhayati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved