VIDEO : Kerajinan Berbahan Dasar Buah Bulin Khas Belitung, Awalnya dari Menjaga Bukit Peramun

Mulai dari 2008 hingga sekarang kerajinan buah bulin pun terus dibuat hingga kini sudah puluhan model mampu dibuat.

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Diawali menjaga Bukit Peramun pada 2006 silam membuat para anggota HKm Arsel Community ini terpikir membuat kerajinan buah bulin.

Apalagi buah yang sebenarnya bisa dimanfaatkan buat pengobatan ini juga jarang dimanfaatkan.

Kekurangan biaya operasional menjaga Bukit Peramun hingga terinspirasi dari pengolahan tempurung kelapa yang memang bertekstur keras, sama halnya dengan buah bulin, membuat Nurdin, Fathil, dan Adong menyulapnya menjadi kerajinan bernilai seni.

"Hasil penjualan pun selalu kami bagi, 25 persen buat biaya operasional di Bukit Peramun dan 75 persennya untuk si pembuat serta biaya operasional pembuatan kerajinan," kata Nurdin, Kamis (11/5/2019).

Mulai dari 2008 hingga sekarang kerajinan buah bulin pun terus dibuat hingga kini sudah puluhan model mampu dibuat.

Sumber ide pembuatan pun sebenarnya beragam, mulai dari pikiran, bahkan juga hanya melihat gambar dua dimensi dari pencarian internet lalu mengubahnya menjadi tiga dimensi.

Waktu membuat pun disesuaikan dari tingkat kerumitan. Misalnya saja asbak rokok sederhana bisa diselesaikan tak sampai 15 menit. Namun bentuk rumit seperti naga memerlukan waktu sampai tiga pekan.

Diakui Adong, proses finishing masih dirasa cukup sulit. Maka dari itu menurutnya hasil yang dibuat pun belum terlihat seperti ukiran.

Hasil dari kerajinan yang dibuat pun pernah dibawa ke berbagai daerah seperti Medan, Yogyakarta, Bali, juga Gersik. Harga yang dipatok pun beragam mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 5 juta bergantung tingkat kesulitan pembuatannya.

Kerajinan pun tak selalu ada, karena biasanya hanya dibuat berdasarkan pesanan saja. Makanya bentuk kerajinan pun bisa memesan sesuai keinginan.

Meskipun memanfaatkan buah bulin sebagai bahan utama, tapi upaya kelestarian pun tetap berlangsung. Makanya, buah bulin yang diambil di hutan Bukit Peramun pun tak sembarangan. Karena ada pula buah yang dimanfaatkan sebagai pembibitan.(Pos Belitung/Adelina Nurmalitasari)

Penulis: Adelina Nurmalitasari
Editor: fitriadi
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved