Berita Belitung

Tebat Rasau Punya Teh Pelawan, Khasitnya Bisa Memperlancar Pencernaan dan Kurangi Kolesterol

Dinamakan teh pelawan karena memang terbuat dari daun pelawan, sedangkan bahan baku diperoleh dari hutan krangas yang ada disekitar tempat

Tebat Rasau Punya Teh Pelawan, Khasitnya Bisa Memperlancar Pencernaan dan Kurangi Kolesterol
Posbelitung/Suharli
Teh pelawan yang sudah disedu, dan bubuk teh pelawan. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Tempat Wisata Tebat Rasau selain sebagai objek wisata berbasis alam juga menyajikan minuman khas hasil ekperimen Kelompok sadar wisata (Porkdarwis) Lanun yang mengelola Tebat Rasau.

Hasil ekperimen tersebut dinamakan teh pelawan, Ketua Pokdarwis Lanun, Nasidi mengatakan awal mulanya ide mengambil daun pelawan karena melihat lebah yang menghasilkan madu pelawan.

"Karena lebah menghisap bunga daun pelawan ini bisa mengahasilkan madu berkasiat tinggi. Jadi kami berpikir Kalau menunggu madu setahun sekali untungan-untungan dapat madu pelawan, muncul lah ide untuk kita bikin teh sapa tau ada khasiatnya," ujar Nasidi.

Rasa teh pelawan agak kesat, dan warnanya seperti teh pada umumnya.

Menurut Nasidi dinamakan teh pelawan karena memang terbuat dari daun pelawan, sedangkan bahan baku sendiri diperoleh dari hutan krangas yang ada disekitar tempat wisata Tebat Rasau.

"Karena pohon pelawan banyak tumbuhnya di hutan Krangas, kami namakan teh pelawan karena ada tumbuhan pelawan yang ada di hutan Kerangas sekitar Tebat Rasau," ujarnya

Ia mengatakan Teh pelawan awalnya dibuat sekitar satu setengah tahun lalu, tapi dari masa pembutan sampai dengan mulai diperjualkan baru sekitar 7 bulan belakangan ini.

Ketua Pokdarwis Lanun, Nasidi saat menunjukan daun pelawan yang dapat dijadikan teh pelawan. Kamis (8/8/2019)
Ketua Pokdarwis Lanun, Nasidi saat menunjukan daun pelawan yang dapat dijadikan teh pelawan. Kamis (8/8/2019) (posbelitung.co/Suharli)

"Hampir setahun kami coba ini, berancun atau tidak. Terus kami nilai ada gak kasiatnya ternyata ada, yang pasti kalau minum ini susah BAB dapat jadi lancar kalau masuk angin badan juga jadi nyaman, mengurangi koleterol, waktu bagusnya setelah kita makan," ucapnya.

Produksi teh pelawan Tebat Rasau dikerjakan oleh satu diantara anggota pengelola geosite yakni Pino. Nasidi mengatakan proses-proses peracikan teh pelawan membutuhkan waktu sekitar satu bulanan. Daun pelawan pun harus melalui proses penjemuran, daun tersebut dijemur namun tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung.

"Karena belum mampu membuat tempat kusus untuk teh pelawan. Berhubung dia (pino) menyanggupi mengelola ini (teh pelawan) kami serahkan kedia," ujarnya.

Dia pun mengaku pemasaran teh pelawan disajikan bagi wisatawan yang berkunjung sebagai minuman andalan di Tebat Rasau.

"Memang ada kadang wisatawan yang datang mau membeli untuk dibawa pulang. Kami ada juga siapkan yang bentuk saset, namun saat ini kami juga sedang berusaha mengurus legalitasnya," ujarnya.

"Per gelas kami jual Rp 5.000, per saset kami jual Rp 10.000. Satu set itu bisa 10 gelas karena nyedu sendiri kami jual lebih murah. Proses penyeduannya sama dengan teh biasa, bisa juga disedu seperti teh tubruk," sambungnya.

Dia juga mengatakan tak lama lagi pada acara yang diselenggarakan oleh Disbudpar yakni jelajah pesona jalur rempah Belitung Timur, komunitas Tebat Rasau pun diminta untuk menyiapkan 1.001 gelas teh pelawan.

"Sebentar lagi akan ada 1.001 teh pelawan, kawan-kawan juga sudah menyiapkan bahannya, kemarin butuh waktu tiga hari mengumpulkan daun pelawannya," bebernya.

(posbelitung.co/Suharli)

Penulis: Suharli
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved