Bupati Serahkan Dokumen Kependudukan ke Warga Balitung

kegiatan pelayanan keliling yang dilaksanakan secara terpadu tersebut, mereka menerbitkan 36 Akte Perkawinan Non Muslim, 146 Kartu Identitas Anak

Bupati Serahkan Dokumen Kependudukan ke Warga Balitung
ist/Bupati Serahkan Dokumen Kependudukan ke Warga Balitung
DALAM rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Belitung melakukan kegiatan pelayanan keliling dilaksanakan secara terpadu ke Dusun Balitung, Desa Pelepak Pute, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung yang dilaksanakan pada 15 Agustus 2019 kemarin. 

DALAM rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Belitung melakukan kegiatan pelayanan keliling dilaksanakan secara terpadu ke Dusun Balitung, Desa Pelepak Pute, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung yang dilaksanakan pada 15 Agustus 2019 kemarin.

Dalam kegiatan pelayanan keliling yang dilaksanakan secara terpadu tersebut, mereka menerbitkan 36 Akte Perkawinan Non Muslim, 146 Kartu Identitas Anak (KIA), 36 Akte Kelahiran untuk anak usia di atas satu tahun, pemuktahiran data enam kartu keluarga (KK).

Plt Kepala Dinas Dukcapil, Mustopa mengatakan, pihaknya menurunkan satu timterdiri dari sembilan orang untuk kegiatan pelayanan keliling secara terpadu untuk mendata masyarakat Dusun Balitung. “Alhamdulillah kami datang mendata masyarakat dan saudara-saudara kita yang beragama Hindu di Dusun Balitung, acaranya sehari,“ kata Mustopa, Kamis (29/8).

Sebagian dokumen kependudukan tersebut diserahkan Bupati Belitung, H Sahani Saleh kepada warga Dusun Balitung secara simbolis disela kegiatan karnaval kemerdekaan, Rabu (28/8/2019). Hadir mendampingi bupati, Wakil Bupati Belitung, Isyak Meirobie, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Belitung, H MZ Hendra Caya dan Plt Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Belitung, Mustopa.
Dalam kesempatan itu Bupati juga menyerahkan tiga dokumen (three in one) kepada empat bayi yang lahir pada tanggal 17 Agustus 2019. Pelayanan kepada empat bayi ini pelayanan terintegrasi three in one (3 in 1), artinya empat bayi tersebut dapat akte kelahiran, kartu identitas anak dan pemuktahiran kartu keluarga.

Mustopa menyebutkan Dinas Dukcapil harus melakukan sistem jemput bola. Ia menjelaskan bahwa Dinas Dukcapil selaku pembantu bupati dalam urusan administrasi kependudukan berusaha semaksimal mungkin agar masyarakat lebih mudah dan cepat untuk mendapatkan dokumen kependudukan dengan tujuan membahagiakan masyarakat.

Lanjutnya, untuk tujuan itu saat ini dikembangkan sebuah kegiatan dalam bentuk jemput bola. Untuk mengembangkan kegiatan itu, Dinas Dukcapil berkoordinasi dengan desa. Bersama desa, Dinas Dukcapil memberikan pelayanan pengurusan dokumen kependudukan, seperti akte kelahiran, pemutahiran kartu keluarga, kartu identitas anak dan perekaman E-KTP.

“Sedangkan desanya mengumpulkan masyarakat, lalu dibuat jadwal untuk masyarakat yang mau membuat atau pembaharuan dokumen kependudukan. Desa dituntut untuk membuat kegiatan, dimana dalam kegiatan itu memberikan informasi kepada warga terkait adminstrasi kependudukan. Kegiatan apa saja yang harus di lakukan oleh desa? Mereka harus datang ke dinas yang ada di Kabupaten Belitung, agar dinas ke desa untuk membuat semacam acara,” katanya.

Lanjutnya, contohnya Dinas Dukcapil turun ke desa dalam rangka pemberdayaan masyarakat, untuk membuat dan memperbaharui dokumen kependudukan. Tetapi untuk frekuensi masyarakatnya tidak sebanyak saat sistem jemput bola atau sistem pelayanan keliling.

“Sedangkan untuk program inovasi jemput bola seperti pantas (pelayanan antar jemput prioritas), program itu kita tujukan kepada manula. Program Laskar Pelinge, merupakan program jemput bola yang sudah dilaksanakan secara nasional,” katanya.
Namun program jemput bola di setiap daerah dikaitkan dengan muatan lokal. Kenapa harus jemput bola? Ia beralasan karena pemerintah harus lebih berperan aktif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, untuk mendapatkan dokumen kependudukan secara mudah dan cepat.

Mustopa mengatakan, pelayanan keliling atau jemput bola harus terus dijalankan, karena sistem pelayanan keliling atau jemput bola ini memang senjata paling ampuh untuk memberikan pelayanan terbaik dan termudah bagi masyarakat.

“Memang untuk jadwalnya tidak tentu, seminggu bisa dua kali, kadang seminggu sekali dan jadwalnya kami kirim ke desa-desa,” kata Mustopa.

Mustopa menyebut, untuk sistem jemput bola atau pelayanan keliling pembuatan dokumen administrasi kepedudukan ada dua cara. Partama permintaan dari bawah dan kedua memang diprogramkan dari Dinas Dukcapil sendiri.

“Tetapi yang lebih banyak frekuensi masyarakatnya yang datang untuk membuat dokumen atau memperbarunya kependudukan itu dari program Dinas Dukcapil,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, kalau permintaan dari bawah, artinya pihak desa meminta kapada Dinas Dukcapil untuk melaksanakan pemberdayaan pada warga desa dalam membuat dan memperbarui dokumen kependudukan mereka.

Disamping itu ada jemput bola yang bersifat personal, yaitu program inovasi Pantas (Pelayanan Antar Jemput Prioritas), program itu Dinas Dukcapil ditujukan kepada orang-orang manula, dan lainnya. (adv/r6)

Editor: Evan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved