Breaking News:

Berita Eksklusif

Geosite Geopark Belitong di Belitung Timur Terdampak Kemarau, Sungai Purba Jadi Padang Tandus

Satu di antara geosite prioritas yang terkenal akan sungai purba tersebut sejak awal Juli 2019 lalu mengalami kekeringan dahysat

Editor: Jaryanto
POS BELITUNG/SUHARLI
Kondisi objek wisata Tebat Rasau, Desa Lintang, Kecamatan Simpang Renggiang, Kabupaten Belitung Timur kering kerontang, Selasa (23/7/2019). 

"Kalau siro biasanya untuk menangkap ikan-ikan besar kalau yang kecil pasti lolos karena kan jaringannya besar. Kami juga tetap bijak untuk mengambil produksi alam kami tidak ingin dikatakan rakus yang kecil tetap lolos tapi hanya ambil ikan besar saja," kata Nasidi.

Nasidi mengatakan setidaknya ada puluhan nelayan sungai yang mengandalkan tangkapan ikan dari seputaran Tebat Rasau.

Pondok peristirahatan untuk wisatawan di Tebat Rasau.
Pondok peristirahatan untuk wisatawan di Tebat Rasau. (Dok.Disbudpar Belitung Timur)

Nasidi mengungkapkan walaupun kemarau berlangsung berminggu-minggu, dulunya air Sungai Lenggang di Tebat Rasau tetap melimpah. Namun sejak Bendungan Pice dibuka beberapa minggu lalu, air di Tebat Rasau pun menyusut dan saat ini menjadi kering kerontang.

Bak buah simalakama. Menurut Nasidi, ketika Bedungan Pice tidak dibuka, masyarakat Kecamatan Gantung yang mengandalkan air PDAM mengeluh karena air yang dialirkan keruh. Sementara di sisi lain, ketika bendungan tersebut dibuka saat musim panas, maka daerah Tebat Rasau akan mengalami kekeringan.

Nasidi berharap pihak-pihak terkait peduli dan memperhatikan agar geosite Tebat Rasau ini bisa kembali digenangi air meskipun pada saat kemarau panjang.

Bukan faktor alam

Ketua Tarsius Center Indonesia (TCI), Budi Setiawan mengatakan kekeringan ekstrim yang terjadi di kawasan Tebat Rasau, Sungai Lenggang, Kecamatan Gantung, Kabupaten Beltim ini bukan karena faktor alam, melaikan akibat pengaruh aktivitas tambang inkonvensional.

"Ini adalah aktivitas dari penambangan yang ada di badan sungai yang dibiarkan dan kemudian mencemari air tersebut. Kemudian air limbah tambang itu hanyut ke bawah ketika bendungan air tersebut ditutup dan air menjadi kental. Akhirnya masuk lah ke sumber air baku PDAM," kata Budi dalam pesan WhatsApp, Selasa (23/7/2019).

Ia menjelaskan ketika Asesor UGG datang beberapa waktu lalu, kawasan ini masih digenangi air. Pada waktu itu pintu air di Bendungan Pice ditutup.

Hanya saja agar lumpur dan pasir dari aktivitas penambangan cepat keluar maka pintu bendungan terpaksa dibuka. Namun kondisi ini menyebabkan debit air di Tebat Rasau menjadi berkurang.

Halaman
1234
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved