Berita Belitung

BP4D Beltim Gelar Edukasi Pencegahan Stunting, Jadi Sorotan di Indonesia Capai 30 Persen

Ada hampir 30 persen kasus sutnting yang pasti ada faktor genetik, jadi waktu penanganan butuh sampai 2 atau 3 generasi.

BP4D Beltim Gelar Edukasi Pencegahan Stunting, Jadi Sorotan di Indonesia Capai 30 Persen
Pos Belitung/Suharli
Direktur singkronisasi urusan pemerintah daerah III, Kemendagri RI, Eduard Sigalingging (kanan baju batik) didampingi Kepala BP4D Beltim Bayu Priyambodo. Selasa (9/7/2019) 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG  - Kasus Stunting yang terjadi di Indonesia menjadi sorotan pemerintah pusat, Badan perencanaan pembangunan penelitian dan Pengembangan daerah (BP4D) Beltim melaksanakan

Konsolidasi dan Edukasi upaya pencegahan dan penanganan Stunting di Kabupaten Belitung Timur, bertempat di ruang pertemuan BP4D Beltim, Selasa (9/7/2019)

Direktur singkronisasi urusan pemerintah daerah III, Kemendagri RI, Eduard Sigalingging yang turut hadir damal kegiatan tersebut menuturkan setelah Presiden Jokowi menyentuh pembangunan manusia terdata lah di Indonesia ternyata ada 37,5 persen anak usia 1-5 tahun atau total sebanyak 9 juta anak terindikasi stunting.

"Stunting itu adalah suatu kondisi fisik anak yang lahir kerdil. Begitu ia terlahir kerdil maka berpengaruh pada organ tubuh yang lain, mungkin otak. Akibatnya nanti 30 tahun yang akan datang maka booming demografi Indonesia ternyata 9 juta menjadi generasi bangsa yang stunting," ujar Eduard kepada posbelitung.co disela kegiatan, Selasa (9/7/2019)

Menurutnya pemerintah menangani masalah stunting ini dengan secara komprehensif karena persoalan ini bukan hanya pelayanan kesehatan tapi dipersoalan sektor lain.

"Seperti sanitasi yang tidak bagus, air minum yang tidak bagus, ini penyebab-penyebab salah satu stunting. lingkungan yang tidak sehat, termasuk pola hidup, pola makan, ini yang perlu dirubah" ucapnya.

Dia juga mengatakan untuk penanganan secara tematik, holistik, integratik dan spasial. Maka persoalan stunting tadi harus ada di Dinas Perikanan, misalnya ada tidak pencanangan gemar makan ikan, ada perbaikan sanitasi air minum termasuk jamban-jamban Ini tentu akan berpengaruh pada lingkungan.

Eduart memaparkan ada hampir 30 persen kasus stunting yang pasti ada faktor genetik, jadi waktu penanganan butuh sampai 2 atau 3 generasi.

"Jepang itu 80 tahun, dulu terkenal kecil-kecil dan ternyata sekarang sudah jauh diatas rata-rata mencapai 170cm," ujar Eduart.

Dia menjelaskan ada intervensi gizi spesifik yang melibatkan pihak kementerian.

"Saat ini ada lokus di 160 kota yang masih tinggi dan nantinya seribu desa ada intervensi kementerian. Ada juga PP nomor 2 tahun 2018 tentang standar pelayanan Minimal (SPM). Itu ada 5 layanan di sektor kesehatan seperti menjaga ibu hamil, bayi lahir sampai bertumbuh, ada 5 layanan yang berkaitan langsung dengan stunting," bebernya.

(Pos Belitung/Suharli)

Penulis: Suharli
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved